25 C
Jakarta
Saturday, January 21, 2023

Nano Riantiarno Berpulang

- Advertisement -
- Advertisement -

Nobertus Riantiarto atau dikenal dengan nama top Nano  Riantiarno  wafat pada Jumat, 20 Januari 2023 dalam usai 73 tahun ( 6 Juni 1949). 

Nano Riantiarno adalah pendiri  Teater Koma sejak 1 Maret 1977.  Bersama  kelompok ini,  hingga 2006  Teater Koma telah menggelar sekitar 111 produksi panggung dan televisi.

Aktor, sekaligus penulis dan sutradara ini lahir di Cirebon pada 6 Juni 1949, 73 tahun silam. Nano menamatkan Sekolah Menengah Atas pada 1967 kemudian melanjutkan kuliah di Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) Jakarta. Saat berkuliah, ia bergabung dengan Teguh Karya dan turut serta mendirikan Teater Populer pada 1968.

Perjalanan berkariernya di dunia hiburan berlanjut hingga jenjang pendidikan selanjutnya, pada 1971 ia masuk Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara dan mendirikan Teater Koma enam tahun kemudian.

- Advertisement -

Melansir dari kanal teaterkoma.org, pria kelahiran Cirebon, Jawa Barat itu menikah dengan seorang aktris Ratna Karya Madjid Riantiarno pada 23 April 1952 dan dikaruniai tiga orang putra.

Pada masa-masa berkariernya, anak dari pasangan Albertus Sumardi dan Agnes Artini ini sering memanggungkan karya-karya penulis kelas dunia. Mulai dari The Threepenny Opera dan The Good Person of Schechzwan karya Bertolt Brecht, The Comedy of Error dan Romeo Juliet karya William Shakespeare, Women in Parliament karya Aristophanes, dan lainnya.

Baca Juga :  Idri Sardi : "Jangan Panggil Saya Om!"

Nano berkeliling Indonesia untuk mengamati teater rakyat dan kesenian tradisi pada 1975.

Tidak hanya di tanah air, ia juga sempat berkeliling Negeri Sakura, Jepang untuk menghadiri undangan dari Japan Foundation pada 1987 dan 1997.

Pada tahun 1986 hingga 1999, mantan Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta ini juga mengunjungi beberapa negara di dunia seperti Skandinavia, Inggris, Perancis, Belanda, Italia, Afrika Utara, Turki, Yunani, Spanyol, Jerman, dan Cina.

Bukan hanya Teater Populer dan Teater Koma, bahkan Nano juga sempat berkiprah di bidang jurnalistik.

Ia ikut mendirikan Majalah Zaman pada 1979 dan menjabat sebagai redaktur.

Sementara pada Majalah Matra, ia menjabat pemimpin redaksi majalah gaya hidup pria itu mulai 1986.

Setelah pensiun sebagai wartawan pada 2001, ia berkiprah sebagai seniman dan pekerja teater. XPOSEINDONESIA Foto Tempo Dwianto Wibowo. Sumber Teks : Tempo.co

- Advertisement -

Latest news

- Advertisement -

Related news

- Advertisement -