Film horor terbaru berjudul Songko resmi menggelar press screening dan gala premiere di Metropole XXI, Senin (13/4). Film produksi Dunia Mencekam Studio bersama Santara Filmachine ini menghadirkan kisah kelam yang diangkat dari legenda masyarakat Minahasa.
Mengambil latar tahun 1986 di Tomohon, Sulawesi Utara, film ini mengisahkan teror yang bermula dari kematian misterius perempuan-perempuan muda. Warga desa percaya kemunculan makhluk bernama Songko yang mengincar darah suci sebagai sumber kekekalan. Ketakutan yang semula samar perlahan berubah menjadi kepanikan massal, hingga memicu retaknya hubungan antarwarga.

Sutradara Gerald Mamahit menegaskan bahwa kekuatan film ini tidak hanya terletak pada sosok makhluknya, tetapi juga pada sisi psikologis manusia. “Horor di Songko bukan hanya soal sosoknya, tapi bagaimana ketakutan itu menyebar dan membuat manusia kehilangan rasa percaya satu sama lain,” ujarnya dalam sesi konferensi pers.
Pendekatan autentik menjadi kekuatan utama film ini. Proses produksi dilakukan secara serius, termasuk membangun satu desa utuh di kaki Gunung Lokon, Tomohon, yang hingga kini masih berdiri dan menjadi daya tarik masyarakat. Selain itu, hampir 60 persen pemain dan kru berasal dari Manado dan sekitarnya, menciptakan nuansa lokal yang kuat.
Produser kreatif Santara, Avandrio Yusuf, juga melakukan riset langsung dengan tokoh adat dan masyarakat setempat untuk memastikan akurasi cerita, mulai dari visual Songko, gaya bahasa, hingga atmosfer desa. Pendekatan ini membuat film terasa lebih hidup dan tidak sekadar menjadi tontonan horor biasa.
Eksekutif Produser Santara, Whisnu Baker, menyebut proyek ini sebagai bagian dari visi besar untuk membawa cerita lokal ke panggung yang lebih luas. “Kami ingin cerita daerah bisa dikenal lebih luas tanpa kehilangan identitas aslinya,” ungkapnya.
Dalam sesi wawancara, tim produksi juga mengungkapkan bahwa visual Songko merupakan hasil kolaborasi antara efek prostetik dan CGI. Pendekatan ini dipilih untuk menghasilkan tampilan yang realistis sekaligus tetap mempertahankan sentuhan fisik dari karakter tersebut.
Tak hanya itu, unsur budaya juga diperkuat melalui penggunaan lagu tradisional “Oh Ina Ni Keke” yang memiliki makna mendalam tentang hubungan ibu dan anak. Lagu tersebut menjadi simbol keseimbangan antara pengorbanan dan pengertian dalam keluarga, yang sejalan dengan konflik dalam film.
Aktris Annette Edoarda mengaku pengalaman menonton film ini di layar lebar terasa jauh lebih intens dibanding saat proses syuting. “Ada momen-momen yang bahkan membuat saya sendiri ikut merinding,” ujarnya.

Sementara Imelda Therinne menyoroti kekuatan emosional film ini. “Ketakutan di film ini bukan hanya dari makhluknya, tapi bagaimana rasa takut itu memecah hubungan manusia,” katanya.
Film ini juga menjadi ruang eksplorasi bagi talenta baru. Santara sebagai creative playground membuka kesempatan bagi kreator untuk berkarya secara bebas dengan pendekatan kolaboratif, termasuk rencana pengembangan intellectual property (IP) ke berbagai format seperti game dan pengalaman interaktif.
Setelah Jakarta, rangkaian premiere akan berlanjut ke Manado sebagai bentuk penghormatan terhadap asal-usul cerita. Kehadiran film ini di tanah Minahasa diharapkan memberikan pengalaman yang lebih dekat bagi masyarakat yang telah lama mengenal legenda tersebut.
Dibintangi oleh Fergie Brittany, Tegar Satrya, dan Khiva Iskak, film Songko dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 23 April 2026.
Dengan perpaduan horor, budaya, dan konflik manusia yang kuat, Songko berpotensi menjadi salah satu film horor lokal yang menghadirkan pengalaman berbeda bagi penonton.XPOSEINDONESIA/IHSAN

