Panggung musik Indonesia bersiap menyambut sebuah pertunjukan yang membawa semangat berbeda. JazzPuan mempertemukan 14 musisi perempuan lintas generasi dalam format big band, sekaligus menjadi ruang bagi para musisi perempuan untuk menunjukkan kemampuan mereka di atas panggung.
Digagas oleh musisi senior Yuyun George, JazzPuan akan tampil pada Sabtu, 12 September 2026, pukul 19.30 WIB di DeConcert Room, Deheng House, Kemang, Jakarta. Pertunjukan ini tidak hanya menawarkan musik jazz, tetapi juga menghadirkan kolaborasi lintas generasi yang melibatkan sejumlah nama dari berbagai latar belakang seni.
Bagi Yuyun George, JazzPuan merupakan kelanjutan dari perjalanan panjangnya di dunia musik yang telah berlangsung lebih dari empat dekade. Berbekal pengalaman sebagai pemain saxofon, flute dan vokalis, Yuyun ingin menciptakan ruang yang lebih besar bagi musisi perempuan, khususnya mereka yang selama ini berada di balik instrumen musik.
Yuyun dikenal pernah memimpin JazMint Big Band dan tampil dalam berbagai festival jazz, termasuk JakJazz dan Java Jazz. Pengalamannya juga membawanya tampil di sekitar 32 negara, termasuk Havana, Kuba, melalui berbagai kegiatan musik dan undangan dari perwakilan Indonesia maupun komunitas Indonesia di luar negeri.
Perjalanan Yuyun di dunia musik dimulai sejak era 1970-an ketika ia bergabung dengan Pretty Sisters pada 1975. Grup tersebut merupakan kelompok keluarga yang terdiri dari Erna, Lusi, Pretty, Dina dan Happy, sementara Yuyun bergabung sebagai bagian dari lingkaran musik mereka.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu fondasi penting bagi Yuyun dalam melihat potensi musisi perempuan. Ia kemudian pernah membentuk kelompok musik perempuan bernama Srikandi, yang sempat tampil di Istana Negara dan sejumlah panggung besar, meski akhirnya tidak berlanjut karena keterbatasan dukungan dan sponsor.
Kini, setelah puluhan tahun berlalu, Yuyun kembali membawa gagasan serupa melalui JazzPuan. Bedanya, kali ini ia ingin membangun sebuah pertunjukan yang lebih matang dengan format musik yang memungkinkan setiap musisi tampil dan menunjukkan karakter masing-masing.
“JazzPuan ini bukan band pengiring. Kami membuat sebuah show dan semua pemain punya bagian masing-masing untuk menunjukkan kemampuan mereka,” ujar Yuyun.
JazzPuan Satukan Musisi Perempuan Lintas Generasi
Formasi JazzPuan menjadi salah satu kekuatan utama pertunjukan tersebut. Yuyun George mengisi posisi saxofon, flute dan vokal, didukung Sheila Permatasaka pada bass, Kezia pada drum, Keren pada gitar, Nadya Belanski pada keyboard dan Kartika pada perkusi.
Sementara itu, kekuatan horn section diperkuat Happy Pretty, Nissi Wardoyo, Sista Anindya, Laras, Sella Nurlela, Diana “KSP” dan Pasia Merpati. Pertemuan para musisi dari berbagai generasi ini menjadi gambaran bahwa pengalaman dan energi baru dapat berjalan bersama dalam satu panggung.
Menurut Yuyun, perkembangan musisi perempuan saat ini jauh lebih menggembirakan dibandingkan beberapa dekade lalu. Media sosial juga membuat pencarian talenta baru menjadi lebih mudah karena banyak musisi perempuan kini dapat memperlihatkan kemampuan mereka secara terbuka.
“Dulu mencari pemain alat tiup perempuan itu susah sekali. Sekarang sudah banyak, dan kita bisa menemukan mereka melalui media sosial,” kata Yuyun.
Pandangan serupa disampaikan Happy Pretty, yang telah bermusik bersama Yuyun sejak era 1970-an. Menurutnya, keberadaan pemain brass section perempuan saat ini sudah semakin banyak, sehingga peluang membangun kelompok musik perempuan dengan format besar semakin terbuka.
Happy berharap JazzPuan tidak berhenti sebagai sebuah pertunjukan satu kali. Ia ingin proyek tersebut berkembang menjadi big band perempuan Indonesia yang mampu menghimpun lebih banyak musisi dari berbagai daerah dan generasi.
Semangat itu juga menjadi alasan JazzPuan membuka kemungkinan kolaborasi dengan musisi perempuan dari berbagai genre. Yuyun bahkan membayangkan pertemuan dengan pemain musik tradisional dan etnik dari Bali, Jawa, Kalimantan maupun daerah lainnya untuk menciptakan warna musik yang lebih luas.
“Kenapa tidak kita kolaborasikan dengan musisi perempuan tradisional dari Bali, Jawa, Kalimantan dan daerah lainnya,” ujar Yuyun.
Dari Oasis hingga Kolaborasi Tari
JazzPuan tidak hanya menghadirkan 14 musisi perempuan dalam satu format big band. Pertunjukan ini juga dirancang sebagai panggung kolaborasi yang menghadirkan sejumlah nama spesial, mulai dari Pretty Sisters, The Jakarta Happy Voice, Melly Zamri, Aldi Taher hingga Yenny Wahid.
Pretty Sisters memiliki tempat khusus dalam perjalanan JazzPuan karena menjadi bagian dari sejarah musik Yuyun dan Happy. Grup tersebut akan kembali hadir dalam pertunjukan JazzPuan dan membawa kembali warna musik yang telah menemani perjalanan mereka selama puluhan tahun.
The Jakarta Happy Voice juga akan tampil dengan konsep yang menggabungkan vokal dan koreografi. Kehadiran mereka menambah dimensi pertunjukan agar JazzPuan tidak hanya mengandalkan permainan instrumental, tetapi juga menawarkan pengalaman panggung yang lebih beragam.
Kejutan lain datang dari Melly Zamri, yang dikenal sebagai “Putri Malam”. Melly akan melakukan kolaborasi tari bersama JazzPuan sehingga penonton akan mendapatkan perpaduan antara musik dan pertunjukan visual di atas panggung.
Nama Aldi Taher juga menjadi salah satu kolaborasi yang menarik perhatian. Dikenal sebagai penggemar Oasis, Aldi akan membawakan lagu Wonderwall dengan aransemen berbeda dalam balutan swing big band bersama JazzPuan.
Bagi Aldi, tampil bersama para musisi senior merupakan pengalaman yang membanggakan sekaligus menantang. Ia mengaku harus mempelajari kembali karakter lagu Oasis karena aransemen big band membuat lagu tersebut memiliki pendekatan musikal yang berbeda.
“Saya belum pernah membawakan Wonderwall dengan format seperti ini. Saya harus belajar lagi karena aransemen JazzPuan memberikan warna yang berbeda,” ujar Aldi.
Aldi juga melihat JazzPuan sebagai bentuk kolaborasi lintas generasi yang menunjukkan bahwa musik tidak mengenal batas usia. Menurutnya, perbedaan generasi justru dapat menjadi kekuatan ketika para musisi bertemu dalam satu karya.
“Musik tidak ada gap umur, agama, suku, bangsa maupun bahasa. Musik adalah bahasa universal,” kata Aldi.
Sementara itu, Yenny Wahid turut dijadwalkan hadir sebagai salah satu tamu spesial JazzPuan. Keterlibatan Yenny bermula ketika Yuyun melihat penampilannya dalam sebuah acara musik dan kemudian membuka komunikasi untuk mengajaknya berkolaborasi.
Bagi Yuyun, kehadiran Yenny menjadi bagian dari pesan yang ingin dibawa JazzPuan mengenai perempuan dan kreativitas. Ia berharap semakin banyak perempuan dari berbagai bidang ikut memberikan dukungan terhadap musisi perempuan agar ruang berkarya mereka semakin luas.
Bukan Sekadar Konser
George Irvan, selaku promotor JazzPuan, melihat proyek ini sebagai sebuah langkah awal untuk membangun wadah yang lebih besar bagi musisi perempuan Indonesia. JazzPuan diharapkan dapat terus berkembang, menghadirkan lebih banyak pemain dan suatu saat tampil di panggung dengan skala yang lebih besar.
Pertunjukan JazzPuan dipersiapkan dengan durasi sekitar 90 hingga 120 menit. Selain penampilan utama, pertunjukan juga akan diisi dengan sejumlah kolaborasi dan kejutan yang dirancang untuk memberikan pengalaman berbeda kepada penonton.
JazzPuan mendapat dukungan dari PAPPRI (Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Pemusik Republik Indonesia) yang pada 2026 memasuki usia ke-40. Organisasi tersebut dipimpin Tony Wenas sebagai Ketua Umum dan Dwiki Dharmawan sebagai Sekretaris Jenderal.
Hendra Sinadia, Wakil Sekretaris Jenderal PAPPRI, turut membantu proses penyelenggaraan JazzPuan. Dukungan tersebut menjadi bagian dari komitmen untuk mendorong aktivitas dan kreativitas para pelaku musik Indonesia, termasuk memberikan ruang yang lebih besar bagi musisi perempuan.
Pemilihan DeConcert Room, Deheng House, Kemang juga menjadi bagian penting dari konsep pertunjukan. Venue tersebut memiliki fasilitas tata suara, tata cahaya, visual dan akustik yang mendukung pertunjukan musik, dengan kapasitas sekitar 350 penonton.
Sejak diresmikan pada November 2025, DeConcert Room telah menjadi salah satu ruang pertunjukan musik di Jakarta. Sejumlah nama besar seperti Krakatau, Karimata, Dewa Budjana, Ruth Sahanaya, Deddy Dhukun, Yuni Shara, Mus Mujiono dan Dwiki Dharmawan pernah tampil di venue tersebut.
Bagi Yuyun, JazzPuan bukanlah proyek yang berhenti setelah satu pertunjukan. Ia ingin JazzPuan terus berkembang menjadi wadah yang mempertemukan musisi perempuan senior dan generasi muda, sekaligus membuka peluang kolaborasi dengan lebih banyak musisi dari berbagai daerah.
Impian yang lebih besar bahkan mengarah pada pembentukan big band perempuan Indonesia dengan jumlah pemain yang lebih banyak dan cakupan musik yang lebih luas. Jika peluang terbuka, Yuyun juga tidak menutup kemungkinan membawa JazzPuan ke panggung internasional.
“Kalau ada kesempatan, kenapa tidak kita bawa ke luar negeri. Kita tidak janji, tetapi Insya Allah kita akan mencari jalan,” ujar Yuyun.
Pada akhirnya, JazzPuan ingin menegaskan bahwa musisi perempuan bukan sekadar pelengkap dalam industri musik. Mereka dapat menjadi pemain utama, pemimpin kelompok, pengolah aransemen sekaligus penggerak sebuah pertunjukan besar.
Melalui pertemuan 14 musisi perempuan lintas generasi, JazzPuan membawa pesan tentang regenerasi, keberanian dan kolaborasi. Panggung di DeConcert Room pada 12 September 2026 pun diharapkan menjadi awal dari perjalanan yang lebih panjang bagi lahirnya kekuatan big band perempuan Indonesia. XPOSEINDONESIA/IHSAN




