27.1 C
Jakarta
Friday, September 30, 2022

Nasionalisme dalam Film Bukan Cuma Perlawanan Terhadap Kolonial

Namun Ada Dimensi Kultural Yang Perlu Terlihat, Mulai dari Fashion, Food dan Lokasi Syuting

- Advertisement -
- Advertisement -

Sukses film “Sayap-Sayap Patah”  yang meraih lebih dari 2 juta penonton itu, sama sekali tak diduga oleh Produser Eksekutifnya sendiri Denny Siregar, tokoh, yang selama ini dikenal  pula sebagai aktivis sosial media dan penulis.

Menurut Denny, film “Sayap-Sayap Patah”  yang mengangkat kisah drama fiksi,  berdasarkan peristiwa kerusuhan di Mako Brimob pada 2018,  dan menewaskan 5 anggota Densus 88 itu, sempat diprediksi beberapa kalangan akan gagal. Apalagi jadwal tayang bersamaan dengan meledaknya kasus Ferdy Sambo.

“Mendadak kasus itu (Ferdy Sambo) meledak, dan membuat orang berpikir film ini akan flop di awal,” ungkap Denny Siregar dalam Webinar:Nasionalisme dan Film yang diselenggarakan Festival Film Wartawan Indonesia (FFWI ke XII), Jumat, 16 September 2022.

Diakui Denny, perkiraan banyak orang itu hampir betul. “Karena di hari pertama ditayangkan Sayap-Sayap Patah hanya ditonton 14.000 orang, kemudian naik secara perlahan ke angka 46.000 dan selanjutnya bergerak sampai 2 juta lebih,” ungkap  Denny

- Advertisement -

Denny mengaku tidak punya dana promosi besar untuk filmnya. Sukses film ini  disebut oleh Denny  bukan semata-mata karena akting Nicolas Saputra dan Ariel Tatum, melainkan  karena digerakan oleh postingan netizen yang  mendadak viral lewat TikTok.

“Ada  netizen yang mengunggah ending adegan dia menangis  saat menonton film ini ke Tik Tok. Itulah yang membuat masyarakat penasaran, kemudian ingin menangis berjamaah di bioskop lewat  ‘Sayap-Sayap Patah’,”  ujar Denny.

Film “Sayap-Sayap Patah” yang disutradarai Rudi Soedjarwo dengan naskah dituis Monty Tiwa, Eric Tiwa dan Alim Sudio ini kata Denny  dirancang mengangkat kisah tentang manusia, dikonsep sebagai film drama romatis. Ada action, tetapi hanya sebagai bumbu dan ada pemain yang namanya terkenal dan disukai penonton. Denny mengingat film sejenis “Mumbai” dan “Die Hard””, yang berkisah tentang polisi ditembak teroris dan meraih sukses.

“Namun di ‘Sayap-Sayap Patah, saya tidak membuat film nasionalisme. Saya hanya ingin membuat film yang mengangkat  kisah orang yang telah berjasa untuk negara. Ada orang-orang yang sebetulnya sangat layak  untuk kita hargai.  Dan pikiran kami  kemudian terpusat pada peristiwa Marko Brimob!”  kata Denny Siregar yang berharap tragedi tersebut tetap diingat sebagai sejarah.

“Sayap-Sayap Patah“  adalah film drama yang sangat entertaint, tapi tidak meninggalkan sisi cinta pada negara.  “Ada kisah polisi yang kalah, bahkan ada korban di Mako Brimop!” ujar Denny yang muncul sebagai pembicara dalam Webinar FFWI ini bersama Zinggara Hidayat  (penulis buku Jejak Usmar Ismail)  dengan moderator  wartawan senior, Rita Sri Hastuti

Edi Suwardi Ketua Tim Pokja Alif Direktorat Perfilman Musik dan Media (PMM)  Kemendikbud Ristek RI yang  mendukung acara ini, dalam sambutannya menyebut,  di zaman dulu,  kata nasionalisme dianggap berat dan  sulit diterjemahkan dalam cerita dan gambar.

“Ada kesan, kata itu akan memunculkan karya serius,  cenderung  kaku dan tidak bakalan laku untuk dinikmati penonton,” ujar Edi

Baca Juga :  Kemenparekraf Gelar Rakornas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2020

Sebagai sebuah seni, lanjut Edi, kita tahu film  tidak hanya digunakan sebagai tontonan.

“Fungsi dan esensi film telah  berkembang menjadi media seni yang mampu mentransformasi nilai-nilai kemanusiaan, religi, pendidikan, hingga tentang nasionalisme yang bisa menjadi tuntunan, sekaligus menjadi tontonan yang laku untuk dinikmati penonton.

“Tema nasionalisme bisa mencair dalam cerita  yang memuat pesan baik, seperti rela berkorban, menjunjung tinggi persatuan, mau saling bekerja sama,  mau saling menghormati dan menghargai  perbedaan, sekaligus selalu bangga menjadi  warga negara Indonesia,” ungkap Eddy.

Sementara itu Zinggara Hidayat, penulis buku _Jejak Usmar Ismail_ menyebut, nasionalisme dalam film memang tidak diartikan kaku hanya memperlihatkan perlawanan terhadap kolonial, munculnya uniform (seragam)  dan bendera.

Zaman berubah, dan ada pula pergeseran pengertian nasionalisme. 

“Lebih jauh nasionalisme itu bisa terlihat dari termuatnya dimesi kutural dengan cara yang soft. Karena itu perlu penulis skenario yang cerdas. Idenya harus luar biasa. Dan di dalamnya ada improvisasi!” kata Zinggara.

Ia mencontohkan nasionalisme  jaman dulu di dalam film “Tiga Dara” karya Usmar Ismail dengan naskah ditulis M. Alwi Dahlan, misalnya.

  “Di sana diperlihatkan  gaya dansa-dansi, beragam warna musik, fashion dari kebaya hingga baju modern, makanan cemilan, bahkan juga motor skuter yang dipakai oleh pemain. Dimensi kulturalnya masuk semua!’

Sementara itu menampilkan nasionalisme  di jaman kini bisa dimunculkan  dalam berbagai hal.  Selain soal budaya, fashion, jenis makanan tertentu, bisa pula  memperlihatkan daerah tertentu dengan lebih detail.

“Misalnya  jika lokasi syuting di Papua, bisa diperlihatkan bagaimana kondisi kantor Pemrov Papua seperti apa!”ungkap Zinggar.

Nasionalisme masih kata Ziggar, bisa berubah format dan berganti wajah, tetapi di era globalisasi seperti sekarang ini  nasioalisme lebih  berkembang ke arah kolaborasi, “bahwa kita sadar hidup sejajar dalam masyarakat global!”

“Apa yang bisa kita produksi di Indonesia,  film misalnya. Bisa dikirim ke luar negeri atau ke negeri serumpun. Dengan menggunakan bahasa Melayu maupun bahasa Indoesia. Ini sebetulnya juga bagian dari  nasionalisme tersebut!”

Lebih jauh Zinggara mengigatkan, penting untuk melihat dan belajar dari apa yang dilakukan Korea dengan industri keseniannya.

“Kita kenal Kimci dari drama mereka, kita mendengar dan musik mereka. Di jaman globalisasi seperti sekarang ini kolaborasi adalah keniscayaan  yang tidak mungkin dihindari.”

Ketua Panitia FFWI,  Wina Armada di ujung pertemuan menyebut,   “Sayap-Sayap Patah” telah  mematahkan mitos, bahwa film yang bersifat   nasionalis dan berkaitan dengan kebangsaan, mampu laku untuk diserbu penonton.

“Dari sisi  finasial, kalau dihitung ada 2 juta yang menonton Sayap-Sayap Patah,  berarti produser minimal  mengantongi Rp 40 M. Kita gembira, film yang mengadung  nasionalisme, juga bisa menghasilkan angka yang menjanjikan! XPOSEINDONESIA Foto : Dokumentasi

0 logo 1
0 logo 1
0 sayap sayap 2
0 sayap sayap 2
0 webiar 3 1
0 webiar 3 1
- Advertisement -

Latest news

- Advertisement -

Related news

- Advertisement -