Catat saja nama acaranya, Jakarta Fusion Jazz Festival 2026 (JFJF 2026). Unik dan Istimewa, bukan? Sebuah pilihan nama unik dan lumayan menggoda kan ya? Setuju?
Dan publikpun berduyun-duyun datang, dari mana-mana. Rela antri tiket segala. Begitu datang, lantas menyerbu hall. Dan selanjutnya adalah… bercengkrama, bersendagurau. Ya so pasti juga menyanyi-nyanyi dan bergoyang!
Pada akhirnya menjadi juga ajang silaturahmi. Silaturahmi bersuasana nostalgia tentunya. Ah macam “Lebaran” sajalah? Memang sungguh menjadi sebuah keramaian festival yang terkesan lumayan seru sebenarnya.
Itulah yang terjadi pada akhir pekan silam. 19 dan 20 Juni 2026 bertempat di Deheng House, di kawasan Taman Kemang, Jakarta Selatan. Tempat yang sebenarnya terbilang baru, sebagai spot pertunjukkan musik bagus dan sehat dan perlu. Dan begitulah, gosipnya sih mulai disebut sebagai venue yang punya magnet tersendiri.
Mulai dari 1980an
JFJF 2026 memang diadakan 2 malam berturut-turut. Isinya memang bak etalase musik-musik fusion yang dikenal luas, disukai sejak lama, populer dari puluhan tahun silam. Jadi pilihannya kali ini, para performers yang sukses di era 1980-an. Dan masih terbilang eksis hingga sekarang.
Komplit dong karena mulai dari KRAKATAU dan EMERALD BEX pada malam pertama. Ditambah penampilan spesial wakil dari Spirit Band, Eramono Soekaryo, Didiek SSS dan vokalisnya, Kemala Ayu. Lalu ada Vonny Sumlang dan AS. Mates, mewakili Bhaskara. Dan ada Mus Mujiono, Yance Manusama dan Ekka Bhakti memainkan lagu Christ Kayhatu dan Glenn Fredly di era 80-90an awal.



Penampilan bintang tamu Istimewa itu didukung grup band yang senantiasa keren abis dalam mengiringi “siapapun penyanyinya, apapun musiknya”, AUDIENSI Band. Dan Audiensi ini yang dikomandoi Teffy Mayne dan Syarif beserta kawan-kawan, tampil juga di malam kedua, khusus memainkan lagu-lagu kelompok fusion jazz ternama 80-an Jepang, Casiopea.
Untuk malam kedua ada bintang utama, KARIMATA. Dan selain Audiensi plays Casiopea, juga muncul kelompok musik yang ternyata tak kalah keren, T.42. Mereka menspesialisasikan diri sebagai grup totally tribute to Level 42.
Ada pula beberapa performers lainnya. Yang mana, mereka tampil di stage berbeda. Jadi gini, gambarannya ya bahwa Deheng Gouse terdiri dari 4 lantai. Lantai pertama hanya oriental restaurant, tak ada panggung. Lantai kedua adalah Kofi&Ti, semacam coffe shop & resto, ada stagenya. Di lantai 3 adalah Dejazzlounge. Sebuah executive lounge dengan kapasitas seats terbatas, dan ada juga panggungnya.
Lantai 4 itu adalah hall, dengan panggung besar dan kalau theatre-style berkapasitas 300-an orang. Masih ada lantai 5 atau rooftop, di situ ada beberapa kamar yang disewakan. Atau disediakan untuk special talent yang tampil.
Mini Festival di Taman Kemang
Kemarin itu di kedua stage lain, di luar main-hall, tampil bergantian beberapa band. Ada duo Agam Hamzah & Ade Irawan, Canizaro dan Yoesrie Madjid – Lisa and Friends of Dehills, mereka bermain di lantai 3. Lalu ada Ricky Poetiray and Friends dan Candi Luntungan & Co, di lantai 3. Itu untuk acara di Jumat malam. Sementara di Sabtu malam, ada Yoesrie Madjid – Lisa & Friends of Dehills dan Cendi & Co, hanya di lantai 3.
So formatnya memang semacam mini-festival. Dan rata-rata memainkan tema musik yang based on fusion jazz, walau juga berakentuasi pop yang kental. Atau ada aroma musik-musik lain, bahkan hingga blues dan disco .
Menarik memang melihat keberanian Deheng Musik Cipta, sebagai penyelenggara, memakai judul Fusion Jazz Festival. Tentu terasa lebih tajam dalam pilihan musik. Tapi relatif lebih aman jadinya, tidak hanya “membatasi” dengan “Jazz” saja. Pilihan pada “fusion jazz”, mungkin lebih tepat jadi lebih leluasa dalam menampilkan band yang beragam.
Itu yang dikemukakan Hendra Sinadia dari Deheng Musik Cipta. Yang juga mengatakan, bahwa ini kali adalah festival yang sebenarnya “Volume 1”. Akan diikuti oleh Volume 2, 3 dan seterusnya nanti. Dan tidak tertutup kemungkinan, menjadi event festival yang bisa 2 atau 3 kali diadakan dalam setahun.
“Maka untuk edisi Volume 1 ini terkesan terbatas yang 80-an. Nah nanti pada edisi berikut, bisa jadi melebar pengisi acaranya. Tapi kami berusaha memang mencoba strict pada konsep, memilih hati-hati para performers yang akan ditampilkan. Pokoknya tetap pada dasarnya, fusion jazz ya. Mungkin di dalamnya bisa apa yang disebut jazzy tunes, adult contemporary. Termasuk jazz rock, acid jazz juga. Jazz pop apalagi, ya mungkin saja”.
Sementara Lexi M. Budiman, sebagai owner dari Deheng House dan Deheng Musik Cipta, menyetujui sepenuhnya rancangan acara Jakarta Fusion Jazz Festival ini. Yang kelak diharapkan menjadi kalender acara tetap, dan sekaligus salah satu acara andalan Deheng House. Semoga akan terus memperoleh respon positif publik.
Seperti yang terjadi pada penyelenggaraan edisi pertama kemarin itu. Penonton memang lumayan padat, baik di hari pertama dan hari kedua. Antusiasme publik terasa lumayan hangat. Dan ternyata menyelip juga penonton-penonton muda, kisaran usia milenial sampai zilenial. “Bagus, jadi ada regenerasi pada penontonnya. Mungkin jadi bukti, anak-anak sekarang juga mengkonsumsi musik-musik yang mungkin didengar dan disukai orang tuanya terlebih dahulu. Kan memang musik itu sendiri semacam berevolusi,”tambah Lexi Budiman.
Menyambung dari ucapan Lexi Budiman, memang generasi sekarang sebagian ternyata memberi respon sangat positif dari warna-warna “baru”. Citypop misalnya, yang sebenarnya bisa dibilang turunan dari warna musik adult contemporary atau jazzy tunes di 1980-1990an. Citypop diawali dengan nama-nama musisi dan penyanyi Jepang, yang membawakan lagu-lagu bertema “jazzy”.
Kemudian juga diikuti oleh pemunculan talenta-talenta muda musisi, juga penyanyi baru di sini. Yang sebagian besar juga terasa betul menyukai warna fusion jazz. Tentu saja, dengan interpretasi mereka masing-masing, dengan menyerap beragam warna musik lainnya.
Pada penampilan di festival fusion jazz ini, grup band yang diundang, terkesan “mematuhi” akan konsep dasar acara. Tak heran, yang mereka suguhkan adalah musik yang bisa disebut, fusion jazz “tulen”.
Journey to Sabang Street, Natsepa sampai Gemilang
Emerald BEX misalnya, menyodorkan hits mereka yang kental betul warna fusion jazznya. Yang di sisi lain, kerapkali disebut jazz rock. Mereka membuka penampilannya dengan karya berjudul, “Jakarta”, disusul “Journey to Sabang Street”.Lalu “Natsepa”. Kemudian mereka memanggil guest-vocalist tetapnya, Dudy Oris.
Dudy Oris membawakan, “Satu Lagi”, “Hanya Angan” dan “Pasti Dapat” yang beraksentuasi ballad. Kemudian menyelipkan “Meet at Peacock”. Ditutup “Karapan Sapi”. Penonton memberi respon positif atas penampilan enerjik keempat Emerald BEX.
Emerald BEX pada kesempatan tersebut tampil tetap dengan formasi 4-pieces band dengan Roedyanto Wasito (bassist), Morgan Sigarlaki (guitarist). Lalu Iwang Noorsaid (kibordis) dan Yandi Andaputra (drummer).
Setelah Emerald BEX, tampillah para bintang tamu spesial, yang semuanya diiringi Audiensi. Kemala Ayu (vokalis) didampingi Eramono Soekaryo (kibordis) dan Didiek SSS (saxophone). Ketiganya mewakili Spirit Band. Didukung juga vokalis lain, Cherry Simbolon. Mereka membawakan, “Ilusi”, “Bayang Bayang Semu”, “Nada Nada Asmara”.
Lalu berikutnya naik AS Mates (bass) dan Vonny Sumlang (vokalis), mewakili Bhaskara. Ditambah juga violinist, Didiet Violin. Mereka memainkan, “Betawi”:, “Life is Too Short too Worry”, “Feeling High” dan “Putri”.
Setelah itu, giliran Yance Manusama (bass), Ekka Bhakti (kibor) dan Mus Mujiono. Mereka tampil membawakan lagu-lagu “Terpesona”, “Mungkinkah”, lalu “Arti Kehidupan” dan “Mesra”. Lagu-lagu yang dipopuler Christ Kayhatu dan Glenn Fredly. Selain hits dari Mus Mujiono.


Pada panggung lain, sempat mencuri perhatian kelompok Canizaro. Mereka tampil dengan formasi Totong Wicaksono (gitar), Deri Iskandar (kibor) sebagai founder. Didukung Yayang YZ (drums) dan Ahot Fenderico (bass). Mereka memilih menyuguhkan karya lagu sendiri seperti, “Wake Me Up”, “Overnight”, “Cheetah”, “Forever Love”, “Bromo”, “Keep Out” dan “Night in Samarinda”.
Balik lagi ke hall utama, di lantai 4. Tampil penutup di hari pertama, Krakatau Band. Yang tampil dengan formasi terkininya dengan Dwiki Dharmawan dan Indra Lesmana. Lalu Gilang Ramadhan dan Trie Utami. Dan dengan didukung 2 personil muda, Andre Dinuth (gitaris) dan Barry LIkumahuwa (bassist).
Mereka menyuguhkan 10 komposisi lagu mereka. Mulai dari “Passport”, “Miles”. Disambung dengan “Kemelut” yang bertempo cepat banget itu. Lalu “Ironis”, “Pelican”, Berikutnya, “Haiti”, “Dirimu Kasih”. “La Samba Primadona”, “Gemilang” dan ditutup dengan “Kau Datang”.
Krakatau melalui Indra Lesmana, sebelum acara telah menyatakan akan tampil berbeda khusus untuk Jakarta Fusion Jazz Festival ini. Mereka akan menyuuhkan musik yang akan lebih “fusion-jazz”.
Dahaga ke Cenderamata
Ada T.42 pada malam kedua. Mereka sebagai cover-version band dari Level 42, tentunya membawakan berbagai hits dari grup jazz funk asal Inggris itu. Mulai dari “Heaven in My Hands”, “To Be with You”, “Love in Peaceful World”. Lanjut dengan “Forever Now”, “Children Say”, “Tracie”. Ditutup “Almost There” dan “The Chinese Way”.
T.42 ini terdiri dari Adman “Awan” Maliawan (bassist), “Faizar Fasya (guitarist), Edwin Saladin (keyboardist), Antonius Suryo (drummer), Tommy Cantanto (vokalis). Serta 2 pemain tiup, Septa Suryoto (saxophone) dan Harley Maximillian Korompis (trumpet).
Sementara itu, pada malam kedua, penutupnya adalah Karimata. Yang mana, mereka tampil dengan formasi Candra Darsuman dan Aminoto Kosin, dua foundernya. Didukung Indro Hardjodikoro, Dony Koeswinarno, Karis. Serta drummer, Budhy Haryono.


Karimata membuka penampilannya dengan menampilkan “Dahaga” lalu “Di Atas Batas”. Disambung “Kharisma” dan “Di Atas Batas”. Setelah itu mereka memanggil Bintang tamu khusus pada vokal, kali ini adalah Jemimah “Idol” Cita. Jemima, finalis Indonesia Idol tahun 2021 ini memperoleh tugas membawakan, “Kisah Kehidupan”. Lalu juga, “Demi Waktu” dan “Masa Kecil”.
Selanjutnya, Karimata membawakan “Nada Nada”, “Sketsa”, “Why Not”. Dan kemudian ditutup dengan “Cendera Mata”.
Dan berakhirlah Jakarta Fusion Jazz Festival volume 1, Juni 2026. Mari kita sama-sama nantikan, edisi berikutnya dari mini-festival yang terbilang unik dan berbeda ini. */diMo


