Discus Hidupkan Kembali Live In Switzerland 2005, Siap Kenalkan Progressive Rock ke Generasi Baru

Bagi penikmat musik progresif dunia, nama Discus bukan sekadar band asal Indonesia. Grup yang lahir pada 1996 ini justru lebih dulu mendapat pengakuan di panggung internasional sebelum dikenal luas di negeri sendiri. Kini, setelah lebih dari satu dekade berjalan di luar sorotan publik, Discus kembali membuka babak baru dengan merilis album Live In Switzerland 2005, sekaligus berharap dapat memperkenalkan musik mereka kepada generasi pendengar yang lebih muda, termasuk Gen Z.

Album tersebut merupakan dokumentasi penampilan bersejarah Discus saat menjadi headliner ProgSol Festival di Swiss pada 2005. Rekaman konser itu kini resmi dirilis dalam format Compact Disc (CD) melalui label independen demajors, dan diperkenalkan lewat acara intim bertajuk “Rilis Di Toko” di Creative Spac3 Gramedia Jalma, Jakarta Selatan (17/07/2026).

Perilisan ini bukan sekadar nostalgia. Bagi Discus, arsip tersebut menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan kembali perjalanan panjang band yang pernah mengharumkan nama Indonesia di kancah musik progresif internasional.

Didirikan oleh Iwan Hasan dan mendiang Anto Praboe, Discus awalnya tidak pernah berniat menjadi band progressive rock. Mereka justru memulai perjalanan sebagai kelompok jazz dengan eksplorasi musikal yang bebas. Namun, karya-karya mereka kemudian mendapat perhatian besar dari komunitas progressive rock dunia hingga akhirnya “dicap” sebagai salah satu wajah baru musik progresif Asia.

“Awalnya itu jazz, karena saya mendirikannya sebagai grup jazz. Tapi akhirnya kami justru dikenal sebagai progressive rock. Lucunya, kami sendiri tidak pernah merencanakan itu. Justru festival, label rekaman, dan media musik di luar negeri yang memberi identitas tersebut kepada Discus,” ujar Iwan Hasan.

Nama Discus mulai melambung setelah merilis album debut 1st pada 1999 melalui label Italia Mellow Records. Album tersebut mendapat sambutan luar biasa. Media musik Amerika Expose menempatkannya sebagai salah satu album progressive terbaik dunia, sementara majalah Prog-Resiste dari Belgia memasukkannya ke daftar lima album progressive rock terbaik dunia pada akhir 1999.

Kesuksesan itu membawa Discus tampil di berbagai festival bergengsi seperti ProgNight San Francisco, Knitting Factory New York, ProgDay North Carolina, hingga BajaProg Mexico.

Tak berhenti di sana, album kedua …tot licht! yang dirilis pada 2003 melalui Musea Records (Prancis) dan Gohan Records (Jepang) bahkan sempat menjadi No.1 Best Seller All Genre di Amazon Jepang pada 2011, meski saat itu Discus tengah mengalami masa sulit setelah wafatnya Anto Praboe.

Perjalanan mereka sempat terhenti cukup lama. Namun pada 2024, Disk Union Jepang kembali merilis katalog Discus dalam format box set tiga CD yang langsung menembus jajaran Best Seller International Chart, sekaligus membuka jalan bagi kebangkitan mereka.

Momentum itulah yang membawa Discus kembali naik panggung di Ngayogjazz 2024 dan Synchronize Fest 2025, sekaligus memperkenalkan musik mereka kepada generasi penikmat musik yang sama sekali baru.

Menurut Iwan Hasan, Live In Switzerland 2005 dipilih bukan tanpa alasan. “Kalau kenapa Swiss, karena kualitas rekamannya memang yang paling bagus. Sound engineer waktu itu Juerg Naegeli luar biasa. Sebelum konser dia sudah mempelajari semua materi kami, meminta channel list jauh-jauh hari, bahkan menentukan lagu apa yang dimainkan saat soundcheck. Profesionalisme seperti itu belum pernah kami alami sebelumnya,” kenangnya.

Rekaman konser tersebut awalnya bahkan tidak pernah direncanakan menjadi album. Baru pada 2023, ketika label Jepang Disk Union meminta Discus merilis box set tiga CD, Iwan menawarkan arsip konser di Swiss sebagai pengganti album ketiga yang saat itu belum tersedia.

Hasilnya di luar dugaan. Album live tersebut kembali mendapat respons positif di Jepang hingga akhirnya menarik perhatian demajors untuk membawanya ke pasar Indonesia.

A&R demajors, David Tarigan, menyebut perilisan ini sebagai bentuk penghormatan terhadap salah satu band paling penting dalam sejarah progressive rock Indonesia. “Kami merasa sangat terhormat bisa merilis album dari band yang bisa dibilang legenda di skena progressive rock Indonesia. Menariknya sekarang audiens mereka benar-benar baru. Itu juga salah satu tujuan kami, memperkenalkan Discus kepada generasi yang mungkin belum pernah mendengar nama mereka sebelumnya,” ujar David.

Kini Discus diperkuat oleh Iwan Hasan (Gitar, Vokal), Fadhil Indra (Keyboard, Vokal, Perkusi), Hayunaji (drum), Krisna Prameswara (Keyboard), Nonnie Cindy (Vokal), Yuyun Arfah (ethnic vocal), Adi Darmawan (bass).

Selain merilis album live, mereka juga mengungkapkan tengah menyiapkan materi baru yang sebenarnya sudah mulai dikerjakan sejak 2007. “Lagu-lagu album baru sebenarnya sudah ada sejak lama. Bahkan beberapa part sudah direkam oleh teman-teman yang kini sudah tidak bersama kita lagi. Sekarang kami mulai menyelesaikannya sedikit demi sedikit,” kata Iwan.

Meski prosesnya berjalan perlahan karena kesibukan masing-masing personel, Discus menargetkan dapat merilis satu hingga dua single baru dalam waktu dekat sebelum album penuh diluncurkan.

Yang paling penting bagi mereka saat ini bukan sekadar kembali merilis karya, tetapi menemukan generasi pendengar baru. “Harapan saya sederhana, semoga Gen Z mulai mengenal Discus,” ujar Iwan sambil tertawa.

Hal senada disampaikan vokalis Nonnie Cindy.”Kami ingin kembali termotivasi membuat karya, tampil lagi di banyak panggung, dan mudah-mudahan semakin banyak anak muda yang menikmati musik Discus.”

Sementara Krisna Prameswara berharap kebangkitan musik alternatif di Indonesia membuka ruang lebih luas bagi Discus. “Sekarang festival musik semakin beragam dan selera pendengar juga jauh lebih terbuka. Kami berharap bisa kembali tampil di festival-festival itu dan memperkenalkan musik Discus kepada generasi yang sama sekali baru.”

Melalui Live In Switzerland 2005, Discus bukan hanya menghidupkan kembali salah satu momen terbaik dalam perjalanan karier mereka. Album ini juga menjadi pengingat bahwa karya musik yang lahir puluhan tahun lalu tetap mampu menemukan pendengar baru ketika kualitas dan keberaniannya melampaui zaman. XPOSEINDONESIA/IHSAN

spot_img

Must Read

Related Articles