Adalah seorang musisi berjam terbang internasional yang bernama, Gilad Atzmon. Pemusik Inggris ini secara khusus diajak serta untuk tampil. Dalam rangka promosi berupa tour keliling beberapa kota di Indonesia. Jakarta (2 tempat, di Deheng House Hall dan Artoz). Dilanjutkan menyinggahi kota Bandung, Yogyakarta dan Bali.
Tour promosi khusus untuk album yang dirilis oleh Moonjune Record, November 2025. Dan dalam format vinyl dan CD, dirilis khusus pada 16 Januari 2026. Dimana album studio internasional ke enam dari maestro Dwiki Dharmawan ini, dikerjakan proses rekamannya di Sierra Studio di Athena, Yunani, pada akhir Desember 2024 silam.
Dalam album tersebut, Dwiki didukung oleh para musisi mancanegara seperti Kimon Karoutzos (bass), Nikos Sidirokastritis (drums), Harris Lambrakis (Ney, yang adalah alat tiup asal Timur Tengah serupa suling), Vironas Ntolas (guitar). Dan tentunya, Gilad Atzmon.
Pada kesempatan tour beberapa kota di Indonesia, Dwiki Dharmawan mengajak beberapa musisi Indonesia. Antara lain ada musisi muda lulusan Berklee College of Music di Boston, Kelvin Andreas (drums). Bass (upright-bass) oleh Rudy Zulkarnaen. Cucu Kurnia (kendang) dan suling (berbahan pralon, buatan sendiri) oleh Bang Sa’at Syah.
Untuk posisi gitaris, khusus di Jakarta, ada Dewa Budjana. Tentu menjadi nilai tambah untuk konser ini, dengan kehadiran Budjana. Sayangnya, untuk kesempatan berikut, di kota-kota lain, Budjana tak bisa ikut.
Budjana diajak at very last minute. Statusnya gitaris pengganti Agam Hamzah. Agam di jelang konser mengalami musibah kecelakaan di airport Soetta. Yang menyebabkan jari tengah dan jari manis tangan kirinya patah, cedera cukup berat. Sehingga tak memungkinkannya untuk tetap tampil.
Sementara di kesempatan kota-kota lain, dimana Budjana tak bisa tampil lagi, gitarisnya adalah Aditya Bayu. Dengan persiapan yang lumayan terbatas dan singkat sebenarnya. Dimana Gilad Atzmon baru bisa tiba di Jakarta hanyalah sehari sebelum konser berlangsung. But, the show must go on…
Yang tentunya berlaku kemudian, seperti biasanya adalah, format ala jam-session saja. Ada 10 repertoar, yang juga merupakan song-list isi albumnya. Sebagian besar merupakan karya Dwiki Dharmawan sendiri. Jazz berbalut nuansa world music, berisi nafas spiritual, perdamaian dunia serta juga solidaritas kemanusiaan.
Konser dibuka dengan “Toledo Trane” (disalahejakan di rilisan digital dan vinyl), langsung mengedepankan permainan piano Dwiki dan saxophone dari Gilad. Kemudian “Lima Dadakan”. Disusul berikutnya, “Gambang Suling”, dimana titlenya menjadi “Gambang Nev”, karena pada album lagu ini mengetengahkan Nev sebagai suara utama berada di depan.
Ada komposisi bertajuk, “Jazz For Freeport”, yang menurut Dwiki dipersembahkan bagi kemegahan Freeport di Timika, di bawah pimpinan Tony Wenas. Ada juga “Bubuy Bulan”, lagu tradisional yang diaransemen ulang menjadi “kaya dan agak liar”. Disambung lagu tradisional lain, “Paris Berantai”.
Berikutnya, “Frog Dance”, menggambarkan “keriuhan” suara kodok di waktu malam, yang seringkali dijumpai Dwiki selama di Bali. Berikutnya, “Pacu Jawi”, tentang balapan sapi ala Karapan Sapi di Madura. Tapi ini, balapan sapi di Sumatera Barat.
Dwiki mengakui, ia ada salah mengerti saat menulis lagu ini. Dipikirnya ini lagu Jawa, kan ada “Jawi”nya? Ternyata malah tentang Sumatera Barat…. Adapun 2 lagu penutup konser adalah, “Gaza Mon Amour”. Sebuah komposisi yang secara khusus merupakan apresiasi dan rasa kebersamaan dengan Masyarakat Palestina mengenai Gaza. Dan ditutup lagu megah dan “relatif meriah” yang diberi judul, “The Spirit of Peace”.
Lagu bertema perdamaian itu diberi suasana damai, dengan mengedepankan suara piano dan saxophone, soprano dan alto. Sepanjang konser, Gilad Atzmon, bergantian memainkan soprano dan alto saxophone selain clarinet. Gilad juga sebenarnya, pada beberapa konser kerapkali memainkan akordeon selain flute.
Dan musisi Inggris kelahiran Israel ini, selain sebagai musisi tiup. Ia juga adalah novelist. Selain itu di Eropa selama ini ia dikenal sebagai seorang aktifis kemanusian, terutama anti-rasisme.
Adapun mengenai Anagnorisis, tercatat sebagai album keenam ataupun juga kesebelas secara keseluruhan dari Dwiki Dharmawan. Seperti yang diketahui, Dwiki adalah musisi Indonesia yang paling banyak melanglangbuana. Tercatat, ia telah tampil di sekitar 80 negara di seluruh dunia. Mulai dengan Krakatau Band, terutama format world-music. Berlanjut dengan pelbagai solo-projectnya. Perjalanannya itu, melancong untuk bermain di luar negeri, sejak tahun 1985.
Judul album tersebut adalah berarti “kebangkitan”, bisa juga “pengenalan”. Bahasa Yunani sengaja diambil dan telah disetujui oleh pihak label, Moonjune Records. Karena poses produksi album sepenuhnya memang diambil di kota Athena, Yunani, pada sekitar satu setengah tahun silam.
Penonton terbilang penuh, menyesaki areal De Concert Room di Deheng House malam itu. Terlihat hadir Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dra. Hj. Arifatul Choiri Fauzi. Selain itu ada tokoh Muhamadiyah, Din Syamsudin. Ada juga Wakil Ketua MPR, dari Fraksi PKB, Rusdi Kirana. Serta beberapa duta besar dari negara-negara sahabat.
Akhirul kata, sukses selalu untuk pianis/kibordis Dwiki Dharmawan dalam penjelajahan berkelanjutan terus eksplorasi musiknya. Teruslah berkarya. XPOSEINDONESIA/dM







