I Dewa Gde Budjana, gitaris asal Klungkung, Bali memang tampil lagi. Secara solo. Tentu saja artinya tanpa GIGI, grup band pop-rocknya. Lumayan lama juga, dirimu tidak konser secara solo lagi ya, Budj? Iya betul. Terakhir kapan? Udah lama juga sih kayaknya.
Musik yang beginian mungkin memang penontonnya sedikit, jadi kesempatan manggungnya terbatas. Ah, ga begitu. Bukan ke situ, Budj. Jangan-jangan ini karena musikmu terlalu eksklusif. Bukan ga banyak pendengar atau penggemarnya. Tapi banyak orang ga begitu mudah memahami musikmu. Budjana tertawa lebar, ya sama aja dong!
Tapi musik Budjana memang mutlak berbeda dengan apa yang dihasilkannya dengan GIGI. Dalam kesempatan solo karirnya, ia leluasa melakukan pelbagai eksplorasi bermusik. Kemana-mana mainnya, atau wilayah mainnya. Dan adalah hal yang menakjubkan, Sebagian besar rekaman solo projectnya dibuatnya di negeri orang, di USA terutama.



Dan karena album-album solonya disebarluaskan di luar negeri, maka pendengar dan lantas jadi penggemarnya, memang banyak juga yang berdomisili di Eropa, Amerika, negara-negara di Asia. Musiknya terasa internasional. Sudah melanglang buana, paling tidak secara nama, tapi kesempatan manggung relatif minim di tanah air?
Tapi pada akhirnya, datanglah kesempatan untuk tampil berkonser secara solo lagi. Pada 10 April 2026, kesempatan itu datang. Ia sendiri yang melakukan upaya pendekatan, penjajakan dengan pihak venue. Dan adalah Deheng House, yang lantas membuka pintu mereka lebar-lebar untuk Dewa Budjana bisa tampil secara solo. Pucuk dicinta ulam tiba ya, Budj?
Ia memilih para musisi pendukungnya. Kembali diajak beberapa musisi yang sudah mendukung penampilan panggung solo projectnya selama ini. Antara lain, pianis, Irsa Destiwi. Kemudian bassist, Shadu Rasjidi. Serta drummer, Yandi Andaputra. Mereka sudah mendukung Budjana lebih dari 15 tahun-an terakhir.
Lantas Budjana mengajak Februdio Alexander “Dio” Siahaan, kibordis. Dio adalah adik kandung kibordis yang mendukung Budjana sebelumnya, Marthin Siahaan. Marthin saat ini berdomisili di San Bernardino, Los Angeles, USA.
Budjana juga menemukan seorang Jaeko Siena, pemain perkusi etnik (talempong, suling dan voicing) yang tengah menimba ilmu musik di Jogjakarta. Mereka kabarnya berkenalan melalui sosial media. Selain itu, secara khusus Budjana kali ini mengajak gitaris, Endah Widiastuti dari duo Endah&Rhesa untuk berkolaborasi. Beberapa tahun belakangan ini, Budjana kerapkali bekerjasama dengan Endah dalam komunitas Gitaris Untuk Negeri.
Pada konser, tetiba Budjana memanggil naik panggung, Saat “Borneo” Syah (suling pralon, voicing). Bang Saat ini sebenarnya sudah lumayan lama juga senantiasa mendukung penampilan solo Budjana, di beberapa kesempatan. Ada juga pemain rebab muda, Fathurachman, yang dipanggil Budjana untuk main bareng.

Konsernya sendiri menghadirkan kejutan manis di awal. Dimana 3 personil GIGI tampil sebagai host yang khusus membuka konser. Armand Maulana, Gusti Hendy dan Thomas Ramdhan maju ke depan dan bercerita mengenai gitaris mereka, Budjana yang akan tampil dalam konser solonya.
Setelah dibuka oleh GIGI, seolah secara simbolis GIGI merestui Budjana meneruskan karir solo nya, Budjana pun menyajikan tak kurang dari 19 nomer lagu. Diambil dari tak kurang dari 15 album rekaman solonya yang telah dihasilkannya selama ini. Ia memilih memainkan, di segmen pembuka, “Naurora”, “Jayaprana” dan “Dedariku” sebagai sajian pertama.
Budjana dan kawan-kawannya langsung seolah memaku penonton untuk menikmati musik mereka. Ada suasana etnik, terutama Bali. Sedikit nuansa rock dan juga jazz. Penonton yang nyaris memenuhi venue berkapasitas 350 orang itu, langsung dijejali bebunyian musik yang seperti mengandung aneka enerji.
Dentuman musik seperti meminta penonton berkonsentrasi ke atas panggung. Janganlah banyak bercakap-cakap satu sama lain. Mari marilah melihat ke panggung, nikmati saja. Jangan juga mondar-mandir. Lupakan duka nestapa, mari menyegarkan jiwa dan raga bersama…. Aha!
Konser ini dibagi oleh Budjana, ke dalam beberapa segmen. Pada segmen kedua Budjana menyajikan, “Duaji Guruji” kemudian “Mahandini” dan “Surya Namaskar”. Berikutnya dihidangkan “Dawaiku”, disambung “Caka 1922 (Nyepi). Berlanjut dengan “As You Leave My Nest” dan “Karma”, dengan kehadiran Endah Widiastuti, pada vokal.
Di segmen berikutnya, dimainkan berturutan, atau bersambungan, “Joged Kahyangan”, “Gangga” dan “Hyang Giri”. Disambung dengan “Pranayama”, yang dijadikan judul pementasan ini diambil dari judul album terbaru Budjana. Yang diikuti nomer berikutnya, “On The Way Home” dan “Queen Kanya”.
Adapun sebagai sajian penutup dari konser yang memakan waktu lebih dari 1,5 jam ini adalah “Dreamland” dari album Home, yang dirilis tahun 2005. Kemudian salah satu lagu dari album Surya Namaskar, “Dalem Waturenggong”.
Menyaksikan dan menikmati, kemudian meresapi musik dan lagu karya Dewa Budjana, bisa jadi merupakan pengalaman istimewa yang menyegarkan jiwa dan raga, bagi yang baru pertama kali berkesempatan menonton.


Meresapi dan mengikuti bebunyian dari lagu ke lagu, adalah semacam suatu perjalanan spiritual yang di satu sisi, menyegarkan hidup. Selain memberi ruang dan waktu untuk berkontemplasi sejenak, duajenak. Bolehlah sampai tigajenak. Asal janganlah tertidur pulas, repot nanti begitu terjaga, tata lampu panggung sudah terang benderang.
Secara keseluruhan memang memiliki kesempatan menonton solo konser Budjana, adalah sebuah kesukacitaan. Menurut ingatan, kayaknya Budjana tampil secara solo terakhir di bulan Maret 2019, saat Java Jazz Festival. Dimana selanjutnya, di tahun yang sama, Budjana tampil berduet dengan Tohpati dalam proyek musik mereka berdua, Janapati di bulan Agustus 2019.
Kreatifitas Budjana dalam mengolah musik, yang menyerap pelbagai unsur musik, terasa menarik sebenarnya. Walau didominasi lagu-lagu tanpa syair. Musiknya ada banyak unsur musik seperti jazz fusion, sedikit pop atau sedikit sentuhan ballad. Agak rock mengarah pada progressive-rock ada juga. Dan menyelip sesekali yang berserakan di sana-sini, ambience yang agak tebal dari warna world-music.
Pada konser Jumat 10 April, ada banyak teman-teman baik sesama gitaris yang datang menonton. Antara lain Agam Hamzah, Gerald Situmorang, Lian Panggabean, Noldy Benyamin, Baim, sampai Damon Koeswoyo, Abdee “Slank” Negara. Bahkan hingga Raja-Dangdut, Rhoma Irama dan gitaris rock legendaris, Ian Antono. Tentu ada, Tohpati.
Sebuah gathering gitaris Indonesia yang tak sengaja terjadi. Itupun masih ditambah kehadiran trio rocker 1970-an dari grup Giant Step, Triawan Munaf, Jelly Tobing dan Adhi Sibolangit. Juga drummer senior, Jimmy Manoppo. Ada juga wakil dari Forum Festival Jazz di Indonesia, Chico Hindarto dan Bagas Indyatmono. Mantan manager dari GIGI, Dhani Pette.
Hingga mantan drummer dari GIGI, Budhy Haryono yang kini drummer dari Karimata. Gitaris muda, Daniel Dyonisius, penyanyi Dian Mayasari, Kemala Ayu sampai Neea Rachma. Turut menonton juga, Andre Hehanusa. Dan tokoh world music, Franki Raden.
Ada satu hal menarik paska konser Pranayama dari Dewa Budjana ini. Tetiba beberapa sahabat baik Budjana tergerak untuk berkomentar lumayan panjang, dalam sebuah catatan berupa tulisan. Mereka posting di sebuah WAG para musisi, penyanyi, wartawan dan pelaku musik. Surprised tentu saja, mendadak mereka menjelma menjadi penulis (musik)! Wah, asoy deh. Suwerrr.
Seru deh pokoknya. Well, ok then. Selanjutnya, ditunggu konser berikutnya ya, Budj. Tentu saja, kudu didahului dengan release album baru. Sukses selalu, bli. XPOSEINDONESIA/dM


