Kepo Kosmopo: Pameran Arsip DKJ yang Mengajak Publik Membaca Ulang Sejarah Jakarta sebagai Kota Kosmopolitan

Di balik poster pertunjukan yang mulai menguning, gulungan pita video, katalog pameran, hingga surat-surat diplomatik yang tersimpan puluhan tahun, tersimpan kisah panjang perjalanan Jakarta sebagai kota yang sejak lama berdialog dengan dunia.

Cerita itulah yang dihadirkan dalam Kepo Kosmopo: Melampaui “Gincu Dunia Ketiga”, sebuah pameran arsip dan koleksi Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang berlangsung di Selasar Nashar, Paviliun Raden Saleh, ARTOTEL Curated, lantai 8 Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki (TIM), pada 4–14 Agustus 2026.

Pameran hasil riset Dian Selira ini tidak sekadar memamerkan dokumen lama, melainkan mengajak publik melihat bagaimana arsip mampu menjadi jendela untuk memahami perkembangan seni, kebudayaan, hingga identitas Jakarta sebagai kota yang terbentuk melalui perjumpaan berbagai gagasan dari seluruh dunia.

Alih-alih memaknai “kepo” sebagai rasa ingin tahu yang berlebihan, pameran ini justru mengangkatnya sebagai keberanian untuk terus bertanya, belajar, dan membuka ruang dialog lintas budaya.

Selama lebih dari lima dekade, Dewan Kesenian Jakarta merekam berbagai aktivitas seni, mulai dari pameran seni rupa, pertunjukan teater, konser musik, festival film, diskusi sastra, hingga kolaborasi internasional yang kini menjadi bagian penting dari sejarah kebudayaan Indonesia.

Melalui ribuan arsip tersebut, publik diajak memahami bahwa sejarah bukan sekadar nostalgia, melainkan sumber pembelajaran untuk menghadapi tantangan kebudayaan masa kini.

General Manager Paviliun Raden Saleh, ARTOTEL Curated, Asco Hamdani, mengatakan pihaknya merasa bangga dapat menjadi bagian dari penyelenggaraan pameran tersebut.

“Sebagai hotel yang tumbuh di lingkungan Taman Ismail Marzuki, kami memiliki kedekatan yang kuat dengan semangat seni dan budaya yang hidup di kawasan ini. Melalui pameran ‘Kepo Kosmopo’, kami berharap semakin banyak masyarakat yang dapat mengakses, memahami, dan terlibat dalam percakapan mengenai sejarah serta masa depan kebudayaan Indonesia,” ujarnya.

Salah satu gagasan utama yang ditawarkan pameran ini adalah membaca ulang semangat kosmopolitanisme Jakarta.

Berbeda dengan anggapan bahwa kosmopolitan lahir karena modernisasi atau globalisasi, riset DKJ justru menunjukkan Jakarta telah menjadi ruang perjumpaan berbagai budaya jauh sebelum Taman Ismail Marzuki berdiri pada 1968.

Sebagai kota pelabuhan, Jakarta sejak lama menjadi tempat bertemunya seniman, akademisi, diplomat, hingga pekerja budaya dari berbagai negara.

Perjumpaan itulah yang kemudian membentuk wajah kebudayaan Jakarta, bukan melalui proses meniru budaya luar, melainkan melalui dialog dan pertukaran gagasan yang berlangsung secara alami.

Melalui arsip yang dipamerkan, pengunjung dapat melihat berbagai dokumentasi kerja sama internasional Dewan Kesenian Jakarta dengan banyak negara, mulai dari Australia, Prancis, Inggris, Jerman, Polandia, Iran, hingga negara-negara Asia Tenggara.

Kolaborasi tersebut melahirkan berbagai festival seni, pertunjukan teater, konser musik, pameran seni rupa, hingga forum sastra yang mempertemukan seniman Indonesia dengan komunitas internasional.

Dari sinilah muncul pemahaman bahwa seni menjadi salah satu bentuk diplomasi budaya yang efektif, bahkan ketika kondisi ekonomi dan politik saat itu masih penuh keterbatasan.

Judul “Melampaui Gincu Dunia Ketiga” sendiri diambil dari kritik seorang seniman Nigeria dalam Festival Teater Dunia Ketiga di Seoul pada 1981.

Ia mengingatkan agar kebudayaan tidak hanya dijadikan “gincu” atau hiasan untuk mempercantik citra negara berkembang, melainkan menjadi fondasi pembangunan yang sesungguhnya.

Pesan tersebut dinilai tetap relevan hingga saat ini, ketika seni dan budaya semakin dipandang sebagai bagian penting dalam membangun identitas bangsa sekaligus memperkuat daya saing kota di tingkat global.

Pameran juga memperlihatkan bagaimana perjalanan seni Indonesia terus berkembang mengikuti perubahan zaman.

Memasuki era Reformasi, praktik seni menjadi semakin terbuka terhadap berbagai isu seperti demokrasi, lingkungan, hak asasi manusia, keberagaman gender, hingga persoalan masyarakat adat.

Arsip menunjukkan seni bukan hanya menjadi media ekspresi, tetapi juga ruang untuk merawat memori kolektif, mengkritisi perubahan sosial, sekaligus membayangkan masa depan.

Kepala Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki, Han Sanjaya, menegaskan bahwa arsip memiliki posisi yang sangat penting dalam ekosistem seni.

Menurutnya, arsip bukan sekadar kumpulan dokumen yang disimpan di rak, tetapi merupakan ingatan kolektif yang merekam perjalanan lahirnya berbagai gagasan, dialog antarseniman, hingga perkembangan kebudayaan Indonesia.

Karena itu, Taman Ismail Marzuki diharapkan terus menjadi ruang yang mempertemukan sejarah, kreativitas, penelitian, dan percakapan lintas generasi.

Pada akhirnya, Kepo Kosmopo bukan sekadar pameran arsip. Pameran ini menjadi ajakan untuk melihat kembali bagaimana sebuah kota besar dibangun bukan hanya oleh gedung, jalan raya, atau investasi ekonomi, melainkan juga oleh keberanian berdialog, keterbukaan terhadap berbagai budaya, serta kemauan untuk terus belajar dari dunia tanpa kehilangan identitas sendiri.

Selama berlangsung hingga 14 Agustus 2026, pameran ini terbuka untuk umum di Selasar Nashar, Paviliun Raden Saleh, ARTOTEL Curated, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Pengunjung juga dapat memperoleh informasi lebih lanjut melalui akun Instagram @paviliunradensaleh maupun menghubungi pihak penyelenggara. XPOSEINDONESIA/IHSAN

spot_img

Must Read

Related Articles