OCBC Dorong UKM Ciptakan Produk Berkelanjutan Lewat Program RISE, Ubah Limbah Jadi Peluang Ekonomi

Keberlanjutan kini bukan lagi sekadar tren, melainkan mulai menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Melihat perubahan perilaku konsumen tersebut, PT Bank OCBC NISP Tbk (OCBC) menghadirkan program RISE (Responsible Innovation for Sustainable Everyday Lifestyle) untuk mendorong pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) menciptakan produk ramah lingkungan yang kreatif, fungsional, sekaligus memiliki nilai ekonomi.

Program yang diperkenalkan di Jakarta pada Rabu (5/8/2026) ini menjadi langkah baru OCBC dalam memperluas implementasi ekonomi sirkular melalui kolaborasi dengan pelaku UMKM, mentor industri, hingga komunitas perempuan wirausaha.

RISE lahir dari perpaduan program OCBC Preneurship dan Upcydea Festival, yang selama ini menjadi bagian dari inisiatif tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) OCBC di bidang keberlanjutan.

Langkah ini juga berangkat dari temuan Voice of the Consumer Survey 2025 yang dirilis PwC. Survei tersebut menunjukkan sebanyak 62 persen konsumen Indonesia mengaku khawatir terhadap perubahan iklim, namun sebagian besar belum menjadikan isu lingkungan sebagai pertimbangan utama dalam keputusan pembelian sehari-hari.

Karena itu, OCBC ingin menjembatani kesenjangan tersebut dengan menghadirkan produk berkelanjutan yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Brand & Communication Head OCBC, Aleta Hanafi, mengatakan perubahan menuju gaya hidup yang lebih ramah lingkungan dapat dimulai dari hal-hal sederhana.

“Melalui RISE (Responsible Innovation for Sustainable Everyday Lifestyle), kami ingin menunjukkan bahwa sustainability tidak harus rumit ataupun mahal. Kami percaya perubahan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten,” ujar Aleta.

Sebanyak 50 UKM mengikuti program ini, terdiri dari 25 pelaku usaha kuliner dan 25 pelaku usaha fesyen serta kriya. Selama program berlangsung, mereka mendapatkan pelatihan, workshop, mentoring, hingga proses kurasi untuk mengembangkan produk yang mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam model bisnis mereka.

Program tersebut dijalankan bersama Femalepreneur Indonesia, dengan fokus membantu UKM mengembangkan inovasi yang tidak hanya memberikan keuntungan ekonomi, tetapi juga berdampak positif bagi lingkungan.

Salah satu hasil nyata dari program RISE adalah pemanfaatan seragam bekas karyawan OCBC yang diolah kembali menjadi kain baru dan kemudian diproduksi menjadi berbagai produk fesyen maupun kebutuhan sehari-hari.

Produk-produk tersebut dipasarkan kepada karyawan OCBC, sementara hasil penjualannya digunakan untuk mendukung program penanaman pohon mangrove.

Menurut desainer sekaligus mentor program, Billy Tjong, keberlanjutan seharusnya dipandang sebagai ruang untuk menciptakan inovasi baru.

“Perubahan lingkungan, tren, dan perilaku konsumen membuat pelaku usaha harus terus beradaptasi. Bagi saya, sustainability adalah innovation. Ketika kita mampu melihat keterbatasan sebagai peluang, justru di situlah lahir ide, material, dan produk baru yang memiliki nilai ekonomi,” katanya.

Sementara itu, Women’s Entrepreneurship Advocate, Petty S. Fatimah, menilai konsumen saat ini tidak hanya membeli produk, tetapi juga memperhatikan cerita dan nilai yang menyertainya.

“Konsumen sekarang tidak hanya membeli barang, tetapi juga cerita di balik produk tersebut. Karena itu kami membantu UKM melihat bagaimana material daur ulang dapat diolah menjadi produk yang menarik, kreatif, dan memiliki nilai jual,” ujarnya.

Program RISE juga menjadi kelanjutan dari komitmen OCBC dalam menerapkan konsep circular economy yang dimulai sejak 2023.

Saat itu OCBC mengajak karyawan mengembalikan seragam yang sudah tidak digunakan untuk didonasikan dan dimanfaatkan kembali.

Pada 2024, program tersebut berkembang menjadi produksi berbagai barang hasil daur ulang yang dipasarkan secara internal. Seluruh keuntungan kemudian digunakan untuk membeli bibit mangrove.

Memasuki 2025, OCBC meluncurkan Upcydea Festival, yang berhasil mengolah 256 kilogram seragam batik bekas menjadi berbagai produk fesyen. Program tersebut menghasilkan penjualan senilai Rp43,7 juta, yang seluruhnya didonasikan untuk penanaman 2.185 pohon mangrove, dengan estimasi manfaat lingkungan berupa pengimbangan sekitar 258,89 kilogram emisi karbon CO2e.

Tahun ini, implementasi ekonomi sirkular tersebut diperluas, termasuk ke cabang Semarang, sekaligus menghadirkan RISE sebagai ruang pembelajaran bagi UKM agar praktik keberlanjutan dapat menjadi bagian dari strategi bisnis mereka.

Melalui program ini, OCBC berharap semakin banyak pelaku usaha melihat sustainability bukan sebagai beban tambahan, melainkan peluang untuk menghadirkan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan pasar sekaligus memberikan dampak positif bagi lingkungan. XPOSEINDONESIA/IHSAN

spot_img

Must Read

Related Articles