Deru mesin dan aroma lintasan balap sudah menjadi bagian dari kehidupan keluarga Sungkar selama puluhan tahun. Dari era almarhum Helmy Sungkar sebagai pelopor motorsport Indonesia, dilanjutkan oleh Rifat Sungkar yang menorehkan prestasi di berbagai ajang reli nasional dan internasional, kini estafet itu mulai diarahkan kepada generasi ketiga keluarga tersebut, yakni El Mayka Sungkar.
Namun berbeda dengan banyak kisah pembalap muda yang langsung dibentuk untuk mengejar podium, Rifat memilih jalan yang lebih panjang. Melalui program bertajuk The Legend Continues, Rifat Sungkar mulai menyiapkan putranya, El Mayka Sungkar, sebagai generasi penerus keluarga Sungkar di dunia motorsport. Program tersebut diperkenalkan dalam konferensi pers yang digelar di The Goods Diner, Ratu Plaza, Jakarta Selatan, Selasa (2/6/2026), sekaligus menjadi langkah awal perjalanan panjang pembinaan El Mayka menuju dunia balap profesional.
Bagi Rifat Sungkar, The Legend Continues bukanlah program untuk menciptakan “Rifat Sungkar berikutnya”. Sebaliknya, program ini dirancang sebagai proses pembentukan karakter, mental, disiplin, komunikasi, dan rasa hormat terhadap proses yang selama puluhan tahun menjadi fondasi keluarga Sungkar dalam dunia balap.
“Theme The Legend Continues kami gunakan karena memang sesuai dengan perjalanan keluarga kami di dunia balap yang kini sudah memasuki generasi ketiga. Dimulai dari generasi orang tua kami, kemudian saya dan Rizal, dan sekarang mulai berlanjut ke anak-anak kami, salah satunya El Mayka,” ujar Rifat Sungkar.
Rifat mengaku sebenarnya sudah menyatakan pensiun dari dunia balap profesional beberapa tahun lalu. Namun ketertarikan El Mayka terhadap otomotif membuatnya kembali terlibat lebih dalam, kali ini sebagai mentor dan ayah yang membimbing putranya mengenal dunia motorsport sejak dini.
Menariknya, Rifat memilih pendekatan yang berbeda dibanding banyak orang tua pembalap lainnya. Alih-alih langsung menempatkan El Mayka sebagai pembalap, ia justru memperkenalkannya terlebih dahulu sebagai navigator atau co-driver dalam ajang reli.
Menurut Rifat, posisi navigator memberikan pemahaman yang jauh lebih lengkap mengenai dunia balap. Seorang navigator harus mampu membaca pace note, memahami karakter lintasan, menjaga komunikasi dengan pembalap, hingga mengambil keputusan cepat dalam tekanan tinggi.
“Saat ini dia belum menjadi pembalap. Saya ingin dia belajar dulu sebagai navigator. Tujuannya supaya dia memahami ritme balapan, kecepatan mobil, dan bagaimana mengambil keputusan di dalam mobil balap. Konsep yang kami jalankan adalah on the job training,” jelasnya.
Pendekatan tersebut ternyata memberikan hasil yang cukup positif. Rifat melihat El Mayka mampu beradaptasi dengan baik dan menunjukkan ketertarikan yang besar terhadap dunia reli.
Bahkan salah satu momen yang paling membekas bagi Rifat terjadi saat keduanya menjalani balapan di Semarang. Sebelum balapan berlangsung, Rifat hanya mengajarkan El Mayka membaca pace note di meja makan. Namun ketika kompetisi berlangsung, keduanya sempat berbeda pendapat mengenai catatan jarak lintasan.
“Saat balapan pertama ada momen yang membuat saya terkesan. Kami sempat berbeda pendapat soal jarak pada pace note. Setelah dicek ternyata dia yang benar. Saat itu saya mulai melihat bahwa dia memiliki insting dan kemampuan yang cukup baik,” katanya.
Meski menunjukkan perkembangan yang menjanjikan, perjalanan El Mayka tentu tidak selalu mulus. Putra Rifat tersebut mengaku pernah mengalami kepanikan saat kehilangan posisi catatan pace note di tengah balapan.
“Waktu itu saya sempat kehilangan posisi catatan dan merasa panik karena pace note sangat penting bagi navigator dan pembalap. Untungnya saya bisa menemukan kembali bagian yang terlewat dan melanjutkan balapan,” ungkap El Mayka.
Bagi Rifat, pengalaman tersebut justru menjadi salah satu pelajaran paling berharga dalam proses pembinaan putranya. Ia mengaku bangga bukan karena El Mayka selalu tampil sempurna, melainkan karena memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi ketika melakukan kesalahan.
“Dia sampai menangis karena merasa kecewa pada dirinya sendiri. Saya bilang tidak apa-apa melakukan kesalahan. Tidak ada orang yang selalu menang. Kadang kita menang, kadang kita belajar dari kekalahan,” ujar Rifat.
Menariknya, pada balapan berikutnya justru Rifat yang melakukan kesalahan. Momen tersebut menjadi pelajaran bahwa bahkan pembalap berpengalaman sekalipun masih bisa melakukan kekeliruan.
Selain fokus pada dunia reli, El Mayka juga aktif menjalani aktivitas olahraga lainnya. Remaja berusia 12 tahun itu diketahui gemar bermain sepak bola dan bahkan pernah mengikuti turnamen di Abu Dhabi serta Bali.
Ketika ditanya mengenai pelajaran terbesar yang diperoleh dari sepak bola, El Mayka menjawab bahwa olahraga tersebut mengajarkannya untuk tidak mudah menyerah ketika mengalami kekalahan.
“Pelatih mengajarkan untuk tidak menyerah dan terus berlatih lebih keras,” katanya.
Bagi Rifat, pengalaman di berbagai cabang olahraga justru penting untuk membentuk karakter dan mental seorang atlet. Karena itulah ia tidak ingin putranya hanya fokus pada motorsport sejak usia dini.
“Yang penting sekarang adalah membangun karakter, disiplin, dan fisiknya terlebih dahulu. Nanti ketika waktunya tiba, dia bisa menentukan jalannya sendiri,” kata Rifat.
Program The Legend Continues sendiri dirancang dalam lima fase pembinaan jangka panjang yang akan berlangsung hingga tahun 2031.
Fase pertama adalah Foundation (2025-2026). Pada tahap ini El Mayka diperkenalkan kepada dunia reli sebagai navigator dan learner. Fokusnya adalah memahami dasar-dasar balap, membaca pace note, navigasi, komunikasi tim, serta membangun disiplin dan tanggung jawab.
Memasuki fase Transition (2027), El Mayka mulai diarahkan mengikuti kompetisi junior tingkat pemula. Fokusnya bukan mengejar kemenangan, melainkan membangun pengalaman dan konsistensi.
Tahap berikutnya adalah Development (2028-2029). Pada periode ini kemampuan teknik, strategi balap, kerja sama tim, dan mental bertanding akan mulai diasah di level nasional junior.
Selanjutnya fase Preparation (2030) menjadi masa persiapan menuju level profesional sebagai advanced driver dengan tanggung jawab yang semakin besar sebagai atlet.
Puncaknya adalah fase Continuation (2031) ketika El Mayka diproyeksikan siap bersaing sebagai pembalap independen di level nasional maupun internasional junior.
Rifat menegaskan bahwa proses tersebut tidak boleh dilakukan secara terburu-buru. Pengalamannya sendiri menjadi alasan mengapa ia memilih pendekatan yang lebih sabar dan bertahap.
“Saya sendiri baru mulai serius di dunia balap pada usia sekitar 14 sampai 15 tahun. Karena itu saya memahami pentingnya proses. Banyak orang ingin langsung berkompetisi dan menang. Padahal proses observasi dan belajar juga sangat penting,” tuturnya.
Pada tahun 2026, El Mayka direncanakan mengikuti empat seri Sprint Rally bersama sang ayah. Selain itu, ia juga akan diajak menyaksikan berbagai kompetisi di luar negeri untuk mempelajari bagaimana sistem balap internasional berjalan, bagaimana tim bekerja, dan bagaimana para pembalap profesional mempersiapkan diri.
Di luar dunia reli, El Mayka juga memiliki sejumlah idola olahraga. Untuk balap, ia mengidolakan Max Verstappen, sementara di sepak bola ia mengagumi Cristiano Ronaldo.
Meski demikian, ketika ditanya harus memilih antara sepak bola dan motorsport saat ini, El Mayka mengaku masih lebih sering bermain sepak bola. Namun ketertarikannya terhadap dunia reli terus berkembang seiring pengalaman yang diperolehnya bersama sang ayah.
Bagi Rifat, hal tersebut bukan masalah. Ia tidak ingin memaksakan jalan hidup tertentu kepada putranya.
“El Mayka adalah generasi ketiga keluarga Sungkar di motorsport, tetapi saya tidak ingin dia hidup di bawah bayang-bayang siapa pun. Saya ingin dia tumbuh dengan caranya sendiri, menemukan passion-nya sendiri, dan suatu hari nanti berdiri di lintasan sebagai dirinya sendiri, bukan sekadar anak dari seorang Rifat Sungkar,” tegasnya.
Program The Legend Continues yang mendapat dukungan teknologi Telkomsel 5G ini menjadi simbol bahwa warisan terbesar dalam dunia motorsport bukan hanya trofi dan kemenangan. Lebih dari itu, warisan tersebut berupa nilai-nilai kehidupan, disiplin, komunikasi, kerja keras, serta keberanian untuk terus belajar dari setiap pengalaman.
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, beberapa tahun mendatang dunia motorsport Indonesia berpotensi kembali menyaksikan nama Sungkar bersaing di lintasan reli. Namun kali ini bukan Helmy Sungkar atau Rifat Sungkar, melainkan El Mayka Sungkar yang tengah menulis kisahnya sendiri sebagai generasi ketiga keluarga besar motorsport Indonesia. XPOSEINDONESIA/IHSAN



