27.1 C
Jakarta
Friday, September 30, 2022

Film Lara Ati : Idealisme Bayu Skak Membuat Bahasa Daerah Tidak Katro

- Advertisement -
- Advertisement -

Bayu Skak (28) tahun adalah anak muda dengan profesi rangkap, sebagai pemain, sutradara, juga penulis skenario. Ia memiliki idealisme dan nasionalisme tinggi dalam menggarap karyanya.
Lewat film “Lara Ati”, misalnya film itu sepanjang 116 menit menggunakan bahasa Jawa, tanpa banyak berkoar-koar ia menunjukan identitas tersebut.rangkap;

“Selama ini, masyarakat di perkotaan, kalau melihat dan mendengar sesuatu yang berbau kedaerahan, selalu bilang Katro, ndeso. Ini bukan hanya berlaku untuk Jawa saja, tapi juga kedaerahan yang lain,” ungkap Bayu dalam wawancara di Epicentrum sebelum press screening film Lara Ati.

“Saya ingin mengubah anggapan katro dan ndeso itu dan menjadikannnya keren. Sehingga tidak ada alasan lagi masyarakat meremehkan kedaerahan, film ini dibuat dengan semanggat menjunjung tinggi kedaerahan!” ungkap Bayu Skak yang memulai karienya sebagai YouTubenya sejak tahun 2009 yang telah memiliki lebih dari 3 juta follower.

Komedi Suroboyo

- Advertisement -


Film “Lara Ati” digarap Bayu di bawah naungan BASE Entertainment ini akan tayang serempak pada Kamis (15/9/2022) di bioskop Indonesia.

Lara Ati menyuguhkan komedi dan kisah anak muda bernama Joko yang berada di fase usia menjelang akhir 20-an, dan menghadapi Quarter life crisis, di mana ia ia tidak terlalu menyukai pekerjaan di kantor. Sementara orangtuanya tidak mendukung minatnya mendalami pekerja sebagai desain grafis. Hidup terasa makin berantakan karena ditinggal tunangan oleh pacarnya, Farah.

Bayu Skak kelahiran 13 November 1993 ini menjabarkan quarter life crisis cara simpel, tapi menghibur. Menyaksikan film berdurasi 116 menit, terasa, jalan cerita dalam film itu bukan rekayasa, tapi dekat dengan kehidupan nyata.

Bayu Skak berhasil membagi pengalamannya tanpa memaksa. Adegan-adegan mengalir apa adanya. Dua topik utama yang dibahas adalah perjuangan Joko (Bayu Skak) untuk bisa bekerja sesuai dengan passion-nya. Serta menegaskan bahwa orang-orang di usia Joko tidak selalu memiliki kehidupan percintaan yang mulus.

Karena seluruh film berjalan dalam bahasa Jawa, maka sungguh tepat menggandeng 80 persen artis yang terlibat wajib terbiasa menggunakan bahasa Jawa, terutama Jawa Suroboyo, karena kisah ini memang tentang kehidupan anak Surabaya.

Tatjana Saphira, sebagai pemeran Ayu, digambarkan sebagai wanita bule yang saat kecil tinggal di Jawa. Jika didengarkan secara seksama, memang pelafalan dialek Jawa Tatjana kurang medok , tapi ini menjadi realistis karena karakternya adalah blasteran, bukan Jawa tulen.

Baca Juga :  Dignitate : Komunikasi Keluarga yang Tersumbat

Keisya Levronka (Ajeng) yang asal Malang ini berhasil mencuri perhatian. Sebagai orang Jawa keturuan Arab, logat Jawa yang ia pakai terkesan natural dan menghibur.

Film ini semakin menarik, karena syuting di lokasi yang sama dengan latar ceritanya, yaitu Surabaya. Penonton yang memang tinggal di Surabaya akan dengan mudah menemukan Jalan Tunjungan, Peneleh, Bulak Banteng, hingga Bratang di dalam layar.

Bayu dan tim cukup cerdik memilih lokasi yang memang ikonik di Surabaya dan sekitarnya, seperti Jembatan Suramadu. Secara garis besar, desain produksi film Lara Ati (2022) dijahit dengan apik.

Selain itu, bagi orang Surabaya, pasti akan dibuat tersenyum ketika mendengarkan sound dan ambience yang film ini suguhkan. Salah satunya efek suara menjelang azan Magrib yang ikonik dengan lantunan ‘solah-solah’ atau salawat.

Ada Flashmon & Drama musikal

Di babak awal, muncul flashmob yang disetting di atas Jembatan Suramadu.

Joko yang tengah patah hati terjebak kemacetan dan pada akhirnya menari hingga bernyanyi bersama para pengendara lain. Adegan ini mengingatkan kita pada film La la Land.

Pada babak ketiga, penonton akan disuguhkan dengan aksi Bayu Skak bernyanyi bak di drama musikal. Cara pengemasan ini cukup unik dan menghibur, terlebih dengan lagu-lagu berbahasa Jawa yang diciptakan Bayu antara lain berjudul “Iki Uripku”.

Ada pula lagu “Musuh Wong Sugih” yang ditulis dan dinyanyikan oleh Alvan Septy, sahabat dekat Bayu Skak, mulai jaman dirinya berkarir di Youtube.

Di luar itu muncul pula penyanyi Denny Caknan di kafe menyanyikan lagu “Kartoyo Medot Janji”, sebuah lagu superhits miliknya yang sudah di view lebih dari 250 juta kali

Satu hal yang menarik dari film ini adalah, meski sebagai film komedi, warna dan sudut pengambilan gambar film cenderung menyerupai film romantis.

Color grading yang dipilih cenderung hangat dengan warna-warna oranye. Bayu Skak sering menyuguhkan background kerlap-kerlip lampu blur di belakang karakter, terutama pada adegan romantis, seperti antara Joko-Ayu hingga Fadli-Ajeng.

Ngak percaya? Ayo langsung ke bioskop! “Lara Ati” bagus jadi bahan tontonan akhir pekan ini. XPOSEINDONESIA Foto : Dokumentasi

- Advertisement -

Latest news

- Advertisement -

Related news

- Advertisement -