32.1 C
Jakarta
Thursday, September 23, 2021

Anggy Umbara dan Ody Mulya Hidayat Berbagi Kiat Menarik Minat Penonton Film Indonesia

- Advertisement -
- Advertisement -

Festival Film Wartawan Indonesia (FFWI) 2021 menggelar  Webinar kedua bertajuk “Menelisik Minat dan Selera Penonton Muda Indonesia”,  pada Selasa, 7 September  2021.

Diskusi daring ini  digelar sebagai bagian dari acara menuju puncak penghargaan FFWI 2021  yang bakal digelar  28 Oktober 2021.

Webinar menghadirkan tiga narasumber yakni Anggy Umbara, Ody Mulya Hidayat, dan pengamat film senior, Yan Wijaya.

Lima Kunci Sukses ala Anggy.

Anggy  Umbara yang memulai karier sebagai sutradara di tahun 2012 lewat film “Mama Cake” dan sudah memproduksi 10 film, menyebut bahwa sebuah film  sukses tidak jauh dari kisah percintaan.

- Advertisement -

“Sementara dari sisi market, penonton datang ke bioskop  maunya ingin dihibur.  Dan salah satu syarat menghibur yang paling universal adalah dengan tawa. Maka  jadilah  formula yang jitu  untuk film laris yakni percintaan digabung  dengan komedi,” kata Anggy. “Genrenya bisa komedi dengan horor, komedi dengan action dan lain-lain!” Anggy menambahkan.

Di luar soal itu, Anggy yang  di dunia musik terkenal pula sebagai disjoki lewat grup musik nu metal, Purgatory menyebut ia melihat ada lima kiat yang perlu dilakukan agar sebuah film bisa laris.

“Pertama, film sebagai IP, intelektual property itu harus kuat. Kedua, ceritanya harus menarik dan menyasar penonton. Ketiga, production value mulai dari sutradara, crew sampai make up man  harus bisa totalitas dan konsisten. Keempat,  pemain, harus bisa menjadi star power yang bisa menarik penonton datang ke bioskop. Terakhir. Marketing dan promosi  harus  dirancang jitu dalam membangun engagement atau ketertarikan penonton untuk mau menonton sebuah film,” ungkap Anggy.

Di OTT, Pemain Wajib Punya Banyak Followers

Sementara itu,  pembicara kedua Ody Mulya Hidayat, Produser  film dan salah satu pendiri Max Pictures, menyetujui opini Anggy Umbara.

Namun,  ia melihat pola menonton  hari ini sudah mengalami pergeseran, dari menonton  di layar bioskop ke  layar handphone lewat OTT.

Apalagi di masa pandemic ini,  bioskop  tidak diijinkan beroperasi, maka penonton berpindah menyaksikan film ke OTT. Ini membuat strategi dalam soal pemilihan pemain juga berubah.

“Untuk membuat film OTT, pemain nggak harus yang sudah terkenal. Tapi harus memiliki banyak followers di sosial media. Karena itu penggunaan media sosial oleh para pemain bisa menjadi tolak ukur apakah ia bisa menarik minat penonton atau tidak,” ujar Ody yang sukses dengan film Dilan 1990 dan Dilan 1991.

Namun mengukur jumlah penonton OTT di mata pengamat film Yan Wijaya, ternyata  tidak semudah mengukur penonton di bioskop.

Baca Juga :  Ekonomi Kreatif Menjadi Kekuatan Baru Nasional

“Dulu, kalau film Pak Ody sudah tayang dalam seminggu, saya bisa langsung kontak Pak Ody menanyakan berapa jumlah penonton. Kalau sekarang di OTT tidak bisa seperti itu. Sangat sulit menghitung jumlah penonton secara pasti,” kata Yan. “Bahkan dalam bentuk pay preview sekalipun, seperti yang dilakukan Bioskoponline, tidak mudah menghitung jumlah penonton. Karena satu tiket bisa ditonton oleh beberapa orang sekaligus, karena mereka menonton via laptop atau handphone!” kata Yan.

Baca Juga :  Bandara Matahora Wakatobi Diresmikan

Direktur Perfilman, Musik, dan Media Baru Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) Ahmad Mahendra mengapresiasi webinar bertajuk “Menelisik Minat dan Selera Penonton Muda Indonesia” ini.

Mahendra mengatakan pemerintah akan mendukung dan memfasilitasi gelaran FFWI 2021.

“Wartawan tidak terpisah dari perjalanan perfilman Indonesia. Jadi saat ada ide akan mengadakan FFWI, tentu kita dukung penuh. Ini langkah yang bagus untuk memperkuat ekosistem,” kata Ahmad dalam webinar kedua FFWI, Selasa.

“Jadi upaya yang baik ini tentu kita apresiasi. Kemendikbud Ristek sangat mendukung dan siap memfasilitasi,” ujarnya.

Ahmad menambahkan, pandemi COVID-19 telah memberikan dampak yang cukup serius bagi semua sektor termasuk perfilman di Indonesia.

Menurutnya, banyak para pembuat film merasa kesusahan saat akan memproduksi karya-karya baru karena terhalang pandemi, sehingga ia berharap gelaran FFWI dapat memacu kreativitas masyarakat untuk kembali berkarya di jalur film.

Untung Bersama Rugi Bersama

Di luar  narasumber utama,  muncul pula Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) Djonny Syafruddin yang berharap, usai masa perpanjang PPKM pada 13 September ini, bioskop bisa langsung dibuka pada tanggal 14 September 2021.

“Saya sangat berharap, tanggal 14 September bioskop bisa beroperasional, meski tetap ada penyesuaian. Seperti jumlah penonton yang hanya 50 persen,” kata Djonny

Sebagai pengusaha bioskop, Djonny juga meminta dengan sangat Kemendikbud Ristek RI yang membawahkan urusan perfilman, memberikan perlindungan sepantasnya kepada keberlangsungan bioskop di Indonesia.

“Misalnya dengan membangun sistem yang proper pada keberlangsungan bioskop. Bukan semata langkah aksidental,” katanya.

Djonny juga mengajukan fakta, selama masa PPKM, dan bioskop harus tutup, satu bioskop mengalami rugi sebesar Rp 150 juta, per bulan.

Namun  Djonny juga mengajukan fakta lain, yakni jika pada Selasa, 14 September bioskop bisa beroperasi, ia menyangsikan para produser film nasional mau dan berani memutar filmnya.

“Jangan-jangan nanti yang diputar film impor semua. Jangan seperti itulah. Ayo sama-sama kita berjuang. Untung bersama. Rugi juga bersama,”  ajak Djonny. XPOSEINDONESIA Foto : Webinar FFWI 2021

- Advertisement -

Latest news

- Advertisement -

Related news

- Advertisement -