CURATED LIVING Suguhkan Alaya Kala, Pameran Patung Adi Gunawan

Sebuah ruang tidak hanya dibangun dari dinding, furnitur, atau dekorasi. Di balik setiap sudut ruangan terdapat cerita, memori, hingga pengalaman yang membentuk karakter sebuah tempat. Gagasan itulah yang menjadi benang merah CURATED LIVING, program terbaru ASHTA District 8 yang berlangsung pada 3–26 Juli 2026, menghadirkan perpaduan seni, desain interior, dan gaya hidup dalam satu pengalaman yang berbeda dari pameran seni pada umumnya.

Mengusung tema Where Design Meets Lifestyle, CURATED LIVING mengajak pengunjung melihat bagaimana karya seni tidak lagi hanya menjadi objek yang dipajang di galeri, tetapi dapat hidup berdampingan dengan ruang sehari-hari. Pameran ini memperlihatkan bahwa seni mampu menjadi bagian dari rumah, ruang kerja, hingga area publik yang membentuk pengalaman hidup masyarakat urban.

Konsep tersebut sekaligus mempertegas posisi ASHTA District 8 sebagai destinasi gaya hidup yang tidak hanya menghadirkan pusat perbelanjaan, tetapi juga ruang kreatif yang mempertemukan seniman, arsitek, desainer, hingga komunitas kreatif dalam satu ekosistem.

Sorotan utama CURATED LIVING adalah Alaya Kala, sebuah pameran imersif yang berlangsung di Melting Pot, Ground Floor, menampilkan karya-karya pematung Indonesia Adi Gunawan yang dipadukan dengan desain interior hasil kolaborasi SANKHARA, POLA Studio EST. 2016, Theory of Living, dan Quatro Design Studio.

Berbeda dengan pameran patung konvensional yang menempatkan karya di atas pedestal, Alaya Kala justru menghadirkan suasana layaknya sebuah rumah yang benar-benar dihuni. Setiap karya diposisikan sebagai bagian dari ruang hidup sehingga pengunjung dapat membayangkan bagaimana sebuah patung mampu menyatu dengan interior rumah, bukan sekadar menjadi objek pajangan.

Menurut Adi Gunawan, konsep tersebut lahir dari keinginan menghadirkan pengalaman baru dalam menikmati seni.

“Selama ini kalau saya mengadakan pameran, karya-karya hanya dipajang di atas pedestal dengan komposisi yang standar. Kali ini kami ingin menghadirkan karya seni seolah-olah berada di dalam sebuah rumah,” ujar Adi Gunawan.

Ia menjelaskan bahwa proses kreatif dilakukan secara kolaboratif bersama tiga studio desain interior. Bahkan sejumlah karya diproduksi ulang agar benar-benar sesuai dengan karakter ruang yang telah dirancang.

“Konsep ruangannya dirancang oleh tim interior. Mereka menghadirkan interpretasi rumah Joglo dalam pendekatan desain modern. Mereka juga memilih karya-karya saya yang paling sesuai, bahkan ada beberapa yang saya buat ulang agar menyatu dengan konsep tersebut.”

Nama Alaya Kala sendiri berasal dari bahasa Sanskerta. Alaya berarti tempat bernaung, sedangkan Kala berarti waktu. Keduanya merepresentasikan sebuah ruang yang menyimpan perjalanan, kenangan, dan memori kehidupan.

Filosofi tersebut diterjemahkan ke dalam interpretasi rumah Joglo yang tidak tampil secara literal sebagai bangunan tradisional, melainkan diolah menjadi desain interior kontemporer. Pendekatan arsitektur ini menjadikan nilai budaya Jawa tetap terasa relevan bagi kehidupan modern.

Kolaborasi lintas disiplin inilah yang menjadi kekuatan utama Alaya Kala. Seni, arsitektur, desain interior, tanaman, pencahayaan, hingga furnitur saling melengkapi sehingga membentuk pengalaman ruang yang utuh.

Tim desain menjelaskan bahwa seluruh proses diawali dari satu gagasan sederhana, yakni rumah.

Mereka ingin membangun sebuah ruang yang terasa hidup dan nyaman, seperti rumah seorang kolektor seni yang benar-benar ditempati, bukan sekadar instalasi sementara. Dari ide tersebut, seluruh elemen ruang kemudian dirancang agar setiap karya patung memiliki posisi dan fungsi visual yang seimbang.

Sementara itu, POLA Studio menghadirkan pendekatan yang lebih natural melalui pemilihan tanaman yang tidak bersifat musiman.

Konsep ini dibuat agar pengunjung dapat membayangkan bagaimana karya seni Adi Gunawan benar-benar hidup bersama furnitur, tanaman, dan elemen interior lainnya dalam kehidupan sehari-hari.

Persiapan pameran sendiri memakan waktu sekitar lima bulan. Selama proses tersebut, seluruh tim mendiskusikan tata ruang, pencahayaan, material, hingga posisi setiap karya agar mampu menghadirkan pengalaman visual yang harmonis.

Sebanyak 15 karya patung dipamerkan dalam Alaya Kala. Seluruhnya merupakan karya yang dibuat dalam kurun tiga tahun terakhir.

Sebagian berasal dari galeri Adi Gunawan di Kemang, sementara beberapa lainnya diproduksi kembali di Yogyakarta karena setiap karya dibuat dalam edisi terbatas, maksimal delapan edisi.

Pemilihan karya sepenuhnya mengikuti kebutuhan desain ruang. Patung berukuran kecil ditempatkan di atas meja atau sudut tertentu, sedangkan karya berukuran besar ditempatkan pada area yang lebih luas agar komposisi ruangan tetap proporsional.

Di balik bentuk patung yang bulat dan menggemaskan, tersimpan gagasan yang cukup kritis.

Adi Gunawan mengungkapkan bahwa karakter tersebut lahir dari kegelisahannya terhadap standar kecantikan perempuan yang selama bertahun-tahun dibentuk media.

Menurutnya, perempuan selalu digambarkan harus tinggi, langsing, berkulit mulus, dan berambut lurus agar dianggap cantik.

Sebagai bentuk perlawanan terhadap stereotip tersebut, ia justru menciptakan sosok perempuan bertubuh bulat, berambut keriting, tetapi tetap tampil cantik dan percaya diri.

Lama-kelamaan karakter tersebut berkembang menjadi identitas artistiknya. Tidak hanya perempuan, tetapi tokoh laki-laki hingga berbagai figur binatang juga hadir dalam bentuk yang sama-sama membulat.

Karakter bulat itu kemudian menjadi ciri khas Adi Gunawan yang kini dikenal luas di dunia seni patung Indonesia.

Perjalanan menemukan identitas tersebut tidak berlangsung singkat.

Pada awal kariernya, Adi sempat membuat karya-karya konseptual yang menurutnya sulit dipahami publik. Hingga akhirnya pada pameran tunggal di Bentara Budaya Yogyakarta tahun 2007, ia memperkenalkan figur bulat yang kemudian mendapat sambutan luar biasa.

Kala itu, hampir semua pematung Indonesia masih menghadirkan karya serius dan konseptual. Kehadiran karakter lucu bergaya pop art membuat karya Adi tampil berbeda.

Keunikannya bahkan menarik perhatian seorang kolektor asal Singapura yang membeli seluruh karya dalam pameran tunggal tersebut.

Sejak saat itu, figur bulat menjadi identitas yang terus melekat pada setiap karya Adi Gunawan. Kini karakter tersebut juga hadir dalam berbagai karya monumental di ruang publik. Salah satunya adalah patung setinggi sekitar enam meter yang berdiri di kawasan Sunter, Jakarta Utara.

Selain Alaya Kala, CURATED LIVING juga menghadirkan instalasi Beyond The Walls di kawasan Connecting Langham.

Instalasi ini menampilkan lima karya patung kontemporer yang ditempatkan di berbagai titik area publik sehingga pengunjung dapat menemukan karya seni secara tidak terduga ketika berjalan menyusuri kawasan ASHTA District 8.

Konsep ini ingin menunjukkan bahwa seni tidak selalu berada di ruang galeri, melainkan dapat hadir di tengah aktivitas sehari-hari dan membangun interaksi baru dengan masyarakat.

Melalui CURATED LIVING, ASHTA District 8 memperlihatkan bagaimana seni, desain interior, dan arsitektur mampu saling melengkapi untuk menciptakan pengalaman ruang yang lebih personal.

Lebih dari sekadar pameran seni, CURATED LIVING menjadi ajakan untuk melihat rumah sebagai ruang yang menyimpan cerita, budaya, sekaligus identitas penghuninya. Kehadiran karya-karya Adi Gunawan yang dipadukan dengan interpretasi modern rumah Joglo menghadirkan perspektif baru tentang bagaimana seni dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Bagi pecinta seni, arsitektur, maupun desain interior, CURATED LIVING menjadi salah satu agenda yang layak dikunjungi selama Juli 2026 di Jakarta. XPOSEINDONESIA/IHSAN

spot_img

Must Read

Related Articles