Transformasi industri perhotelan di Yogyakarta kian menunjukkan dinamika yang kompetitif, seiring meningkatnya jumlah properti dan perubahan preferensi wisatawan, khususnya dari kalangan generasi muda. Di tengah kondisi tersebut, PT NATTA Hospitality Management mengambil langkah strategis dengan melakukan renovasi besar pada Nueve Malioboro Yogyakarta guna memperkuat daya saing sekaligus meningkatkan standar layanan.
Proyek transformasi ini tidak sekadar memperluas kapasitas, tetapi juga menjadi bagian dari repositioning brand hotel agar lebih relevan dengan tren pasar saat ini. Managing Director Thomas Matantu menjelaskan bahwa pengembangan dilakukan secara bertahap dengan pendekatan terukur, mengingat pentingnya menjaga keseimbangan antara operasional bisnis dan peningkatan kualitas produk.
Awalnya memiliki 40 kamar, hotel ini berkembang menjadi 63 kamar, dan dalam tahap renovasi akan ditingkatkan menjadi 81 kamar sekaligus naik kelas menjadi hotel bintang empat. Pengembangan dilakukan di atas lahan seluas sekitar 3.000 meter persegi, dengan tambahan sekitar 1.000 meter persegi untuk pembangunan dua tower baru yang akan dilengkapi fasilitas kamar, ruang pertemuan, hingga area parkir yang lebih memadai.
Tidak hanya menambah jumlah kamar, manajemen juga meningkatkan kualitas dengan menghadirkan ukuran kamar yang lebih lega, mulai dari 21 hingga 23 meter persegi dengan pilihan tipe deluxe, family room, hingga junior suite. Langkah ini menjadi bagian dari strategi menghadirkan pengalaman menginap yang lebih nyaman sekaligus kompetitif di segmen urban hospitality.



Perubahan paling mencolok terlihat dari konsep desain yang kini beralih dari nuansa tradisional bergaya joglo menjadi desain semi-Japanese yang minimalis dengan dominasi elemen kaca. Pendekatan ini dipilih untuk menjawab kebutuhan pasar yang semakin mengutamakan estetika visual, kenyamanan, serta pengalaman yang “instagramable” bagi wisatawan muda.
“Pasar terbesar saat ini adalah anak muda, sehingga konsep kami arahkan ke sana. Hotel bukan hanya tempat menginap, tetapi juga bagian dari experience,” ujar Thomas, menegaskan arah transformasi yang dilakukan.
Dari sisi investasi, proyek ini menelan biaya sekitar Rp20 miliar hingga Rp25 miliar. Sekitar 65 kamar direnovasi total, sementara pengerjaan dilakukan secara bertahap agar operasional tetap berjalan. Strategi ini dinilai penting untuk menjaga arus pendapatan sekaligus mempertahankan tenaga kerja di tengah proses pembangunan.
Tahap awal renovasi dimulai sejak Februari dengan pembongkaran, kemudian dilanjutkan pada April dengan pengembangan area restoran, dapur, ruang acara, hingga rooftop. Kehadiran rooftop ini diproyeksikan menjadi salah satu daya tarik baru dengan panorama kota Yogyakarta yang khas, sekaligus memperkuat positioning hotel sebagai destinasi lifestyle.
Menariknya, di tengah proses renovasi, manajemen tetap menjalankan berbagai strategi promosi untuk menjaga tingkat hunian, terutama pada momentum Ramadan dan libur Lebaran yang menjadi peak season industri perhotelan.
Selain transformasi fisik, pembaruan juga dilakukan pada identitas visual hotel. Director of Operation Bobi Setia Budi menjelaskan bahwa logo baru dirancang untuk mencerminkan konsep modern yang diusung. Angka sembilan sebagai identitas utama tetap dipertahankan, terinspirasi dari nama “Nueve” serta alamat hotel di Jalan Mataram nomor 9.
“Angka 9 melambangkan angka tertinggi, sehingga menjadi simbol utama dalam logo. Bahkan huruf ‘e’ kami desain menyerupai angka 9 sebagai bagian dari identitas visual,” jelasnya.
Penggunaan warna merah dan emas juga memiliki makna tersendiri, di mana merah melambangkan keberanian dan energi, sementara emas mencerminkan kesan elegan serta keberlanjutan. Pendekatan visual ini diharapkan mampu memperkuat brand positioning hotel di tengah persaingan yang semakin ketat.
Langkah renovasi ini tidak bisa dilepaskan dari strategi besar NATTA Hospitality yang tengah melakukan ekspansi dan penguatan portofolio di berbagai kota. Dengan mengedepankan efisiensi operasional, pengalaman tamu, serta inovasi desain, perusahaan berupaya menghadirkan standar baru dalam pengelolaan hotel, khususnya di kota destinasi wisata seperti Yogyakarta.
Dengan target penyelesaian utama pada November 2026 dan dilanjutkan pembangunan tower baru di tahun berikutnya, Hotel Nueve Malioboro diproyeksikan menjadi salah satu akomodasi modern yang mampu menjawab kebutuhan pasar sekaligus memberikan pengalaman menginap yang berbeda di jantung kota budaya tersebut. XPOSEINDONESIA/IHSAN


