Jagat Satwa Nusantara (JSN) memberangkatkan tujuh ekor Merak Hijau (Pavo muticus) menuju Pulau Handeuleum, kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, Banten, sebagai bagian dari program konservasi dan persiapan pelepasliaran ke habitat alami. Ketujuh burung hasil pengembangbiakan terkontrol tersebut terdiri atas dua ekor jantan dan lima ekor betina.
Pemberangkatan ini menjadi wujud kontribusi Jagat Satwa Nusantara dalam menjaga keanekaragaman hayati Indonesia sekaligus memperkuat keterhubungan antara konservasi ex-situ melalui pengelolaan satwa dan konservasi in-situ di habitat alami.
Momentum tersebut juga berlangsung menjelang Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) yang diperingati setiap 5 November. Melalui program ini, JSN ingin menunjukkan bahwa pengembangbiakan satwa bukan menjadi tujuan akhir, melainkan bagian dari rangkaian upaya konservasi yang melibatkan riset, pengelolaan, serta kolaborasi berbagai pihak.
Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, Ahmad Munawir, mengapresiasi inisiatif Jagat Satwa Nusantara dalam mendukung pelestarian satwa dilindungi.
“Kami sangat mengapresiasi dan menyambut baik inisiatif yang dilakukan Jagat Satwa Nusantara. Ini merupakan langkah positif yang patut diketahui masyarakat luas. Kami berharap upaya konservasi seperti ini mendapatkan publikasi dan perhatian yang lebih besar, bukan semata untuk mengangkat keberhasilan satu lembaga, tetapi untuk menginspirasi semakin banyak pihak agar turut mengambil peran nyata dalam pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia,” ujarnya dalam seremoni pemberangkatan di Resto Bakau, Dunia Air Tawar, kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.
Persiapan Satwa dan Survei Habitat Sebelum Pelepasliaran
Direktur Operasional Jagat Satwa Nusantara, Muhammad Fardhan Khan, menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari pendekatan konservasi yang menghubungkan pengembangbiakan, pengamatan perilaku, hingga persiapan menuju pelepasliaran.
Menurutnya, kolaborasi pemerintah, pengelola habitat, lembaga konservasi, dunia usaha, dan masyarakat menjadi fondasi penting agar upaya pelestarian keanekaragaman hayati dapat berkelanjutan.
Bagi JSN, inisiatif tersebut juga sejalan dengan pengembangan konsep Zoo Skolastik, yakni menjadikan lembaga konservasi sebagai ruang pembelajaran berbasis bukti. Melalui pendekatan ini, edukasi, riset, dan praktik pelestarian diharapkan dapat saling memperkuat.
Sebelum pemberangkatan, Tim Life Science JSN telah melakukan sejumlah persiapan terhadap tujuh Merak Hijau. Tahapannya meliputi pengenalan pakan alami, termasuk buah ara, pengayaan lingkungan, serta pemantauan perilaku dan aktivitas satwa menggunakan CCTV.
Rangkaian tersebut bertujuan mendukung munculnya perilaku alami sekaligus menyediakan data untuk mengevaluasi kesiapan satwa menuju tahapan berikutnya. Namun, proses rehabilitasi tidak otomatis menjamin keberhasilan adaptasi di alam. Penilaian teknis dan pemantauan lanjutan tetap menjadi bagian penting dalam program konservasi.
Persiapan juga dilakukan bersama pengelola kawasan Balai Taman Nasional Ujung Kulon melalui survei awal di Pulau Handeuleum. Survei tersebut mencakup pengamatan kondisi lingkungan, sumber pakan, serta ketersediaan air sebagai bahan pertimbangan dalam mempersiapkan lokasi tujuan.
Pemilihan lokasi seremoni di TMII, bukan di titik rencana pelepasliaran, juga menjadi bagian dari upaya membatasi intensitas aktivitas manusia di kawasan habitat.
Merak Hijau merupakan satwa dilindungi di Indonesia dan berstatus Endangered (EN) atau terancam punah dalam Daftar Merah IUCN. Karena itu, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah satwa yang diberangkatkan, tetapi juga dari penanganan selama transportasi, penyesuaian di lokasi tujuan, keputusan teknis pelepasliaran, serta pemantauan setelah satwa dilepas.
“Konservasi bukan sekadar menjaga kehidupan, tetapi juga membangun pengetahuan dan memastikan keberlanjutannya,” ujar Fardhan.
Pemberangkatan tujuh Merak Hijau ini menjadi tahapan menuju rencana pelepasliaran, bukan akhir dari proses konservasi. Setelah tiba di kawasan tujuan, satwa akan menjalani penanganan dan persiapan lanjutan sesuai arahan teknis pihak berwenang dan pengelola kawasan.
Pemantauan pascapelapasliaran diharapkan dapat menghasilkan informasi mengenai keberadaan, perilaku adaptasi, dan perkembangan satwa. Data tersebut nantinya dapat menjadi bahan evaluasi untuk mendukung upaya konservasi berbasis bukti.
Kolaborasi Lintas Lembaga Dukung Pelestarian Keanekaragaman Hayati
Program konservasi ini melibatkan Jagat Satwa Nusantara, TMII, Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jakarta, Balai Taman Nasional Ujung Kulon, serta sejumlah mitra.
Sales & Commercial Group Head PT Bhumi Visatanda Indonesia, Palupi Rusdiyadmi, turut menyambut baik kolaborasi tersebut. Menurutnya, pelestarian satwa langka membutuhkan keterlibatan berbagai pihak agar keanekaragaman hayati Indonesia tetap terjaga.
“Masa depan kekayaan Nusantara tidak cukup hanya diperkenalkan, tetapi harus dijaga dan diperjuangkan kelestariannya,” kata Palupi.
Dukungan dari sektor dunia usaha turut hadir melalui PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. melalui balé by BTN sebagai sponsor program. Dalam seremoni tersebut, BTN diwakili Ricky Antoni selaku Regional Digital Head Kantor Wilayah Jakarta 1 dan Laksamana Hadi selaku Deputy Branch Manager Business Kantor Cabang Jakarta Harmoni.
Acara juga dihadiri Ahmad Munawir, S.Hut., M.Si., selaku Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, serta Marwan Shofa, Kepala Seksi I BKSDA Jakarta yang hadir mewakili Kepala BKSDA Jakarta.
Dari kalangan lembaga konservasi dan organisasi profesi, hadir Tony Sumampow selaku Sekretaris Jenderal Perhimpunan Kebun Binatang se-Indonesia (PKBSI) dan Riyadi dari Dewan Burung Indonesia.
Sementara itu, perwakilan media dan kebudayaan yang hadir antara lain Didi Kasim, Editor in Chief National Geographic Indonesia, serta Ilham Khoiri, General Manager Bentara Budaya Indonesia.
Keterlibatan berbagai pemangku kepentingan tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian satwa dilindungi membutuhkan kerja sama lintas institusi. Melalui pemberangkatan tujuh Merak Hijau ini, Jagat Satwa Nusantara berharap pengetahuan dan pengalaman pengelolaan satwa dapat menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk menjaga keanekaragaman hayati Indonesia. XPOSEINDONESIA/IHSAN


