Leny Rafael Soroti Tren Modern Luxury dan Pentingnya Fashion Stylist bagi Artis

Perkembangan fashion Indonesia terus bergerak mengikuti perubahan gaya hidup, tren global, dan karakter generasi baru. Namun, di tengah derasnya pengaruh fashion internasional, wastra Indonesia tetap memiliki peluang besar untuk menjadi bagian dari penampilan modern.

Desainer senior Leny Rafael, yang telah berkarya selama 25 tahun di industri fashion Indonesia, melihat tren penampilan artis dan public figure saat ini semakin mengarah pada konsep modern luxury.

Menurut Leny, pendekatan tersebut terlihat dari cara kebaya, batik, dan kain tradisional Indonesia diolah menjadi tampilan yang lebih modern tanpa kehilangan identitasnya.

“Kalau saya melihat, konsepnya sekarang lebih ke modern luxury. Misalnya memakai kebaya atau kain batik, tampilannya tidak full batik dari atas sampai bawah,” ujar Leny Rafael.

Ia melihat semakin banyak perpaduan antara referensi fashion internasional, termasuk sentuhan gaya Korea, dengan unsur Indonesia. Perpaduan tersebut menciptakan tampilan yang lebih segar dan relevan bagi generasi saat ini.

“Sekarang lebih banyak perpaduan antara gaya Korea dan gaya Indonesia, kemudian di-mix menjadi sesuatu yang lebih menarik. Misalnya memakai kain batik, kemudian dipadukan dengan bustier atau kebaya, look-nya bisa menjadi lebih internasional,” katanya.

Menurut Leny, pendekatan tersebut dapat membuka peluang baru bagi wastra Indonesia. Kain tradisional tidak lagi hanya ditempatkan sebagai bagian dari busana formal atau tradisional, tetapi dapat menjadi elemen yang membentuk identitas fashion modern.

“Wastra Indonesia tetap terlihat, tetapi tidak membuat penampilannya terasa terlalu tradisional. Justru bisa menjadi identitas yang lebih modern dan bisa diterima secara internasional,” jelasnya.

Dalam pengamatannya, grup Nona menjadi salah satu nama yang menarik perhatian karena dinilai memiliki pendekatan yang kuat dalam membawa unsur Indonesia ke arah yang lebih internasional melalui fashion dan penampilannya.

Leny juga menyoroti penyanyi Yura Yunita, yang menurutnya menarik dalam mengolah kain dan wastra Indonesia menjadi bagian dari gaya personal yang modern.

“Penampilannya menarik karena sering memadukan kain dan wastra dengan gaya yang lebih modern. Kalau kita berbicara soal wastra, menurut saya itu salah satu contoh bagaimana elemen tradisional bisa diolah menjadi penampilan yang keren dan relevan,” ungkapnya.

Bagi Leny, penampilan seorang artis tidak sekadar ditentukan oleh pakaian yang dikenakan. Fashion dapat menjadi bagian penting dalam membangun identitas dan karakter seorang performer di hadapan publik.

Karena itu, ia menilai seorang artis idealnya memiliki fashion stylist dan membangun kolaborasi dengan desainer yang memahami karakter serta kebutuhan penampilannya.

“Menurut saya, dari sisi penampilan, seorang artis harus memiliki fashion stylist sendiri. Tidak hanya punya fashion stylist, tetapi juga idealnya memiliki private designer atau bekerja sama dengan desainer yang memang memahami karakter dan kebutuhan penampilannya,” kata Leny.

Kolaborasi antara artis, desainer, dan fashion stylist dinilai penting untuk menciptakan penampilan yang utuh. Sebuah busana yang baik, menurut Leny, membutuhkan proses styling agar keseluruhan tampilan dapat memiliki karakter yang lebih kuat.

“Desainer bisa menciptakan pakaian yang bagus, tetapi ketika dikolaborasikan dengan fashion stylist, hasil akhirnya bisa menjadi jauh lebih menarik. Karena yang dilihat bukan hanya bajunya, tetapi keseluruhan look,” ujarnya.

Menurutnya, proses styling tidak dapat dipisahkan dari pembentukan identitas visual seorang artis.

“Jadi tidak sekadar mengambil sebuah pakaian lalu memakainya begitu saja. Perlu ada proses styling agar penampilannya memiliki karakter dan terlihat lebih maksimal,” tambahnya.

Leny juga mendorong para fashion designer untuk membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan fashion stylist. Sebab, kolaborasi dapat memberikan perspektif baru dalam menampilkan sebuah karya.

“Kalau seorang desainer berjalan sendiri, mungkin sebuah baju akan terlihat biasa saja. Tetapi ketika dikolaborasikan dengan fashion stylist, hasilnya bisa menjadi sesuatu yang lebih menarik dan memiliki karakter,” katanya.

Pandangan tersebut juga diterapkan Leny dalam proses peragaan busana. Bersama timnya, ia memperhatikan karakter setiap model sebelum menentukan tampilan yang paling sesuai.

“Kami melihat karakter model dan menentukan seperti apa look yang paling cocok. Karena setiap model memiliki karakter yang berbeda-beda, pendekatannya juga harus berbeda,” jelasnya.

Menurut Leny, setiap elemen dalam sebuah penampilan harus saling mendukung. Mulai dari karakter seseorang, konsep yang ingin dibangun, pilihan busana, hingga proses styling.

Di tengah perkembangan tren global yang bergerak cepat, Leny melihat fashion Indonesia memiliki kekuatan besar melalui keberagaman identitas budaya dan kekayaan wastra. Tantangannya adalah bagaimana unsur tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa fashion yang relevan dengan perkembangan zaman.

Pendekatan modern luxury menjadi salah satu kemungkinan. Wastra tetap mempertahankan identitasnya, tetapi dikombinasikan dengan siluet, styling, dan referensi fashion kontemporer.

Bagi Leny Rafael, masa depan fashion Indonesia bukan tentang memilih antara tradisi atau modernitas. Keduanya justru dapat berjalan bersama dan melahirkan identitas baru yang lebih kuat.

Melalui kolaborasi antara desainer, fashion stylist, artis, dan pelaku industri kreatif lainnya, karya fashion Indonesia memiliki peluang untuk tampil lebih relevan sekaligus membawa identitas lokal ke panggung yang lebih luas. XPOSEINDONESIA/IHSAN

spot_img

Must Read

Related Articles