Film horor RARANGKEN garapan PAS Production menghadirkan teror supernatural yang berakar pada legenda Sunda, misteri warisan leluhur, dan rahasia kelam yang diwariskan lintas generasi. Diproduseri Wan Emily Sjahrir, dengan Tsani Prilia sebagai executive producer dan R.G.H sebagai sutradara, film ini mencoba menghadirkan pendekatan berbeda dengan memadukan kisah horor dan kekayaan budaya lokal.
Bagi Wan Emily Sjahrir, mengangkat budaya Sunda menjadi pilihan untuk menghadirkan cerita yang berbeda di tengah banyaknya film horor yang menggunakan latar budaya Jawa. Menurutnya, tradisi dan kepercayaan lokal memiliki ruang eksplorasi yang luas untuk dikembangkan menjadi cerita layar lebar.
Film ini berpusat pada Ranti, diperankan Vanny Meisella, yang kembali ke rumah tua peninggalan keluarganya bersama empat sahabat. Situasi berubah ketika sebuah benda misterius bernama Rarangken dipindahkan. Peristiwa tersebut memicu teror dan menghadirkan sosok Nyi Larang yang berkaitan dengan tragedi masa lalu.
Dalam cerita, Rarangken digambarkan sebagai benda warisan turun-temurun yang memiliki sisi mistis dan aturan tertentu. Benda tersebut tidak boleh diperlakukan sembarangan. Ketika larangan dilanggar, rangkaian kejadian mengerikan mulai menghantui lingkungan sekitar.
Upaya mengungkap asal-usul teror membawa para tokoh pada rahasia yang selama puluhan tahun disembunyikan. Ketika Ranti berusaha menghancurkan Rarangken, muncul kejutan yang mengisyaratkan bahwa kutukan tersebut belum berakhir.
Riset Budaya Sunda dan Misteri Rarangken
Wan Emily menjelaskan, pengembangan cerita dilakukan melalui riset untuk mencari informasi mengenai benda-benda budaya yang menjadi inspirasi film. Salah satu unsur yang disebut dalam proses tersebut adalah siger, yang memiliki kaitan dengan wilayah Majalengka.
Dalam film, fokus cerita diarahkan pada perhiasan dan ritual yang menyertainya. Rarangken digambarkan sebagai peninggalan leluhur yang diwariskan bersama sejumlah pantangan. Ada aturan mengenai cara memperlakukan dan membuka benda tersebut, termasuk ritual yang berkaitan dengan kehadiran sosok mistis.
Unsur misteri sengaja dibangun secara bertahap agar penonton mengikuti proses pengungkapan rahasia di balik benda tersebut. Tim film juga tidak memperlihatkan seluruh detail ritual sejak awal, sehingga penonton memiliki ruang untuk menerka hubungan antara Rarangken, sosok yang menjadi pemilik mistisnya, dan kejadian yang menimpa para tokoh.
Wan Emily mengatakan, pendekatan ini sekaligus menjadi strategi untuk menghadirkan sesuatu yang berbeda dari film horor yang sudah ada. Unsur budaya tidak hanya menjadi latar, tetapi menjadi bagian penting yang menggerakkan konflik cerita.
Ia juga menekankan bahwa unsur mistis dalam film memiliki keterkaitan dengan budaya yang ingin diperkenalkan. Melalui pendekatan tersebut, penonton diharapkan tidak hanya menikmati ketegangan, tetapi juga mengenal sisi budaya Sunda yang belum banyak dieksplorasi dalam film horor.
Sementara itu, Tsani Prilia mengungkapkan ketertarikannya terlibat dalam film ini karena latar belakang keluarganya yang berasal dari Sunda. Ia melihat proyek tersebut sebagai kesempatan untuk mengenal budaya leluhurnya secara lebih mendalam.
Menurut Tsani, kedekatan dengan suatu budaya tidak otomatis membuat seseorang memahami seluruh tradisinya. Karena itu, keterlibatannya dalam RARANGKEN menjadi pengalaman untuk mempelajari kembali identitas budaya yang diwariskan keluarganya.
Dalam cerita, unsur ritual juga ditampilkan melalui tarian, bukan hanya nyanyian atau musik tradisional. Ritual tersebut digambarkan sebagai bagian dari proses pemanggilan sosok yang berkaitan dengan Rarangken. Namun, detailnya sengaja tidak seluruhnya diungkap pada bagian awal film.
Goa Pawon dan Pesan tentang Amanah Warisan
Selain mengangkat budaya Sunda, tim produksi memilih Goa Pawon sebagai salah satu lokasi syuting karena nilai sejarah yang melekat pada kawasan tersebut. Lokasi ini dikenal memiliki situs prasejarah, termasuk temuan arkeologis yang berkaitan dengan kehidupan manusia pada masa lampau.
Wan Emily menyebut pemilihan lokasi dilakukan dengan mempertimbangkan keterkaitan tempat dengan suasana dan latar cerita. Tim ingin menghadirkan lingkungan yang tidak hanya mendukung atmosfer horor, tetapi juga memiliki nilai sejarah yang dapat memperkaya pengalaman penonton.
Pemilihan lokasi tersebut juga sejalan dengan harapan tim untuk membawa RARANGKEN ke festival film. Film ini diharapkan dapat memperkenalkan kekayaan budaya dan lokasi bersejarah Indonesia kepada penonton yang lebih luas, termasuk audiens internasional.
Di balik teror dan misteri, RARANGKEN turut menyampaikan pesan mengenai tanggung jawab menjaga amanah. Dalam penjelasannya, Wan Emily menekankan bahwa sesuatu yang diwariskan bersama pesan dan aturan tertentu perlu dijaga serta dihormati.
Pesan tersebut menjadi salah satu landasan moral cerita: ketika menerima amanah dari generasi sebelumnya, seseorang harus bertanggung jawab untuk menjaganya, bukan memperlakukannya secara sembarangan.
Film ini dibintangi Vanny Meisella sebagai Ranti, Tsani Prilia sebagai Mira, Yama Carlos sebagai Arman, Ika Kartika sebagai Dian, Ambu Rd Sonia Soema sebagai Tetua Adat, Achmad Bayhaqi A sebagai Dimas, Taufiq Hidayat sebagai Raka, Fardan Tamaela sebagai Jati, Zara sebagai Rara, Tiara Khorunisa sebagai Ami, Felicia sebagai Ranti Kecil, dan Bhadra sebagai Jati Kecil.
Melalui perpaduan legenda lokal, misteri keluarga, ritual, dan teror supernatural, PAS Production berupaya menghadirkan warna berbeda dalam genre horor Indonesia. RARANGKEN tidak hanya bertumpu pada ketegangan, tetapi juga membawa budaya Sunda sebagai bagian penting dari konflik dan pesan ceritanya. XPOSEINDONESIA/IHSAN




