Generasi Terbaru Cockpit, Sejarah dan Warisan itu…

Ingatan seolah diterbangkan di masa beberapa waktu silam. Masih ada Yaya Moektio di drums, aksinya itu dengan baju gamisnya. Lalu ada sosok Raidy Noor, bassis, dengan topi dan tentu berkacamata, seringkali Raidy memilih memakai overcoat. Keduanya bak trademark-nya Cockpit. Keduanya dengan style masing-masing, tapi keduanya itu dikagumi dan dihormati banyak musisi. Dan, disukai oleh banyak fans Cockpit.

Lalu, bagaimana Cockpit sekarang, setelah ditinggalkan Raidy Noor? Raidy wafat karena sakit di rumahnya, pada 15 Oktober 2025. Sementara Yaya Moektio meninggal dunia. Yaya berpulang tepat 40 hari kemudian setelah kepergian Raidy Noor, yaitu pada 8 Desember 2025 di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan.

Persahabatan begitu “manis”, dari kedua motor utama Cockpit ini. Keduanyalah yang lantas menjalankan dan membawa Cockpit menjadi grup musik cover, khusus Genesis, salah satu yang terdepan dan terbaik. Yaya Moektio adalah salah satu pendiri Cockpit, yang didirikan tahun 1982.

Ini sedikit Sejarah Cockpit Band, pernah ditulis di tahun 2017 di website saya…. Beginilah :

Kalau menyoal pada Cockpit, berarti titik awalnya adalah Batara Band. Eits, jangan salah sangka dengan, Bharata. Batara memilih memang meng-cover lagu-lagu Genesis. Bharata kan ke Beatles. Itu awal 80-an, dimana personilnya adalah Oding NasutionYaya MoektioFreddy TamaelaHarry “Kuda” Minggoes dan Debby Nasution.

Batara kemudian menjadi Cockpit. Cockpit yang 80-an. Karena di era 1970-an ada juga Cockpit. Tapi beda banget, dan sama sekali tak ada hubungannya. Cockpit itu adalah Batara tetapi dengan Debby Nasution digantikan Roni Harahap.

Katanya sempat juga ada Harry Anggoman. Kalau menurut Oding, pertama kali Cockpit main dengan kibordisnya, Harry Anggoman. Ok pokoknya, Cockpit sendiri didirikan tahun 1982, main pertama kali di sebuah acara musik di TIM. Acaranya Sys NS kah? Dan kabarnya, mereka langsung dapat fans waktu itu.

Saya sempat googling juga, ada yang menulis bahwa Cockpit didirikan oleh Oding, Yaya, Dadan Izal dan Joseph Martam, sebagai Batara Band di awal 1980. Dimana mereka mengajak serta Freddy Tamaela sebagai vokalis.

Di belahan dunia lain, Genesis sendiri memasuki 1980 itu tersisa 3 original membersnya saja. Yaitu Banks, Rutherford dan Collins. Gabriel hengkang selepas rilis album The Lamb Lies Down on Broadway, yang seolah menggariskan berhentinya era Gabriel di musik Genesis.

2 tahun kemudian dirilis A Trick of the Tail, yang mengedepankan Phil Collins sebagai lead vocalist. Dimana untuk performance di panggungnya, mereka kemudian didukung pula oleh Bill Bruford, ex Yes. Masih di tahun sama, tapi di penghujung tahunnya, Genesis melepas Wind & Wuthering, ini album terakhir yang didukung Steve Hackett. Lalu pada tour mereka, diperkenalkanlah additional drummerChester Thompson.

Ah, saya cut tentang Genesis nya ya. Coba kita foikuskan pada Sejarah Cockpit saja. Boleh ga? Bolehlah ya….Boleh dong, ah!

Uniknya, yang memperkenalkan Genesis di sini sejatinya adalah Cockpit! At least gini, Cockpit seolah membawa penggemar mereka lantas makin menyukai Genesis dan jadi loyal, dalam hal membeli album-album mereka.

Pengalaman saya di era 1980-an itu, tidak sedikit anak-anak muda sebaya, mengenal Genesis karena Cockpit! Atau, mereka baru membeli 1-2 album Genesis, akhirnya lantas rutin menunggu rilis album-album baru selanjutnya.

…Kembali ke tanah air, tentu saja dengan Cockpit. Jadi Roni Harahap masuk di akhir 1982 menggeser Harry Anggoman. Pada 1984, bassis Harry “Kuda” digantikan oleh Raidy Noor. Nah di era 1980-an pertengahan itu nama Cockpit menjulang sangat tinggi.

Mereka bersaing serius dengan cover-bands lain, seperti Solid 80, Acid Speed Band. Yang mana menariknya, mereka masing-masing punya fans fanatik masing-masing. Eh soal Acid Speed dan Solid 80, sudah pernah saya tulis profilenya. Silahkan buka-buka saja website saya nan sederhana ini.

Yang “membedakan” Cockpit dengan cover-bands  “saingan” mereka adalah, Cockpit itu grup dengan stamina main di atas panggung, terhitung extraordinary! Mereka pernah main sampai 3 jam, dan itu ga hanya sekali dilakukannya. Main aja, capek ga capek ya terus aja. Kalau belum berhenti ya kita terusin, apalagi kalau penontonnya yang minta, begitu kenang Yaya Moektio.

Oding menambahkan, biasanya kita jadi main terus dan bablas ya karena penontonnya juga. Penonton minta nambah terus, ya kita kasih. Cuma karena kita sudah kayak kerasukan gimana gitu, maksudnya lupalah sama capek, minta tambah 1-2 lagu bisa-bisa kita kasihnya malah 5- lagu….! Sambung Oding lagi, diiyakan baik oleh Yaya dan Raidy Noor.

Pengalaman saya sendiri mengenai Cockpit, menonton mereka pertama kali di Balai Sidang. Dan itu langsung membuat saya terkesima. Edan, penonton sing-a-long. Antusias dan enerjik betul merespon semua lagu yang dibawain Cockpit. Yang namanya broer Freddy Tamaela, bener-bener udah jadi….macam, Freddy Collins! Wuah, Freddy bisa membuat penonton histeris waktu itu.

Seinget saya, saya memang sudah menyukai Genesis. Makanya lalu pengen banget lihat Cockpit. Untuk nonton dan dengerin dan…seneng-senenglah. Tapi asli referensi mah terbatas, hanya palingan 1-2 album di era Gabriel serta album mereka yang sudah bertigaan saja.

Saya rasa, saya kayak penonton-penonton Cockpit lain waktu itu. Langsung kesengsem dan suka dengan mereka, dan jadi kadung menganggap mereka ya gini deh, nonton Cockpit udahlah kayak nonton Genesis. Di saat itu kan, mungkin juga terpikirlah, mana mungkin ya bisa menyaksikan langsung konsernya Genesis?

Cockpit ya Genesis. Genesis itu Cockpit. Dan mereka memang aslilah mengandalkan lagu-lagu tahun 1980-an. Ya sebut deh, lagu-lagu hits dari album 1978, 1980 yang sudah saya tulis di atas. Apalagi dari Abacab, yang disebut album tersukses pertama Genesis karena menembus puncak tangga di UK dan Top-10 di USA.

Mereka memang menghidangkannya relatif persis dengan apa yang dihasilkan Genesis sih. Terutama memperhatikan betul pada sound, terutama sekali pada kibor dan gitar. Tak lupa pola gebukan drums dari Phil Collins atau Chester Thompson, yang sudah signature sound itu.

Ditambah lagi, meneer Freddy Tamaela, tak lupa sampai membawa juga peralatan sound-effect, yang membuatnya bisa menghasilkan voice lengkap dengan echo. Itu jadi sangat bernuansa lagu, ‘Mama’ nya Genesis itu. Dandanannyapun kerapkali rada teatrikal, mengingatkan kita pada Peter Gabriel dong.

Cockpit masuk jelang era 1990-an mulai terasa sedikit slowdown. Mungkin bisa diartikan, istirahat sejenak, menghela nafaslah. Tetapi pada 1990 itu, Cockpit malah ditinggal pergi untuk selama-lamanya oleh vokalis karismatisnya, bung Freddy Tamaela. Freddy wafat karena penyakit paru-paru basah.

Kehilangan Freddy memang membuat Cockpit rada “klimpungan”. Maklumlah, karakter Freddy itu khas betul, dan sudah kadung dianggap “paling mendekati” vokalnya Phil Collins.

Jadi soal Cockpit ini, emang kudu tanya the rest of their 2 original members. Odink Nasution dan Yaya Moektio. Oding, sebelum dengan Cockpit seperti diketahui pernah masuk formasi God Bless. Itu era dimana pada satu masa, God Bless didukung Nasution bersaudara, ya Oding, Keenan dan Debby.

Oding sendiri lalu juga terlibat dengan Guruh Gypsi, diterusin dengan Badai Band. Tentunya juga Gank Pegangsaan. Salah satu gitaris rock era 1970-an yang paling menonjol saat itu, dan tetap eksis sampai sekarang.

Saya kutip sedikit, beberapa paragaraf dari omongan almarhum Oding Nasution. Pendiri dan motor utama Cockpit, tentu saja. Perlu diketahui, bahwasanya Oding telah berpulang di Jakarta, saat dirawat di RS Pertamina, pada 27 Februari 2020.

Cerita Oding, ia mulai suka dengan Genesis sejak sekitar 1973. Itu era dimana ada album Selling England by the Pound, yang lantas menjadi album terfavoritnya. Album itulah, yang membuatnya jadi suka dan doyan banget Genesis. Sampai mulai mengulik sound-sound gitar Genesis.

Genesis itu musiknya kompleks, rada susah tapi mengasyikkan untuk dimainin, begitu terang Oding. Ia karena suka, memang lantas kepikiran kumpul dengan teman-teman musisi yang suka Genesis juga.

Ya gitu, ketemulah dengan beberapa teman. Jadilah Batara. Tetapi lanjut kemudian dengan Cockpit, karena kepengen lebih serius lagi. Dan dia sungguh tak menyangka, bisa terus bertahan bahkan hingga sekarang.

Ya main sih main aja. Chemistry-nya pas, karena paling ga dia dan Yaya memang doyan Genesis. Ketemu Raidy yang kuat di progressive rock juga. Dari Harry ke Roni, lalu ke Krisna dan Dave, ya untung dapat kibordis yang memang suka ngulik sound.

Karena kan salah satu bentuk utamanya Genesis ya pada sound kibor itu. Susah-susah gampang nyari pengganti Roni, karena sempat kita merasa pas dan klop kan. Untunglah dapat Krisna Prameswara itu. Krisna kita udah kenal lama sih, jaman studio Cockpit dulu di daerah Blok A.

Ya begitulah cerita awal Cockpit ya. Kita kembali ke Cockpit di tahun 2026, paska ditinggal pergi Raidy Noor dan Yaya Moektio. Merekapun lantas tampil dengan formasi baru. Muncul dua nama relatif muda, putra dari Raidy Noor dan Yaya Moektio. Nada Noor (gitaris, sudah sejak beberapa tahun sebelum Oding wafat sebenarnya). Dan Rama Moektio (drummer, yang beberapa kali sudah bermain bareng Cockpit. Terutama menggantikan sementara ayahnya yang “bersekolah” dan tengah sakit).

Sementara posisi bass diisi oleh bassis Henry. Seorang session player, berjam terbang lumayan tinggi, yang ya begitu itulah nama di KTP-nya. Kerapkali diajak serta beberapa project-band yang dikoordinir Krisna Prameswara (kibordis Cockpit). Hendri pada beberapa tahun belakangan ini menjadi additional-player tetap pada kelompok pop-rock, KLa Project.

Nama lain, tetap dengan Krisna Prameswara (diplot macem “plokis” gitulah, mengatur lalu lintas musik). Sementara pada posisi vokal ada duet Judy Kartadikarya dan Jimmo “putra-petir”. Mereka juga kerapkali mengajak serta guest-star, Denni “Chaplin”.

Begitulah Cockpit di rcenet time. Dengan ide dari Rama Moektio adalah, memakai tambahan “+” (plus) di belakang nama Cockpit. Membedakan, bahwa ini memang Cockpit baru. Dengan nada plus-nya. Kan ya jadi plus, plusnya tanpa 2 tokoh utama. Ada bassist “baru”.

Susah-susah gampang menggantikan posisi dua tokoh utama, yang adalah “ayah dan papi” dari Cockpit. Menurut Rama, juga Nada, mereka bersepakat meneruskan Cockpit karena kepercayaan mereka kepada kami untuk menjadi bagian dari Cockpit, selama ini. Bahkan sejak mereka masih ada. Mereka menjadikan kami dan meyakinkan kami bahwa kami pantas menjadi bagian dari Cockpit.

Rama dan Nada lantas mengemukakan pula, mereka berdua sebagai anak-anaknya sangat menghormati dan menyanjung dan begitu bangganya terhadap ayah mereka itu. Mereka berdua memang bukan untuk menggantikan, tentu sulit sekali. Tapi kami hadir untuk meneruskan enerji positif bermusik dari kedua ayah mereka tersebut.

Akhirnya merekapun tampil lagi, pada 1 Mei kemarin di Glitz club. Yang sukses mengompori mereka untuk main lagi, juga memberi support penuh adalah Busan Production. Overall, konser Cockpit+ terbilang sukses. Satu yang terlihat jelas, penonton full, kabarnya seluruh table yang terjual ludes, sejak beberapa hari sebelum acara. Proficiat! Cool, brothers!

Beberapa catatan penting, jangan disepelekan penyelengara adalah menyoal pilihan MC. MC kudu punya knowledge yang terbilang mumpuni, siapin dengan mengulik berita-berita tentang grup band yang akan tampillah sebelumnya. Terutama sejarahnya.

Jadi ga kepleset bilang, musiknya Cockpit ini susah banget. Kalau memang susah, penontonnya di acara malam itu tentu tidak akan membludak. Jelas kan? Susah kok digemari? So, itu dah, pilihan katanya, ti-ati…. Dan astaga, menyebut Yockie Suryoprayogo sebagai salah satu pendiri Cockpit! Buset! Konyol sih….

MC itu penting, tentu dengan pengetahuan yang cukup, supaya bisa menghidupkan acara. Informatif dengan benar untuk seluruh penonton. Dan ya yang bisa ikut menghidupkan acara. Kalau pengetahuannya minim, Cuma terkesan asal nyerocos, akan berabe betul kalau lantas ajak musisi berdialog misalnya. Jadi lucu? Lucu ga, ngeselin iya. Kalau cari lucu, ambil komika saja lebih baik.

Semoga saja, Cockpit+ lancar jalannya. Lantas akan tampil di acara-acara berikut, konser-konser yang dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Tampil di well-organized events. Yang digagas dan diadakan penyelenggara yang sangat mengerti dan memahami Cockpit+, paling tidak bisa berdiskusi sebaik-baiknya sebelumnya. Biar hasil akhirnya, konser yang menyenangkan, memuaskan semua. So pasti, terutama penontonnya.

Good luck yoooo, Rama, Nada dan semua Cockpit+! See you in next better dan more better event….XPOSEINDONESIA/dM

Must Read

Related Articles