26.9 C
Jakarta
Wednesday, May 18, 2022

Lola Amaria Gelar Roadshow  Film Pesantren di Pulau Jawa

- Advertisement -
- Advertisement -

Yayasan Bumi Kaya Lestari bekerjasama dengan Lola Amaria Production dan Shalahuddin Siregar (sutradara dan produser Film Pesantren) didukung PT. Telkom Indonesia dan Telkomsel, selama bulan Ramadhan 2022  akan melakukan putar film di 10 pesantren di Pulau Jawa.

Pemutaran film ini akan menjadi kegiatan pertama di Indonesia,  yang akan membawa sebuah film keliling pesantren selama buLan Ramadhan dan akan disaksikan oleh ribuan santri.

Kegiatan ini, menurut Lola Amaria  bertujuan “untuk menjadikan film sebagai bagian dari sistem pembelajaran, menggali potensi kreatif di kalangan santri dan memperkuat pandangan pesantren sebagai tempat bersemainya nilai-nilai keislaman yang penuh damai dan kasih sayang!”ungkap Lola.

Pemutaran film akan dilaksanakan dalam bentuk ‘Nonton Bareng’ dilanjutkan dengan diskusi atau ngobrol santai dengan para nara sumber

Mengapa Pesantren?

- Advertisement -

Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki lebih dari 25.000 Pondok Pesantren yang menjadi rumah dan sekolah bagi sekitar 4 juta santri.

Di pesantren para santri dididik untuk berpikir mandiri dan kritis dalam menafsirkan ayat-ayat suci dan pengetahuan modem yang sejalan dengan ajaran Islam.

“Pesantren adalah salah satu institusi pendidikan tertua di Indonesia yang menjunjung keberagaman dan toleransi di Indonesia dengan senantiasa mengedepankan dan mengajarkan kedamaian,”ujar Lola lagi.

Film Pesantren

Berlokasi di Pesantren Kebon Jambu di Cirebon dengan 1800 santri, Film Pesantren bercerita tentang dua guru dan  dua santri.

Berbeda dengan pesantren kebanyakan, pesantren ini diasuh oleh seorang perempuan ‘alimah bemama Ibu Nyai Masriyah Amva. yang mempraktekkan ajaran-ajaran agama dengan pendekatan yang santai dan damai.

Melalui film ini penonton disuguhkan hal- hal yang sering dipertentangkan dalam masyarakat; keberagaman, hak asasi manusia, kepemimpinan perempuan, musik dan perlunya humor dalam menyebarkan ajaran Islam.

Sejak islamofobia menjadi sentimen global, pandangan negatif tentang pesantren ikut menyebar tuas. Pesantren dipandang sebagai tempat subur tumbuhnya bibit radikalisme, terorisme, fanatisme agama,dan intoleransi.

Baca Juga :  Setelah Direstorasi, Tjoet Nyak Dhien Bangkit Lagi di Bioskop Jakarta

Bahkan belakangan kita mendengar berita tentang kasus pelecehan dan kekerasan seksual yang dilakukan oknum pengajar terhadap santri di pesantren ikut mencoreng citra baik pesantren

“Film ini akan menceritakan sebaliknya, dimana pesantren justru tempat kita mengajarkan anak-anak membuka pikiran terhadap perkembangan zaman, kemajuan teknologi, namun sekaligus meneguhkan keyakinan terhadap kebenaran agama!”ungkap Lola

Film ini sudah diputar pertama kali untuk publik di IDFA (International Documentary Film Festival) di Amsterdam pada November 2019.

IDFA adalah festival film dokumenter terbesar dan paling bergensi di dunia. Film ini disambut dengan antusias, terbukti dengan tiket yang terjual habis untuk dua pemutaran pertama.

Film ini juga akan diputar serentak di bioskop XXI mulai tanggal 26 Mei 2022 di kota-kota besar dengan layar terbatas.

Sarah Dawson, Juru Program IDFA mengatakan “Kita bisa belajar banyak dari guru-guru maupun pelajar dalam film ini, apapun kepercayaan atau identitas kita. Buat saya sendiri, film ini membuat saya merasa lebih punya harapan tentang dunia.”

Sementara itu Savic Ali, Ketua PBNU, setelah menonton mengatakan , “Film ini berhasil menjungkirbalikkan stigma negatif yang melekat pada Pesantren”.

Shalahuddin Siregar, Sutradara dan Produser, mengatakan, ia membuat film ini karena terganggu dengan stigma negatif yang diberikan pada Pesantren sebagai tempat yang kolot dan tidak berkembang, bahkan tempat  teroris diajarkan.

Dia membuat film ini untuk publik agar mengenal lebih dalam mengenai kehidupan di dalam Pesantren berjalan sehari-hari. Shalahuddin, yang disapa Udin,  adalah seorang sineas muda yang banyak berkecimpung dalam kegiatan-kegiatan sosial dan menekuni pembuatan film dokumenter.

“Film dokumenter lebih bisa menggambarkan kehidupan sosial kemasyarakatan lebih realistik tanpa banyak visual artifisial yang kadang menipu penonton! kata Udin.

Film Pesantren pada akhirnya membawa  ke Festival Film Dokumenter kelas dunia di Amsterdam dan melahirkan banyak pujian. XPOSEINDONESIA Foto : Dok.

film jadi bagian dari sistem pembelajaran
film jadi bagian dari sistem pembelajaran
film pesantren akan roadshow selama ramadhan
film pesantren akan roadshow selama ramadhan
pesantren sebagai tempat bersemainya nilai nilai keislaman yang penuh damai dan kasih sayang
pesantren sebagai tempat bersemainya nilai nilai keislaman yang penuh damai dan kasih sayang
pesantren
pesantren
- Advertisement -

Latest news

- Advertisement -

Related news

- Advertisement -