Industri perfilman Indonesia kembali menghadirkan tontonan keluarga yang tidak hanya menghibur, tetapi juga membawa pesan sosial yang kuat. Melalui film “MAJU: Jejak Pahit si Kembang Gula”, rumah produksi PANEN Entertainment mengajak penonton mengikuti petualangan seru empat sahabat yang dibalut misteri sekaligus mengangkat isu penting mengenai bahaya narkotika bagi generasi muda.
Film yang dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia pada 6 Agustus 2026 ini mengusung genre aksi petualangan remaja dengan pendekatan yang ramah untuk seluruh anggota keluarga. Tak hanya menawarkan ketegangan dan kisah persahabatan, film ini juga menyisipkan nilai-nilai pendidikan karakter yang relevan dengan tantangan yang dihadapi anak-anak Indonesia saat ini.
Kisah “MAJU: Jejak Pahit si Kembang Gula” berpusat pada empat sahabat karib, yakni Kirana, Hanna, Gerald, dan Bagas, yang melakukan perjalanan untuk survei lokasi kegiatan jambore bersama guru mereka, Pak Wira.
Perjalanan yang awalnya berlangsung penuh semangat berubah menjadi misteri ketika Bagas tiba-tiba menghilang sesaat setelah mereka tiba di desa lokasi perkemahan. Satu-satunya petunjuk yang ditemukan hanyalah potongan kembang gula kesukaan Bagas.
Berbekal petunjuk tersebut, ketiga sahabatnya berusaha menelusuri jejak yang ditinggalkan sambil menghadapi berbagai tantangan dan kejadian tak terduga. Pencarian itu membawa mereka pada petualangan yang tidak hanya menguji keberanian, tetapi juga mengajarkan pentingnya persahabatan, kepedulian, keberanian mengambil keputusan, hingga kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi masalah.
Film ini dibintangi oleh sejumlah aktor dan aktris lintas generasi seperti Bukie Mansyur, Sarah Sechan, Unang Bagito, Princesza Leticia, Bebe Gracia, Axandro J. ED, Aradhana Rahadi, Alby Ersani, serta sederet talenta muda berbakat asal Yogyakarta.
Seluruh proses pengambilan gambar dilakukan di Yogyakarta dengan memanfaatkan keindahan alam dan budaya lokal sebagai latar utama cerita. Menariknya, para pemeran anak dalam film ini juga turut mengisi soundtrack resmi yang menjadi bagian dari album original motion picture soundtrack “MAJU”.
Tidak hanya mengangkat kisah petualangan, film garapan sutradara Franklin Darmadi ini juga menyuarakan pesan penting mengenai ancaman narkotika yang kini semakin dekat dengan kehidupan anak-anak dan remaja.
Pesan tersebut menjadi salah satu alasan film ini mendapatkan dukungan penuh dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) serta Badan Narkotika Nasional (BNN).
Dalam special screening dan konferensi pers yang digelar di XXI Metropole Jakarta pada Senin (15/6/2026), pihak PANEN Entertainment menjelaskan bahwa film ini dibuat sebagai bagian dari upaya membangun karakter generasi muda melalui media yang dekat dengan masyarakat.
Selain mengangkat isu bahaya narkotika, film ini juga menyoroti pentingnya peran keluarga, guru, inklusi sosial, semangat anti-perundungan, serta kemampuan berpikir kritis sebagai bekal menuju Generasi Indonesia Emas 2045.
Deputi Bidang Pencegahan BNN, Irjen Pol. Muhammad Zainul Muttaqien, menyampaikan bahwa film “MAJU” memiliki visi yang sejalan dengan program pencegahan penyalahgunaan narkotika yang selama ini dijalankan BNN.
Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tahun 2023, terdapat sekitar 3,3 juta masyarakat Indonesia yang terpapar narkoba. Dari jumlah tersebut, sebanyak 312 ribu orang berasal dari kelompok usia 15 hingga 25 tahun.
“Berdasarkan data BRIN tahun 2023, ada 3,3 juta jiwa terpapar narkoba. Dari jumlah itu, sekitar 312.000 orang berada pada rentang usia 15 sampai 25 tahun atau sekitar 9,5 persen,” ujar Zainul.
Menurutnya, angka tersebut menjadi peringatan bahwa ancaman narkotika terhadap generasi muda tidak bisa dianggap remeh.
“Lewat film ini kami berharap masyarakat semakin sadar dan tidak ada lagi anak-anak Indonesia yang menjadi korban ataupun terpapar narkotika,” katanya.
Dukungan terhadap film ini juga datang dari aktris dan presenter Sarah Sechan, yang turut ambil bagian sebagai salah satu pemain.
Dalam film tersebut, Sarah memerankan karakter seorang kepala desa yang memiliki sisi misterius dan menjadi bagian penting dalam alur cerita.
“Aku di sini jadi ibu kades. Seperti apa dia? Pokoknya karakternya misterius dan tidak mudah ditebak,” ujar Sarah.
Sarah mengaku tertarik bergabung dalam proyek ini karena menyukai cerita yang diangkat sekaligus melihat pentingnya pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat.
Menurutnya, kondisi peredaran narkotika saat ini sangat memprihatinkan karena telah menyasar anak-anak usia muda.
“Jujur ngeri sih melihat peredaran narkotika sekarang. Anak-anak sudah menjadi korban,” ungkapnya.
Sebagai orang tua, Sarah mengaku selalu berusaha mengarahkan anaknya pada aktivitas positif agar terhindar dari berbagai pengaruh negatif.
“Kalau aku berusaha membuat anak sibuk untuk berolahraga,” katanya.
Ia berharap film ini dapat menjadi sarana edukasi yang efektif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya narkotika.
“Semoga lewat film ini peredaran narkotika yang membuat orang dewasa maupun anak-anak menjadi korban bisa semakin ditekan dan diberantas,” tuturnya.
Sebelum tayang di Indonesia, “MAJU: Jejak Pahit si Kembang Gula” juga telah memperoleh apresiasi dari berbagai festival film internasional. Film ini berhasil meraih penghargaan Best Feature Film pada Moscow International Children’s Film Festival.
Selain itu, film ini juga terpilih sebagai Official Nominee di Canada International Children’s Film Festival serta menjadi Official Selection di Macau International Children’s Film Festival dan Within The Family International Festival of Family and Children Films.
Berbekal cerita yang kuat, pesan edukatif yang relevan, serta dukungan dari berbagai pihak, “MAJU: Jejak Pahit si Kembang Gula” diharapkan menjadi salah satu film keluarga Indonesia yang mampu memberikan hiburan sekaligus inspirasi bagi anak-anak, remaja, dan orang tua. XPOSEINDONESIA/IHSAN


