Tak hanya sekadar “bergizi”. Tetapi juga mengandung multi vitamin dan ekstrak penting, penambah darah dan tenaga. Agar supaya hidup lebih tenang, lebih rileks tapi juga penuh semangat positif. Iya dong, untuk membuat hidup lebih positif. Baguslah!
Kira-kira begitu adanya. Berkesempatan datang menonton sebuah konser jazz, yang memang sebelumnya sudah “lumayan dikenal akrab”. Dikenal dekat sekian waktu. Menyangkut seorang teman baik, yang kenal lama. Lama be’eng. Dia muncul perlahan tapi pasti menjadi musisi jazz terdepan.
Dan saya juga bisalah dibilang berangkatnya sepertinya bareng. Saat bersamaan, saya juga mulai menjalani karir jurnalistik saya. Di musik, terjun untuk peliputan acara demi acara. Yang saat itu memang ditempatkan di “desk” musik jazz. Tak heranlah, kamipun bertemu.
Dan sejak saat itu, kami kenal, dan jadi dekat. Saya sejak mula, di waktu 1980an masuk ke pertengahan, sudah menyukai penampilannya di atas panggung. Dengan beragam musik yang dimainkannya. Ya, musik jazz. Tapi, “rupa-rupa” jazz!
Well, konsernya ini sejatinya adalah semacam “cerita lama yang bersemi kembali”. Cinta lama belum klaar? Ah, ga kesitu arahnya! Tapi maksudnya, mengulang masa lalu. Masa bagusnya. Saat bertumbuh kembang dengan baik dan benar, sebagai musisi. Sebagai pianis. Sebagai penulis lagu. Dan, yoi dong, jazz!


Syahdan, Indra Lesmana, punya ide napaktilas, menyusuri masa mudanya dulu. Begitu cerita Indra ke saya. Ia kan pernah sempat tinggal di Sydney, Australia selama sekitar 6 tahun, untuk studi musik. Sekeluarga mereka boyongan ke sana. Nah perjalanannya ke Sydney pada sekitar tahun 2024 itu, mempertemukannya lagi dengan para sahabat lamanya, para musisi ternama Australia.
Salah satunya, musisi dengan “tongkrongan” fusion jazz sekali. Mengingatkan kita “sedikit” dengan bassis legendaris, mendiang Jaco Pastorius. Dia bassist juga, Steve Hunter, mengaku memang sejak lama mengidolakan Jaco Pastorius. Ia pernah bertemu, nonton sampai ngobrol dengan Jaco di Sydney, saat Jaco datang untuk konser dengan Weather Report. Begitu pengakuannya ke saya.
Jaco eh maksudnya Steve Hunter, diakui Indra adalah salah satu musisi Australia yang pertama dikenalnya. Itu terjadi sekitar awal 1980, ini juga dikatakan Steve. Indra datang ditemani ayahnya, Jack Lesmana, menonton penampilan Steve dengan grupnya di sebuah klab jazz. Berkenalan, berbincang-bincang, kemudian menjadi teman baik.
Buat Indra, Steve adalah salah satu sosok penting yang memberinya pengaruh kuat terhadap jazz, terutama fusion jazz. Lalu ada Dale Barlow, saksofonis dan flutist. Yang ternyata kakak kelas di SMA, dari kakak Indra Lesmana, Mira Lesmana. Tentu saja, maksudnya adalahMira Lesmana sineas yang terkenal dengan Miles Production-nya itu.
Dale juga punya peran penting dalam musik jazz yang dipahami Indra Lesmana, sejak masa remajanya itu. Tak pelak, Dale so pasti menjadi sahabatnya juga.. Kemudian drummer, Andy Gander. Sekarang ia sudah bergelar profesor. Betul, professor untuk drums! Dulu Andy Gander pernah menjadi salah satu dosennya, dan lantas menjadi dekat.
Indra lantas pulang ke rumahnya di Sanur. Masuk studionya. Hasilnya adalah, pada beberapa bulan kemudian, lahir komposisi lagu-lagu baru. Kemudian ia menemukan title untuk proyeknya tersebut, Sydney Reunion. Ternyata itu adalah rencana album rekamannya yang ke 100!


Baru di tahun 2026, Indra akhirnya berkesempatan mengundang ketiga teman baiknya, para musisi Australia itu untuk berkunjung ke Indonesia. Tentu untuk manggung. Syukurlah jadi rangkaian tur kecil. Tampil di Bandung, pada Gedebage Festival. Lalu ke Jakarta, main di Deheng House untuk konser spesial. Lalu ke Bali. Andy dan Steve terbang dari Sydney, Australia. Sementara Dale Barlow, datang dari Bangkok, saat ini ia tengah berdiam di Bangkok.
Well, hasilnya memang jadi konser penuh gizi dan “terasa daging semua”. Ada 10 komposisi lagu mereka bawakan. Lagu-lagu fusion banget, buat saya tuh, edan lagu-lagunya Indra banget! Indra mengakui sambil senyum dan bilang, iya ya.
Indra mengatakan kepada saya, “Memang fusion karena kami berempat di era 1980-an itu, mendengarkan musik yang serupa. Menyukai jenis musik yang sama. Selera kami kayak sama gitu”. Tambah Indra, Maka pas main bersama, termasuk untuk saat ini, ya begitulah musik yang keluar.
Konser dibuka oleh, “Fairlight”. Disambung langsung oleh “Prism”, Cold of Thoughts”. Berikutnya sebuah nomer yang berasal dari Dale Barlow, “A Night Indonesia”. Kemudian ada “Pelogic”, dimana ini adalah eksplorasi yang berbeda. Punya daya tarik Istimewa. Lagu ini dimainkan dalam tangga nada pelog. Kok ya mengingatkaku akan, Kayon, trio Indra dengan Gilang Ramadhan dan Pra Budhi Dharma? Ya ada suasana ke situnya. Tapi tentu dengan interpretasi berbeda kali ini.
Pada lagu selanjutnya, Indra memilih memainkan “No Standing”. Lagu dari album grupnya, Nebula, yang kemudian dirilis oleh label USA, Zebra Records. Lagu ini cukup familiar bagi telinga sebagian fansnya Indra. Ini lagu “bersejarah” nih, karena tembus Billboard charts untuk jazz, dengan sebelumnya masuk lagu jazz pilihan majalah jazz ternama, Down Beat.
Indra dan Kawan-kawan lalu membawakan, “View from a Canoe”, kata Indra, lagu ini idenya datang juga dari Andy Gander. Dan sebagai lagu penutup, sebenarnya diposisikan sebagai encore alias “bonus”, adalah “A Time for Everything”. Sebuah lagu penutup yang terasa “menyenangkan”. Melodi dasar dibawakan saksofon dan keyboard. Dimana piano mengisi di tengah lagu, memperindahnya dengan tarian jemari Indra sebagai improvisasi.
Menurut saya, yang “kebetulan” sudah mengikuti jejak langkah jazz (eh juga pop atau musik lainnya) dari Indra Lesmana. Ini mah konser kwartet jazz bentukan Indra yang terasa segar. Ada musisi yang sengaja datang menonton, mengatakan, aduh gw jadi malas main musik nonton mas Indra dengan teman-temannya itu. Teman lain mengatakan, ya susah digambarkan dengan kata-kata, tapi nikmat betul. Indra banget ya? Seorang musisi lain mengangguk-angguk kepala, betul. Vitamin banget buat kita-kita ini…


Oh ya, konser Indra Lesmana Sydney Reunion bertempat di Deheng House, Selasa 30 Juni 2026 tersebut diadakan atas dukungan dari Indonesia Australia Bussiness Council. Ada seorang Alonzo Brata, ditempatkan sebagai opening-act. Sebelum Indra Lesmana Sydney Reunion tampil sepanjang sekitar 1,5 jam.
Alonzo ini, masih muda, ganteng pula. Ia punya suara uniknya yang “begitu dewasa”. Mengingatkan akan Frank Sinatra lho. Alonzo diiringi oleh pianis lulusan 2 sekolah musik ternama, Berklee College of Music, Boston. Lalu juga di Julliard School, New York. Pianis yang beberapa saat bermukim di New York itu, Nial Djuliarso, memang terbilang setia bekerjasama dengan Alonzo. Sekaligus membimbingnya, tentu.
Alonzo Brata dengan senyumnya dan suara beratnya itu membuka penampilannya dengan, “Strolling Down the Avenue”, kemudian disusul, sebuah nomer riang gembira, “Simple Pleasures”. Berikutnya ada lagu unik, menceritakan sang ibunda yang merokok, “Mama Smokes”. Tiga lagu itu adalah original composition dari Alonzo dan sudah dirilis pada beberapa tahun silam.
Dilanjutkan lagu,”A Night in Tunisia”, “Fascinating Rhythm” dan ditutup, “Fly Me to the Moon”, yang adalah tiga nomer standard jazz. Yang dibawakan dengan apik oleh Nial Djuliarso bersama Eliezer Robby (drums), Brury Effendi (trumpet) dan Arthur Wiyono (upright bass).
Saya sangat menikmati betul! Berasa jazz nan segar dan melancarkan peredaran darah. Tidur jadi nyenyak nih, semoga saja. Mungkin buat sebagian orang dianggap “relatif serius”. Ada mungkin yang menganggap, “segmented”. Tetapi pada akhirnya, buat saya jelaslah, ini sebenar-benarnyalah sebuah konser yang lumayan menghibur. Jazz bisa meng-entertain juga. Ya iya dong…
Ketiga teman Indra, para musisi Australia itu, setelah konser sempat berbincang-bincang dengan saya. Mereka puas dengan konser itu. Dale secara khusus memberi pujian terhadap venue Deheng House, dengan ada tiga venue di dalamnya yang berbeda-beda. Buat Dale, Indonesia ini punya suasana jazz yang terbaik di kawasan south east asia.
Bicara soal keberadaan para musisinya, penyanyi. Termasuk para penggemarnya. Jazz di sini lebih baik dibanding di Thailand, misalnya. Steve Hunter yang mengaku sedikit lelah, dan agak terbatuk-batuk juga mengaku puas. Soal batuknya, Steve mengaku ia memang punya sedikit masalah dengan paru-parunya. Dan susahnya ia sulit berhenti merokok. Ia juga mengaku senang dengan konser itu.
Ia mengingat ada 5 kali ia datang dan tampil di Indonesia. Salah satunya, dan ini sangat mengejutkan saya, ia ingat betul tahun 2008 datang ke…Pekanbaru, di Riau. Waktu itu ia tampil di Malacca Strait Jazz Festival. Festival dimana saya diminta membantu penuh, baik sebagai talent coordinator maupun festival directornya.
Di saat itu, sayapun juga sempat menjadi moderator press conference. Steve mengaku lupa-lupa ingat kalau dengan saya, yang pasti ia lupa nama saya. Steve yang sudah 66 tahun itu, luar biasa juga daya ingatnya.
Dan Andy Gander, memberi pujian pada penonton yang diliatnya penggemar jazz. Banyak menurutnya, baik di Bandung dan juga di Jakarta. Ia bilang, ia bertemu para penggemar jazz yang baik hati dan menyenangkan di kedua kota. Ia kepengen kelak bisa tampil lagi di Indonesia, tampil di beberapa kota lagi.
Oh ya, ada satu cerita istimewa. Kemarin itu, Dale Barlow memilih tidak membawa sendiri saxophonenya. Dikarena alasan, “keselamatan” alatnya. Maka ia minta tolong dicarikan pinjaman saxophone. Setelah Indra, lewat istrinya Hon Lesmana, mencari-cari. Didapatlah saxophone milik almarhum Dennis Junio. Saxophonenya terawatt dengan baik. Sang ibunda Dennis, Diana Boes yang menyerahkan untuk meminjamkannya.
Menurut Dale, saxophone itu bagus. Walau ia tak tahu begitu paham saxophone dengan merk itu. Yang ia tahu, sax dari Belanda, ya karena almarhum Dennis bersekolah musik di Belanda. Ternyata, sax itu enak betul dimainkan. Pas banget. Dale bilang, alat itu ada spirit si pemilik. Kelihatannya, Dennis merestui, senang dan “memberkati”nya memainkan saxophone kesayangan itu. Aduh, enak banget deh, kata Dale.
Lalu kembali pada konser tersebut. Soal tata suara bisa dibilang, secara overall menyenangkan. Harus diberi pujian. Namun ada sedikit catatan penting, soal tata cahaya nih. Agaknya, perkara penata cahayaan, memang venue Deheng House memerlukan sekian waktu untuk kelak akan jadi lebih baik and more better than. Kelak diharapkan tata lampunya lebih menyenangkan, untuk ditangkap mata penonton. Plis deh, jangalah lelah evaluasi dan belajar. Atau, cari tenaga professional yang “lebih mahir”. XPOSEINDONESIA/dM



