Aruma Bongkar Kisah Paling Personal di EP “Dan Ternyata Aku Cukup”, Ada Cerita Hubungannya dengan Sang Ayah

Aruma kembali membuka sisi paling personal dalam perjalanan hidupnya melalui EP terbaru “Dan Ternyata Aku Cukup”. Bukan sekadar kumpulan lima lagu, karya ini menjadi ruang bagi Aruma untuk membongkar luka, pola hubungan, rasa tidak cukup, hingga perjalanan panjangnya dalam berdamai dengan diri sendiri.

Setelah EP tersebut mulai didengarkan publik, sejumlah cerita personal di balik lagu-lagunya pun ikut mencuri perhatian. Salah satunya datang dari lagu “Bulan Separuh”, yang ternyata memiliki kaitan erat dengan hubungan Aruma dan sang ayah.

EP “Dan Ternyata Aku Cukup” menghadirkan lima lagu, yaitu “Pura-Pura Hidup Lagi”, “Jalan Buntu”, “Senyum Pada Sepi”, “Semoga Nanti”, dan “Bulan Separuh”. Kelima lagu tersebut lahir dari pengalaman yang berbeda, tetapi pada akhirnya memiliki satu benang merah, yakni perjalanan untuk belajar menerima dan merasa cukup dengan diri sendiri.

“Aku merasa EP ini bukan cuma kumpulan lagu, tapi seperti potongan-potongan buku harian yang akhirnya bisa aku bagikan ke orang lain,” ungkap Aruma mengenai karya terbarunya.

Bagi Aruma, proses mengumpulkan kelima lagu tersebut justru membawanya pada sebuah kesadaran baru. Ia menyadari bahwa cerita yang ditulis dalam waktu dan pengalaman berbeda ternyata sedang mengarah pada perjalanan emosional yang sama.

“Ada beberapa cerita dan perasaan yang memang sudah lama aku simpan dan akhirnya menemukan bentuknya lewat lagu, tapi ada juga lagu yang lahir dari pengalaman yang relatif baru,” kata Aruma. “Menariknya, ketika semua lagu dikumpulkan, aku baru sadar kalau ternyata semuanya sedang menceritakan perjalanan yang sama.”

“Bulan Separuh” dan Kisah Personal Aruma dengan Sang Ayah

Salah satu cerita paling personal dalam EP ini hadir melalui “Bulan Separuh”. Lagu tersebut menggambarkan fase ketika Aruma pernah merasa dirinya tidak pernah benar-benar cukup, meski telah berusaha untuk menjadi versi terbaik dari dirinya.

Namun, rasa tersebut ternyata tidak hadir begitu saja. Aruma mengungkapkan bahwa cerita dalam “Bulan Separuh” berkaitan dengan hubungan dirinya dan sang ayah yang pernah berada dalam fase kurang baik.

Aruma pernah merasa dirinya tidak cukup di mata sang ayah. Perasaan tersebut kemudian menjadi bagian dari luka yang ia simpan dan akhirnya menemukan ruang untuk diceritakan melalui musik.

Menariknya, lagu tersebut justru membuka jalan baru dalam hubungan keduanya. Setelah mendengar “Bulan Separuh”, sang ayah menghubungi Aruma dan menyampaikan permintaan maaf atas fase yang pernah mereka lalui.

Momen tersebut menjadi pengalaman emosional tersendiri bagi Aruma. Hubungan keduanya kini disebut telah membaik, sekaligus membawa Aruma pada kesadaran bahwa dirinya sebenarnya tidak pernah benar-benar menjadi “bulan separuh”.

Seperti bulan yang terlihat berbeda dari sudut pandang manusia, Aruma menyadari bahwa dirinya tetap utuh. Perasaan tidak cukup yang selama ini ia bawa perlahan berubah menjadi pemahaman bahwa nilai diri tidak seharusnya ditentukan oleh pandangan orang lain.

Aruma Bongkar Pola Hubungan yang Terus Berulang

Cerita personal lainnya hadir melalui lagu “Semoga Nanti”. Lagu tersebut juga menjadi salah satu karya yang sangat dekat dengan pengalaman pribadi Aruma, terutama mengenai pola dirinya dalam menjalani sebuah hubungan.

Aruma mengungkapkan bahwa dirinya memiliki kecenderungan untuk menjauh ketika sebuah hubungan mulai terasa semakin serius. Ketika mulai membuka hati dan membangun kedekatan dengan seseorang, ia justru merasa terdorong untuk menjaga jarak.

Kesadaran mengenai pola tersebut menjadi bagian dari proses introspeksi yang kemudian ikut membentuk perjalanan EP “Dan Ternyata Aku Cukup”. Karya ini tidak hanya berbicara tentang kesedihan atau proses menuju kebahagiaan, tetapi juga usaha untuk memahami mengapa seseorang terus menghadapi persoalan yang sama dalam kehidupannya.

Di sinilah lima lagu dalam EP tersebut saling terhubung. Aruma tidak mencoba memberikan jawaban instan, melainkan mengajak pendengar melihat proses panjang seseorang ketika berusaha memahami luka dan pola yang terus berulang.

Bukan Lagi Bertanya, tetapi Mulai Menemukan Jawaban

Jika dibandingkan dengan EP sebelumnya, “Bertumbuh”, Aruma merasa “Dan Ternyata Aku Cukup” hadir dengan pendekatan yang lebih personal dan introspektif. Perubahan tersebut juga memperlihatkan perkembangan perjalanan emosionalnya dalam beberapa tahun terakhir.

“Kalau dulu aku banyak bertanya, ‘Aku harus menjadi siapa?’ atau ‘Aku harus ke mana?’, sekarang aku mulai sampai di titik aku bisa bilang, ‘Mungkin aku tidak perlu menjadi siapa-siapa selain diriku sendiri,’” tutur Aruma.

Kalimat tersebut menjadi salah satu kunci untuk memahami keseluruhan EP ini. Jika sebelumnya Aruma banyak berada dalam fase mencari dan mempertanyakan arah, kini ia mulai sampai pada tahap menerima dirinya tanpa harus terus mengejar standar tertentu.

Judul “Dan Ternyata Aku Cukup” pun menjadi kesimpulan dari perjalanan tersebut. Aruma belajar bahwa dirinya tidak harus terus-menerus membuktikan nilai diri agar dicintai, dipilih, atau dianggap cukup oleh orang lain.

“Dulu aku sering merasa harus menjadi versi tertentu dari diriku supaya bisa dicintai, dipilih, atau dianggap cukup oleh orang lain,” ungkap Aruma. “Tapi kalimat ‘dan ternyata aku cukup’ memberiku kesadaran lain, yaitu tidak menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk terus meragukan diri sendiri.”

Lima Lagu, Lima Fase untuk Berdamai

Setiap lagu dalam EP ini membawa emosi dan cerita yang berbeda. Namun, kelimanya dapat dilihat sebagai bagian dari perjalanan seseorang yang sedang mencoba memahami dirinya.

Ada fase ketika seseorang berusaha “Pura-Pura Hidup Lagi” setelah melewati masa sulit. Ada pula saat ketika kehidupan terasa seperti “Jalan Buntu”, sementara seseorang belum menemukan arah untuk melanjutkan langkahnya.

Kemudian hadir “Senyum Pada Sepi”, yang membawa pendengar pada proses belajar berdamai dengan kesendirian. Ada pula “Semoga Nanti”, yang menyimpan harapan sekaligus menggambarkan keraguan dan persoalan yang muncul dalam sebuah hubungan.

Perjalanan tersebut akhirnya sampai pada “Bulan Separuh”. Lagu ini menjadi salah satu titik paling personal dalam EP, sekaligus membawa makna kuat tentang proses seseorang yang selama ini merasa tidak utuh sebelum akhirnya memahami bahwa dirinya tetap memiliki nilai.

Aruma berharap setiap pendengar dapat menemukan bagian dari dirinya dalam lima lagu tersebut. Ia juga ingin menyampaikan bahwa proses untuk memahami diri tidak selalu cepat dan setiap orang memiliki waktunya masing-masing.

“Tidak apa-apa kalau prosesnya panjang dan hari ini masih merasa bingung, belum sembuh, atau belum tahu harus ke mana,” ungkap Aruma.

Pesan itu terasa semakin relevan dengan perjalanan yang disampaikan dalam “Dan Ternyata Aku Cukup”. EP ini tidak menawarkan gambaran tentang seseorang yang telah berhasil menyelesaikan seluruh persoalannya, tetapi tentang keberanian untuk melihat luka dan menerima bahwa proses untuk pulih memang membutuhkan waktu.

Dirayakan Bersama Arumanis

Perjalanan EP terbaru Aruma juga dirayakan bersama para penggemarnya yang dikenal sebagai Arumanis melalui sebuah intimate showcase. Dalam kesempatan tersebut, Aruma membawakan lagu-lagu dari karya terbarunya secara langsung dan berbagi momen spesial bersama penggemar.

Acara tersebut juga menghadirkan sejumlah kolaborasi. Raim Laode turut hadir dalam penampilan bersama Aruma, sementara Raissa Anggiani ikut tampil membawakan “Jalan Buntu”, menambah suasana hangat dalam perayaan karya terbaru Aruma.

Bagi Aruma, “Dan Ternyata Aku Cukup” bukan sekadar penanda fase baru dalam perjalanan musiknya. EP ini juga menjadi catatan tentang bagaimana seseorang dapat berubah setelah melewati berbagai pengalaman, hubungan, luka, dan pertanyaan dalam hidup.

Pada akhirnya, lima lagu tersebut membawa pendengar pada satu kesimpulan sederhana. Seseorang tidak harus sempurna, selalu kuat, atau selalu mengetahui arah hidupnya untuk memiliki nilai.

Terkadang, perjalanan paling panjang adalah perjalanan untuk berhenti mencari pengakuan dari luar. Dan setelah melewati berbagai pertanyaan, luka, serta proses untuk berdamai, mungkin seseorang akhirnya dapat mengatakan kepada dirinya sendiri, “Dan ternyata, aku cukup.” XPOSEINDONESIA/IHSAN

spot_img

Must Read

Related Articles