33 C
Jakarta
Wednesday, October 20, 2021

dr. Khoirul Hadi SpKK Mengawal Assahlan Tanpa Musik Arab

- Advertisement -
- Advertisement -

Bulan puasa, identik dengan  membanjirnya lagu lagu religi  bernafaskan Islami di industri rekaman musik Indonesia.

Salah satunya lahir dari kota Solo, Jawa Tengah. Namaya Assahlan yang diproduseri dokter kulit yang bekerja di Be Hati Skin Clinic, Care & Esthetics, Solo,  yakni dr. Khoirul Hadi SpKK. 

Assahlan langsung  memperkenalkan 12 lagu, 6 di antaranya sudah  bisa didengar lewat YouTube dan sejumlah toko digital lainnya. Lagu lagu tersebut  adalah “Kembang Duka”, Mari Puasa, “Sahur”, Berbagi Rejeki” dan lain-lain.

Musik Pop plus Unsur Etnik Nusantara

Uniknya, musik untuk seluruh lagu  tersebut sengaja disiapkan sang dokter bersama  7 musisi lainnya,  tanpa  mengikut sertakan rebana dan  alat musik sejenis yang biasa dipakai untuk musik religi Islami  dan Qasidahan.

- Advertisement -

“Pokoknya nggak ada warna Arab. Ini musik religi universal. Kami hanya mengakomodir penggunaan alat musik tradisi Indonesia.  Seperti Sampe dari Kalimantan, Sasando dari NTT,  suling, gamelan dan lain-lain,” ungkap  ujar dr. Khoirul Hadi SpKK, yang bertindak sebagai produser sekaligus penulis seluruh lirik lagu di album ini  dalam acara Cakap Cakap via Instagram Live @bensleo52.

Karenanya, pada lagu  single hits “Kembang Duka”,  misalnya terdengar jelas tembang Jawa pada bagian intro. “Ini memang  sesuai seperti yang saya inginkan,” kata dokter Khoirul sambil menyebut lagu “Selamat Datang Cahaya”, memperlihatkan  unsur kuat gamelan Jawa, dan unsur musik etnik   lainnya seperti  dari Aceh,  Minang,  Sunda.

Sebagai  sebuah kelompok musisi, Assahlan dirancang Khairul menjadi band unik dan berbeda dari kebanyakan band.  Tengok pada video klip  misalnya, si penyanyi  dan musisi pendukung sengaja memakai masker dan tidak memperlihatkan wajah.

“Sejak awal, saya sengaja menutup diri Assahlan. Saya memaksa orang lain mendengar lagu kami tanpa  perlu mengetahui  siapa penyanyinya.  Apresiasi karya kami  tidak usah manusianya.  Kalau  lagu  kami sudah dikenal, baru saya  perkenalkan satu persatu pemain dan penyanyinya,” ucap  dokter yang lahir di Boyolali ini.

Baca Juga :  MOSCA Berisik Tapi Sexy

Kebangkitan Setelah Sembuh Covid

Penggarapan album Asshalan terasa cepat.  Dari Januari-Maret 2021. “Dalam satu hari, kami  menyelesaikan rekaman lima lagu, nyaris tanpa retake,” ujar dr. Khoirul Hadi.

Sementara itu Kurniawan, penyanyi utama Assahlam menyebut, “Satu album  ini dikerjakan hanya dalam watu 9 shift, atau 45 jam saja! Semua ini hanya bisa dilakukan atas arahan Pak dokter,” katanya

Tema lirik lagu Assahlan seluruhnya  lahir di tengah Khairul Hadi menjalani perawatan intensif rumah sakit akibat terinfeksi Covid-19, Desember 2020.

“Selama dirawat dalam kondisi fisik dan psikologi saya kacau. Saya coba membuat coretan baik puisi maupun catatan pribadi. Puisi pertama saya “Kembang Duka”  saya jadikan lagu. Sementara catatan pribadi mungkin akan saya terbitkan jadi buku,” jelas Khairul.

Puisi “Kembang  Duka”  ditulis Khoirul tentang kedatangan ajal  yang tidak bisa ditunda. “Itu menggambarkan kondisi sewaktu di ruang ICU.  Setiap hari saya melihat yang meninggal. Saya  punya potensi sama. Tinggal lebih cepat atau lebih lambat,” urainya

Khairul masih punya impian, album Assahlan bisa dipanggungkan secara live dengan iringan musik orkestrasi.

“Tapi bukan dimainkan oleh musisi orkes terkenal. Dimainkan tetap oleh kita-kita. Saya bayangkan, di tengah acara itu harus ada ada Pembawa acara yang  kuat dan menjadi magnet utama. Mungkin suatu saat bisa terlaksana,” tukasnya XPOSEINDONESIA/NS Foto : Dudut Suhendra Putra & Muhamad Ihsan

More Pictures

dr. Khoirul Hadi SpKK diwawancara dalam acara Live Instagram @bensleo52
dr. Khoirul Hadi SpKK diwawancara dalam acara Live Instagram @bensleo52
dr. Khoirul Hadi SpKK bersama Assahlan
dr. Khoirul Hadi SpKK diwawancara dalam Cakap Cakap Live Instagram @bensleo52
dr. Khoirul Hadi SpKK diwawancara dalam Cakap Cakap Live Instagram @bensleo52
Bens Leo mewawancarai dr. Khoirul Hadi SpKK di Solo, 18 April 2021

- Advertisement -

Latest news

- Advertisement -

Related news

- Advertisement -