Sajama Cut Perluas Cowabunga Lewat Kolaborasi Alkateri, The Jansen hingga Sunwich

Sebuah album tidak selalu berhenti pada saat musiknya dirilis. Bagi Sajama Cut, perjalanan Cowabunga justru berlanjut setahun kemudian melalui Cowabunga Deluxe, proyek yang mempertemukan lagu-lagu mereka dengan interpretasi dari sejumlah musisi dan band lintas generasi di skena independen Indonesia.

Dirilis pada 11 September 2026 melalui kerja sama Sajama Cut dengan demajors, Cowabunga Deluxe hadir dalam format double CD. Edisi ini memperluas materi album keenam Sajama Cut tersebut dengan melibatkan Alkateri, Eleanor Whisper, The Jansen, Water Heater, Patrivia, Sunwich, dan ASHN.

Bukan sekadar album tambahan, Cowabunga Deluxe memperlihatkan bagaimana satu karya dapat berubah ketika diterjemahkan oleh musisi dengan latar dan karakter musik yang berbeda. Lagu-lagu Sajama Cut mendapatkan pembacaan baru, sementara keterlibatan nama-nama dari generasi dan lingkar musik berbeda memperlihatkan hubungan antarskena yang selama ini menjadi bagian penting dari perjalanan musik independen Indonesia.

Sajama Cut sendiri bukan nama baru dalam perjalanan musik independen Indonesia. Berbasis di Jakarta dan telah aktif sejak akhir 1990-an, band yang berpusat pada Marcel Thee telah melewati berbagai perubahan formasi dan pendekatan musik, dengan eksplorasi yang mencakup indie rock, noise pop, ambient, baroque pop, folk rock, lo-fi hingga electronica.

Perjalanan tersebut menghasilkan sejumlah album yang kemudian menjadi bagian dari diskografi mereka, mulai dari Apologia pada 2002, The Osaka Journals pada 2005, Manimal pada 2010, Hobgoblin pada 2015, hingga Godsigma pada 2020. Lima tahun setelah Godsigma, Sajama Cut kembali dengan Cowabunga pada 11 Juli 2025 sebagai album keenam mereka.

Cowabunga sendiri berisi sembilan lagu dan membawa pendekatan yang lebih terbuka secara lirik. Dalam wawancara mengenai album tersebut, Marcel Thee menyebut Cowabunga sebagai versi “super saiyan” dari Godsigma, dengan materi yang lebih langsung dalam menyampaikan kegelisahan sekaligus mempertahankan ruang bagi harapan.

Album tersebut dibuka dengan “Homili/Menatap Wajah Tuhan” dan berlanjut dengan lagu-lagu seperti “Kita Terbuat Dari Puing dan Tangisan”, “Di Masa Depan Kita Tak Lagi Bermimpi”, “Please Wait For Me Forever ∞”, “Devosi, Godskin & Kebahagiaan Seutuhnya”, hingga rangkaian penutup “Telah Kutemukan Lagi Apa Yang Dapat Dicintai Dari Hidup Ini”. Materi inilah yang kemudian menjadi sumber interpretasi baru dalam Cowabunga Deluxe.

Menariknya, edisi Deluxe tidak hanya menambahkan lagu baru, tetapi memperlihatkan pertemuan karakter Sajama Cut dengan tujuh nama berbeda. Patrivia mengambil “Kita Terbuat Dari Puing dan Tangisan”, Sunwich menginterpretasikan “Debu-Debu Intan”, Water Heater menggarap “Di Masa Depan Kita Tak Lagi Bermimpi”, sementara Alkateri hadir melalui “Devosi, Godskin, dan Kebahagiaan Seutuhnya”.

Eleanor Whisper kemudian memberikan versinya terhadap “Telah Kutemukan Lagi Apa Yang Dapat Dicintai Dari Hidup Ini”, sedangkan The Jansen mengolah kembali “Kita Terbuat Dari Puing dan Tangisan”. ASHN turut hadir melalui interpretasi “Debu-Debu Intan”. Selain materi kolaborasi, album ini juga memuat “Absolute Sadness”, versi “Super Sad” dari “Tak Kutemukan Lagi Apa Yang Dapat Dicintai Dari Hidup Ini”, serta rekaman live “Di Masa Depan Kita Tak Lagi Bermimpi” dan “Homili/Menatap Wajah Tuhan”.

Pertemuan dengan band seperti The Jansen dan Alkateri juga memperlihatkan bagaimana Cowabunga bergerak melampaui satu generasi musik. The Jansen dikenal sebagai salah satu nama penting dalam perkembangan skena rock independen Indonesia, sementara Alkateri membawa pengalaman dari lingkungan musik alternatif yang juga dekat dengan kultur kolektif dan eksperimentasi.

Nama Patrivia juga memberikan konteks lain dalam proyek ini. Gitaris Patrivia, Arno Zarror, yang juga dikenal sebagai bagian dari Dongker, menyebut para personel Patrivia memang merupakan penggemar Sajama Cut dan melihat keterlibatan mereka sebagai kesempatan untuk memberikan warna lain terhadap lagu yang sudah dikenal pendengar.

Sementara itu, ASHN membawa perspektif dari generasi yang lebih muda. Bryan dari ASHN menyebut “Debu-Debu Intan” sebagai salah satu lagu yang memiliki karakter magis, sekaligus mengungkapkan kehormatan bagi mereka untuk menghadirkan versi ASHN dalam album Deluxe.

Bagi Marcel Thee, pertemuan dengan para kolaborator justru membuka kemungkinan yang tidak seluruhnya dapat diprediksi sejak awal. Ia menyebut keterlibatan para musisi tersebut menghadirkan kejutan melalui tambahan dan interpretasi yang berbeda dari materi asli Cowabunga.

Format fisik menjadi bagian lain yang membuat Cowabunga Deluxe memiliki konteks tersendiri. Sebelumnya, Cowabunga hadir dalam edisi kaset terbatas melalui Bojakrama Press, sedangkan edisi Deluxe kini tersedia dalam bentuk double CD melalui demajors.

CD Cowabunga Deluxe dapat diperoleh melalui jaringan distribusi demajors. Kehadiran format fisik tersebut sekaligus memperpanjang kehidupan album sebagai objek yang tidak hanya didengarkan, tetapi juga dapat dimiliki dan dikoleksi.

Perjalanan Cowabunga Deluxe kemudian tidak berhenti pada rilisan rekaman. Sajama Cut akan membawa konsep tersebut ke panggung melalui Sajama Cut Deluxe Set di Synchronize Fest 2026 pada 17 Oktober, dengan Sunwich, Eleanor Whisper, Alkateri, dan Patrivia dijadwalkan hadir sebagai kolaborator.

Dengan demikian, Cowabunga Deluxe menjadi semacam perpanjangan umur bagi album yang dirilis setahun sebelumnya. Dari sembilan lagu pada album utama, Sajama Cut membuka ruang bagi musisi lain untuk membaca ulang materi tersebut, menghasilkan versi baru, dan kemudian membawanya kembali ke panggung dalam format kolaboratif.

Bagi band yang telah melewati lebih dari dua dekade perjalanan, pendekatan semacam ini menunjukkan bahwa katalog lama tidak harus berhenti sebagai arsip. Cowabunga justru mendapatkan kehidupan baru melalui pertemuan dengan musisi lain, dari The Jansen dan Alkateri hingga Sunwich, Eleanor Whisper, Patrivia, Water Heater dan ASHN. XPOSEINDONESIA/IHSAN

spot_img

Must Read

Related Articles