Rockafella’s Vol. 20 Hadirkan Rock Klasik dan Regenerasi Speax di 25Avenue

Rockafella’s memasuki edisi ke-20 dengan menghadirkan para musisi lintas generasi dalam Rock and Roll for the Fellas di 25Avenue RA Premiere, Simatupang, Jakarta Selatan, Kamis (27/8/2026). Njet Barmansyah, Boris Gibson, Lilo, Kadri Mohammad, Daniel Hasbon, Reborn, Ryota, Electric Cadillac, hingga Speax tampil dalam panggung yang dikemas intim.

Tidak sekadar menghadirkan deretan musisi rock, Rockafella’s Vol. 20 juga membawa semangat untuk menjaga musik rock klasik tetap hidup sekaligus membuka ruang bagi generasi baru. Hal tersebut menjadi salah satu alasan Speax, band yang digawangi anak-anak muda usia SMA, ikut mendapat kesempatan tampil.

Adhytia Perkasa yang biasa disapa Adit, salah satu penggerak Rockafella’s, mengatakan pertemuan para musisi tersebut berangkat dari kecintaan yang sama terhadap musik rock, khususnya classic rock dan heavy metal dari berbagai era.

“Gue ngobrol sama Rifi untuk teman-teman di Rockafella’s ini. Kita pengen dapat aim-nya, yaitu ngumpulin sebanyak-banyaknya teman-teman yang senang musik classic rock, heavy metal, classic rock era 60-an, 70-an, 80-an, 90-an khususnya,” ujar Adit.

Menurutnya, Rockafella’s bukan sekadar band yang tampil reguler di kafe. Ia melihat Rockafella’s sebagai sebuah perkumpulan orang-orang yang memiliki passion terhadap musik rock klasik. Karena itu, acara seperti Rock and Roll for the Fellas lebih diarahkan sebagai ruang untuk kembali berkumpul dan bersilaturahmi.

“Gue nggak menganggap Rockafella’s ini hanya band kafe reguler. Gue anggap Rockafella’s ini juga satu kumpulan anak-anak yang passionate di dunia classic rock,” katanya.

Konsep intimate di 25Avenue juga sengaja dipilih untuk menghadirkan kembali suasana berkumpul yang sebelumnya mereka lakukan di Fat & Sim.

“Ngulangin silaturahmi zaman dulu tuh yang di Fat & Sim, tapi ini bikinnya di 25Avenue karena intimate,” ujar Adit.

Format tersebut membuat musisi dan penonton berada dalam jarak yang lebih dekat. Menurut Adit, skala acara bukan persoalan utama karena yang ingin dibangun justru hubungan antarsesama pencinta musik.

“Ini lebih karena kecintaan kita, kesenangan kita kumpul, dan Rock and Roll for the Fellas itu aim-nya. Fellas-nya ini perkumpulan teman-temannya. Itu yang mau dibangun,” tuturnya.

Speax dan Harapan Regenerasi

Di tengah nama-nama yang sudah lama berada di lingkaran musik rock, kehadiran Speax menjadi warna tersendiri. Band yang beranggotakan anak-anak muda usia SMA tersebut membawa lagu-lagu dari era yang bahkan lahir jauh sebelum mereka mengenal panggung.

Adit mengenal Speax melalui sang ayah yang pernah aktif bersama band metal Hyper Season. Ia kemudian beberapa kali menyaksikan penampilan mereka di Bulungan hingga melihat potensi yang membuatnya tertarik memberikan ruang lebih besar.

“Yang gue salut banget sama spiritnya mereka. Di tengah anak-anak seumur segitu, nggak ada yang memainkan musik seperti ini,” ujar Adit.

Rockafella’s Vol. 20 menjadi penampilan ketiga Speax dalam rangkaian acara tersebut. Adit melihat perkembangan mereka cukup jelas. Jika pada penampilan pertama masih terlihat canggung, kini mereka mulai tampil lebih percaya diri.

“Gue ngelihat banget dari yang pertama kali main masih agak canggung-canggung. Sekarang udah kayak orang rockstar,” katanya.

Perubahan tersebut bukan hanya terlihat dari permainan musik, tetapi juga gaya berpakaian dan keberanian mereka ketika berada di atas panggung.

Adit pun ikut memberikan arahan sebelum Speax tampil. Menurutnya, bermain di ruang intimate membutuhkan pendekatan berbeda. Energi musik tetap harus terasa, tetapi tidak cukup hanya dengan bermain keras.

“Kita nih tempat kecil, intimate. Kita nggak bisa asal berisik. Gimana caranya lu main, message-nya ke-deliver sampai audience?” ujarnya.

Speax kemudian membuka penampilannya dengan “Mr. Crowley” milik Ozzy Osbourne. Mereka melanjutkannya dengan “Home Sweet Home” dari Mötley Crüe, sebelum kembali menggeber panggung melalui “Crazy Train” dari Ozzy Osbourne yang lekat dengan permainan gitar Randy Rhoads.

Pilihan musik tersebut memperlihatkan bagaimana generasi muda mulai menemukan jalannya sendiri melalui musik rock klasik dan heavy metal.

Bagi Njet Barmansyah, vokalis The Flowers yang tampil bersama Boris Gibson, keberadaan generasi seperti Speax menjadi penting ketika musisi yang konsisten memainkan classic rock semakin sedikit.

“Apalagi classic rock ya, makin sedikit, ya makin hilang,” ujar Njet.

Menurut Njet, Rockafella’s menjadi salah satu kelompok yang masih meneruskan musik tersebut. Meski sebagian besar pemainnya sudah tidak muda lagi, mereka tetap menjaga agar musik rock klasik tidak berhenti pada satu generasi.

Karena itu, ia menyambut baik kehadiran Speax. Njet mengaku pernah menyaksikan mereka tampil membawakan Black Sabbath dalam acara sebelumnya.

“Ini menjadi angin segar lah untuk kita,” katanya.

Pesan Njet untuk anak-anak muda tersebut pun sederhana, yakni terus bermain dan berkembang tanpa melupakan akar musik yang mereka bawa.

“Terus, terus, jangan berhenti. Jangan lupa sama akar,” tegasnya.

Silaturahmi Musisi Rock

Rockafella’s Vol. 20 juga menghadirkan format khusus dengan mempertemukan tiga vokalis dalam satu panggung, yakni Rifi, Mas Ito, dan Vallen. Kehadiran Njet, Boris, Lilo, Kadri, serta para musisi lainnya semakin memperkuat nuansa silaturahmi yang menjadi bagian penting dari acara tersebut.

Menurut Adit, pemilihan hari Kamis juga berkaitan dengan agenda reguler Rockafella’s. Mereka memiliki jadwal bermain pada Rabu di Summarecon dan agenda Friday Madness di Fat & Sim.

“Kamis karena libur. Simpel sih, karena libur,” katanya sambil tertawa.

Ke depan, Adit membuka kemungkinan 25Avenue menjadi salah satu tempat untuk pertemuan reguler Rockafella’s. Namun, formatnya tidak harus selalu berupa special show seperti Vol. 20.

“Jadi kita mau bikin paling tidak sebulan sekali. Tapi nggak yang seperti ini. Kita, Rockafella’s, kumpul-kumpul untuk mengulang kumpul-kumpulnya itu sih,” ujarnya.

Dari sisi musik, malam itu diisi repertoar rock lintas era. Rockafella’s membawa lagu-lagu Deep Purple. Kadri Mohammad membawakan “Apatis” dari LCLR, sementara Lilo menghadirkan lagu-lagu Queen dan Toto.

Njet dan Boris membawa The Flowers lewat “Tolong Bu Dokter” dan “Nggak Ada Matinya”, ditambah satu lagu Rolling Stones. Reborn, yang sebelumnya ditemukan Adit saat tampil di Fat & Sim, hadir dengan pilihan lagu dari Led Zeppelin, Badlands, hingga AC/DC.

Sementara itu, Speax membawa energi generasi muda melalui musik Ozzy Osbourne dan Mötley Crüe.

Pertemuan tersebut akhirnya menunjukkan bahwa Rockafella’s tidak hanya berbicara tentang nostalgia. Di satu panggung, musisi yang telah lama memainkan rock klasik bertemu dengan generasi yang baru mulai mengenalnya.

Rockafella’s Present Vol. 20 menjadi ruang untuk menjaga pertemanan sekaligus membuka jalan bagi regenerasi. Musik boleh datang dari era yang berbeda, tetapi semangatnya tetap sama: terus dimainkan dan tidak kehilangan akarnya. XPOSEINDONESIA/IHSAN

spot_img

Must Read

Related Articles