Bagaimana energi rock diterjemahkan menjadi dunia visual yang hidup, bergerak, dan penuh atmosfer urban-industrial khas akhir 90-an. Tentu untuk sebuah video musik, yang pembuatannya melalui konsep pendekatan berbeda. Bahwasanya kalau bicara video musik, pada tahun 1997, masih didominasi format tampilan relatif “sederhana”.
Adapun pendekatan tersebut, menghadirkan visual nan dinamis, yang dikemas lebih hidup dan kompleks. Dibandingkan dengan hasil akhir video musik kebanyakan di zaman tersebut. Sebagai gambaran detil, dipakainya pergerakan kamera dengan konsep layaknya sebuah film action, seperti low angle, tracking movement, dynamic handheld, perpindahan visual per-scene yang lebih cepat. Ditambah eksplorasi framing yang enerjik dan agresif.
Untuk mendukung pendekatan visual di atas itu, maka untuk produksinya digunakan berbagai alat bantu shooting. Yang sebenarnya terhitung serius untuk ukuran penggarapan video musik di Indonesia. Seperti antara lain Jimmy Jib, Dolly Track sampai Steadycamp. Tentu saja, alat-alat tersebut membuat pergerakan visual terasa jauh lebih sinematik, dinamis, dan memiliki skala visual yang besar.



Kemudian, dipilih juga lokasi “khusus” untuk pengambilan gambar. Dalam hal ini dipilih setting stadion bola yang disetting Istimewa. Dalam hal ini maksudnya, diubah menjadi ruang visual bernuansa industrial-futuristik. Area tribun dan pintu masuk stadion dihias menggunakan instalasi lighting khusus. Berupa lampu neon warna-warni yang dimodifikasi secara manual menggunakan filter pencahayaan
Pendekatan secara spesifik tersebut, membuat atmosfir visualnya terlihat khas. Sesuai dengan tema lagunya. Terkesan panas, urban, industrial dan penuh bertebaran aksen visualisasi enerji listrik ala akhir 90-an. Sebuah upaya kreatif menyiasati keterbatasan tehnologi lighting yang terbatas pada masa itu. Menuntut banyak eksplorasi kreatif dalam visualisasi, yang dilakukan manual dan ekspreimental langsung di lapangan.
Konsep dasar yang ditulis tersebut, untuk video musik dari lagu milik God Bless, “Srigala Jalanan”. So, bayangkan saja lagunya, aksentuasi rocknya yang tebal. Musik yang terbilang bergemuruh. Dalam hal ini, karya besutan Oleg Sanchabakhtiar dari Planet Design Indonesia ini, membawa enerji musik rock Indonesia ke level visual yang terlihat lebih cinematic dan theatrical. Bak film action saja adanya.
Jadi, tidak hanya God Bless diperlihatkan sedang bermain musik di “atas panggung”, disertai bangunan visualisasi dengan atmosfir urban industrial yang kuat. Stage, beserta performance act-nya berdasarkan pada konsep industrial stage treatment. Sehingga suasana rocknya keluar dan terasa. Cadas!

Design panggungnya secara rinci adalah, level panggung berbeda untuk masing-masing personil, property industrial custom, lighting stage yang diprogram khusus. Dan hingga penggunaan efek visual aliran listrik di antara para players.
Adapun situasi dan kondisi dari “basecamp” para Srigala Jalanan juga dikemas dengan interior industrial yang sangat kuat, memperlihatkan pendekatan art direction yang detail dan serius untuk ukuran video musik Indonesia tahun 1997. Lalu Oleg sebagai director, menyelipkan pula adegan seru, kejar-kejaran motor Harley Davidson, yang dibuat di area yang berbeda-beda.
Pada video musik ini, Oleg kembali menangani sekaligus beberapa posisi seperti menjadi juga Producer, DOP, Cameraman, Lighting, Conceptor/Creative Director dan Art Director. Proses produksi memakan waktu lebih dari sehari shooting, yang membuktikan memang kali ini proses pembuatan tidaklah seperti video musik yang ada lainnya. Jadinya seperti membuat sebuah film pendek.
Video musik ini juga menjadi spesial karena penampilan God Bless yang Istimewa. Seperti diketahui lagu Srigala Jalanan ada di album Apa Kabar, yang adalah album kelima God Bless, yang dirilis tahun 1997. Sebuah album “perayaan” kembalinya mereka untuk berkumpul lagi, setelah vakum sekitar 8 tahun lamanya.
God Bless tampil dengan mengetengahkan 2 gitaris terkemuka yaitu Ian Antono dan Eet Sjahranie. Selain itu didukung alm. Yockie Suryo Prayogo, alm. Donny Fattah, Teddy Sujaya dan, tentu saja sang vokalis, Achmad Albar.
Sementara itu, sosok pemimpin dari “Gank Srigala Jalanan” diperankan oleh Teges Prita Soraya, yang pada saat itu bekerja sebagai Public Relation dari Hard Rock Café Thamrin Sarinah,Jakarta.
Video yang mendapatkan penghargaan pada ajang Video Musik Indonesia, periode 1997 – 1998 ini, sebenarnya memiliki sisi menarik yang lain. Sebenarnya merupakan kelanjutan dari cerita visual yang sebelumnya dibuka melalui lagu “Apa Kabar”. Kemudian “disambungkan” dengan treatment berita di salah satu stasiun televisi nasional. Adapun presenter pada stasiun televisi tersebut diperankan Dian Nitami, yang pada waktu itu juga dikenal sebagai host acara Video Musik Indonesia.
Dan pada ending video Srigala Jalanan, keluar teks, “This is not the End!” Penutup yang memperlihatkan bahwa dunia visual dan cerita yang dibangun, sebenarnya direncanakan untuk terus berlanjut. Sayangnya, hingga hari ini kelanjutannya, belum dapat diwujudkan.
Dan karena itulah, karya ini pada akhirnya terasa memiliki “unfinished energy”, yang sebenarnya masih hidup sampai sekarang ini. Hari ini, video music ini mempunyai nilai historis yang kuat, karena memperlihatkan bagaimana video music Indonesia mulai bergerak menuju cinematic storytelling, visual world building dan identitas visual yang lebih berani. Dan pada akhirnya, video music Srigala Jalanan ini, bukan sekedar mengenai musik keras.
Tetapi sejatinya, tentang bagaimana enerji rock diterjemahkan menjadi dunia visual yang hidup, bergerak dan penuh atmosfir urban-industrial khas e ra 90-an. Walau sayangnya video ini, tentu tidak dapat mengikuti program #IMVA_Official – Indonesian Music Video Awards, karena telah dipublikasikan jauh sebelum batas periode partisipasi (September 2002).
Walaupun begitu, karya ini tetap menjadi salah satu referensi penting dalam melihat perkembangan Bahasa visual dari video music rock Indonesia. XPOSEINDONESIA/dM foto : dok. #IMVA_Official



