31 C
Jakarta
Wednesday, October 20, 2021

Ivan Nestorman & Lia Edon: Musik Lokal, Daya Pikat Wisata Premium

- Advertisement -
- Advertisement -

Sejak lama, Nusa Tenggara Timur punya impian agar alat musik  dari tanah mereka, Sasando,  bisa mendapat pengakuan  dari UNESCO  bahwa Sasando sebagai warisan budaya asal Indonesia.  

Sasando sendiri adalah alat musik unik yang berasal dari pulau RoteNusa Tenggara Timur. Sasando memiliki  dawai yang dimainkan dengan  cara dipetik. Bentuknya unik  lantaran ditaruh dalam wadah terbuat dari anyaman daun lontar yang dibuat seperti kipas. Wadah ini merupakan tempat resonansi sasando.  Dalam perkembangannnya Sasando dibuat pula secara elektronik.

Upaya mendapat pengakuan UNESCO atas Sasando telah  dirintis sejak beberapa tahun lalu.

“Di jaman Pak Sapta Niswandar bertugas di Kementerian Pariwisata, saya sempat  diajak untuk mempromosikan Sasando sampai ke New York, Austalia bahkan Afrika,” ungkap  Ivan Nestorman, penyanyi dan musisi asal NTT  dalam  acara live Instagram Cakap Cakap bersama pengamat musik Bens  Leo,  pada 11 May 2012.  

- Advertisement -

Dalam acara  wawancara yang didukung Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tersebut,  Ivan sekaligus menitip pesan khusus untuk Mas Menteri Sandiaga Salahuddin Uno.

 “Saya harap, Mas Sandiaga sebagai Menteri baru, bisa mengangkat kembali Sasando. Ini penting, karena alat musik dawai ini merupakan harta berharga milik Indonesia, yang wajib terus dilestarikan, sekaligus juga diperkenalkan dan dikembangkan ke generasi muda,” ungkap Ivan.

Menurut  Ivan,  sebagai sebuah alat musik berdawai yang unik dan langka, karena diselubungi daun lontar,  Sasando  punya kemiripan dengan alat musik Valiha dari Madagaskar, Afrika Timur.

“Saya tidak tahu secara persis apakah jaman dulu, orang kita yang membawa Sasando ke Madagaskar. Atau sebaliknya, orang sana yang datang ke mari dan membawa alat music ini ke negeri mereka!” ucap Ivan yang  pada saat wawancara didampingi Yunilia Edon, musisi Sasando perempuan, sekaligus cucu dari penemu Sasando Elektronik, mendiang  Arnoldus Edon.

Berkembang di Kandang Sendiri.

Yunilia atau Lia Edon menyebut, perkembangan Sasando di NTT sesungguhnya sudah  cukup baik. Ia menyebut pada tahun 2018-2019, Kemedikbud pernah membuat program Belajar Bersama Maestro Sasando.

“Sebelum Pandemi Covid 19 merebak, para maestro datang ke sekolah sekolah di Kupang untuk mengajarkan Sasando. Tapi kemudian program terhenti, salah satunya karena masalah kurangnya dana!’ ungkap perempuan berputeri satu, yang sempat menjadi  Juara II  Festival Musik Sasando, pada Januari 2009.

Menurut pengamatan Lia, tenaga pengajar Sasando di Indonesia Timur bisa dibilang telah cukup. “Tetapi mungkin  perlu  terus menerus diadakan regenerasi. Ini juga pesan khusus untuk Menteri Pendidikan,” ucap puteri dari Caro David Habel Edon, yang sempat menjadi jurnalis dan News Anchor pada sejumlah TV swasta tersebut.

Baca Juga :  PK KCI atas Pelanggaran Hak Cipta Inul Daratista ‘menang’ di MA

Sementara itu, Ivan menyebut untuk mendapat pengakuan UNESCO atas Sasando, memang dibutuhkan upaya ekstra sangat keras.  “Salah satunya Sasando ini harus hidup di luar habitannya. Kalau Sasando ramai dimainkan di luar NTT, misalnya di Batak, di Yogjakarta dan daerah lain, UNESCO baru bisa mendaftarakan ini  sebagai  salah satu budaya yang wajib dilestarikan. Ini  harus jadi tugas kita bersama. Bukan hanya di satu kementerian, melainkan di lintas Kementerian,” ucap Ivan

Bermartabat dengan Musik Lokal

Sasando dan juga musik-musik tradisi, menurut Ivan  masih menjadi primadona yang akan mengangkat Indonesia di mata dunia.  

Ivan yang sekarang ini bertugas sebagai mentor musisi khusus wisata Premium di Labuan Bajo dan Flores,  menyebut  ia bersama Kemenprakraf  terus mencari pemusik lokal,  dan mencoba menggali musik tradisi.

 “Supaya ada suguhan kesenian orisinal  ketika orang datang ke Laboan Bajo. Jadi bukan hanya infrastukturnya saja yang dibangun, tapi juga menghadirkan kesenian orisinil, jadi kami membuat inkubasi. Sekarang kami punya komunitas yang  terdiri dari maestro maestro lokal. Mereka siap  tampil menghibur turis yang datang!”  ujar vokalis kelompok band Nera bersama Gilang Ramadhan, Krisna Prameswara dan Adi Dharmawan.

Ivan yang sudah berkarir  sepanjang 25 tahun dengan musik tradisi, menyebut karirnya  berjalan dengan sangat menyenangkan.

“Memang pasarnya tidak besar. Tapi jika dikelola dengan baik, bisa menghidupi. Ini kan semacam musik boutique. Bukan musik massal”

Kalaupun ada yang dirasakan Ivan belum sepenuhnya mendukung perjalanan karirnya  adalah  masih kurangnya slot radio swasta untuk memutar lagu yang berbahasa  daerah dan menggunakan alat  musik tradisi.

“Saya lihat Music Director radio swasta di Jakarta, tidak berani memutar lagu dan musik yang menggunakan bahasa daerah. Padahal banyak musik daerah yang bagus. Saya cuma mendengar ada lagu tradisi hanya  di RRI Pro 4. Padahal musik ini bisa masuk ke ruang musik industri. Kami mendirikan band Nera memang agar bisa masuk ke musik Industri. Karena dari industrilah,  royalti bisa dikelola,” katanya menutup  Cakap Cakap. XPOSEINDONESIA/NS Foto : Muhamad Ihsan/Dudut Suhendra Putra

Ivan Nestroman : banyak musik daerah yang bagus, tapi tidak bisa diputar Radio Swasta
Yunilia Edon : Dengan Sasando Elektronik, yang dirancang oleh mendiang Opanya : Arnoldus Edon
Yunilia Edon
Cakap Cakap Bens Leo via Instagram
Bens Leo dan Ivan Nestorman
Bens Leo, Ivan Nestorman dan Yunilia Edon : Ragam Alat musik tradisi yang memperkaya musik Indonesia
Ivan dan Lia Bersama Team Cakap Cakap IG Live @bensleo52
Yunilia Edon : Perlu regenerasi pembelajaran Sasando di seluruh negeri
Yunilia Edon dan Ivan Nestorman bersama Bens Leo dan team Pengamat dari Kemenparekraf/Barekraf

- Advertisement -

Latest news

- Advertisement -

Related news

- Advertisement -