Jumat, Agustus 29, 2025

ExploNation Sintang Angkat Budaya, Kuliner, dan Ekonomi Lestari di AOE 2025

Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) menggelar talkshow “Jelajah Sintang Lestari Melalui Ekowisata Berbasis Budaya: Cerita dari #ExploNation” di ICE BSD, Tangerang, pada 28 Agustus 2025. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian Sustainable District Outlook (SDO) 2025 sekaligus puncak program ExploNation, yang mengajak para influencer dan pemuda lokal untuk menyelami praktik ekonomi restoratif secara langsung melalui ekowisata di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.

Dalam upaya mendorong kesadaran publik tentang pentingnya pembangunan ekonomi yang berpihak pada lingkungan, LTKL berkolaborasi dengan komunitas orang muda lokal, yakni Gemilang (Sintang) dan Samudra Bekudong’k (Sanggau). Program ini mempertemukan dua figur publik: Febrian (@_febrian), travel blogger yang kerap mendokumentasikan keindahan Indonesia, serta La Ode Saiful Rahman (@laode.mci8), finalis Top 10 MasterChef Indonesia Season 8. Keduanya berbagi pengalaman dalam talkshow, pameran foto dan video, hingga peluncuran mini buku resep hidangan lokal hasil eksplorasi mereka di Sintang.

“Program ExploNation diluncurkan sebagai wadah kolaboratif untuk memperluas pemahaman publik terhadap praktik ekonomi restoratif melalui ekowisata berbasis budaya di Sintang. Dengan melibatkan content creator dan pemuda lokal, kita ingin mengangkat cerita-cerita baik tentang kekayaan alam, budaya, dan pangan sebagai aset regeneratif,” ujar Restiana Purwaningrum, Lead Project Festival Lestari sekaligus moderator acara.

Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam Bappeda Sintang, Boby Oktavianus, menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga kelestarian budaya sekaligus menggerakkan ekonomi. “Kami meyakini kunci dari model ekonomi restorasi ada pada anak muda. Harapan kami, Sintang tidak hanya maju secara ekonomi, tapi juga lingkungannya terjaga dan kehidupan sosial budayanya terangkat. Sintang sudah mendeklarasikan diri sebagai kabupaten kolaborasi, dan kami membuka ruang bagi mitra lokal, nasional, maupun internasional untuk turut membangun Sintang,” ungkapnya.

Dalam rangkaian SDO 2025, ditampilkan pula pameran bertajuk “ARAH” yang menyajikan data, narasi komunitas, dan karya kreatif dari kabupaten anggota LTKL. Di dalamnya, hasil dokumentasi perjalanan ExploNation di Sintang dipamerkan, mulai dari kehidupan masyarakat Dayak Desa di Rumah Betang Ensaid Panjang, eksplorasi hutan Rimba Gupung, hingga regenerasi kain tenun ikat dengan pewarna alami. Rimba Gupung sendiri menjadi contoh nyata pengelolaan hutan berbasis tradisi yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Selain menampilkan karya visual, acara ini juga meluncurkan mini magazine resep “VOYAGE ExploNation – Hiding in Plain Sight: Resep Tualang dari Kalimantan Barat” yang disusun oleh La Ode bersama tim Culture Collar. Buku resep ini mengangkat pangan lokal seperti Liak Jahe Ladang, Pekasam Ikan, hingga minuman tradisional berbahan hutan, lengkap dengan kisah di balik bahan dan proses pengolahannya. Di booth pameran, pengunjung juga dapat mencicipi hidangan khas Kalimantan Barat, mulai dari Rujak Dayak hingga Es Buah Maram.

La Ode mengaku perjalanan ke Sintang memberi pengalaman baru baginya. “Saya tumbuh di wilayah dekat laut, sementara di Sintang saya diajak melihat bagaimana masyarakat hidup berdampingan dengan hutan. Kami masuk hutan, belajar tentang tumbuhan yang bisa dikonsumsi. Dari perjalanan ini saya sadar bahwa makanan bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga penopang ekonomi restoratif sekaligus cara menjaga budaya lokal,” ujarnya.

Sementara itu, Febrian menilai pengalaman di Sintang membuka perspektif berbeda tentang makna perjalanan. “Ekonomi restoratif bukan hanya menghentikan kerusakan, tapi juga memulihkan kembali berbasis sosial budaya, sambil memastikan masyarakat lokal ikut merasakan manfaatnya,” katanya.

Program ExploNation juga melibatkan 14 orang muda dari Sintang, Sanggau, dan Kapuas Hulu sebagai penutur lokal. Mereka aktif mendokumentasikan cerita daerahnya melalui foto, video, dan konten digital, sekaligus belajar dalam workshop Travel and Food Content Making.

Salah satunya, Paris Ramadhan (26 tahun), mengaku perjalanan ini membuatnya kembali ke akar budaya. “Dari Rimba Gupung hingga sastra lisan Bedudu dan Bekana, saya tersadar betapa besar potensi alam dan budaya daerah sendiri. Tantangannya memang banyak, tapi lewat kerja kolektif kami bisa membuat lokalitas relevan dan dinikmati orang lebih luas,” ujarnya.

Dengan talkshow, pameran, serta keterlibatan pemuda, ExploNation Sintang menegaskan posisinya sebagai wadah kolaborasi lintas sektor untuk mendorong narasi pembangunan lestari. Program ini juga menjadi bagian dari rangkaian menuju Festival Lestari 2026, yang bertujuan menginspirasi masyarakat agar beralih dari pola pengelolaan alam yang ekstraktif menjadi restoratif, serta dari intervensi menuju kemitraan.

Melalui langkah-langkah ini, Sintang tampil bukan hanya sebagai destinasi wisata, melainkan juga contoh nyata hubungan harmonis antara manusia, alam, dan budaya—di mana ekowisata, kuliner, dan kearifan lokal menjadi jalan menuju masa depan yang berkelanjutan.XPOSEINDONESIA/IHSAN

Must Read

Related Articles