Kamis, Januari 22, 2026

Yongkie Vincent, Jazz dan Taman Bermainnya

Waktunya Senin malam. Dimana, Lounge di Lantai 3 Deheng House Kemang, menyediakan sebuah “Taman Bermain”. Bukan untuk umum. Diperuntukkan bagi seorang pianis muda, kelahiran 19 Agustus 1993. Yongkie Vincent Namanya. Bertubuh subur dengan seringkali gampang betul melempar senyum.

Senyumnya yang tulus, pasti disambut orang-orang yang diberikannya senyum. Dan orang-orang (baca : penonton) bakal melemparkan senyum lebar, tulus Ikhlas, kalau menonton dan menyimak permainan pianonya. Yongkie Vincent gettoooo looooh!

Taman Bermain! Well, demikianlah adanya. Ada sebuah grand piano elektrik sebagai alat permainan. Dan “tersedia” (eh lebih tepatnya disetujuilah ya…) beberapa temannya yang akan menemaninya bercengkrama, berlarian, bercandaan, usil-usilan. Ada Sheila Permatasaka (bass), Giovanny Gerry (drums). Lalu pada acoustic nylon guitar ada Thomas Budi Handoyo. Ada juga Shaku Rasjidi, perkusi. Masih ditambah vokalis, manis suara dan wajahnya, Olive Latuputty.

Maka yang terjadi adalah, Yongkie memang bermain-main. Jazz dan piano menjadi mediumnya untuk mengajak penonton, sekaligus penyimak musik sajiannya, untuk turut bermain. Paling tidak, sila menikmati candaan demi candaan Yongkie lewat permainan pianonya. Ah, dia usil betul!

Usilnya agak “kelewatan”! Dikarenakan dengan sangat enteng, Santai, relaxnya Yongieb isa menari-narikan jari-jemarinya dengan sangat sangat bebasnya. Maka tetiba ia bisa memainkan secara medley, dan spontan uhuuuyyylah, lagu-lagunya David Foster! Dan itu tanpa rencana alias ga pakai skenario.

Bebas banget. Kan jazz? Yongkie yang pengagum permainan pianonya almarhum Elfa Secioria ini, melihat dan merasakan jazz memang sebagai medianya untuk berekspresi seni musik. Ah kira-kira begitulah adanya. Dan yang seru, ketika ia mengajak penonton untuk mencoba jammin’s dengannya sebagai penyanyi. Saat itulah, sang penyanyi bak diajaknya bermain….roller-coaster.

Intronya tenang, “sang penyanyi” akan santai berekspresi. Mengeluarkan kemampuannya. Leluasa pula meliuk-likukkan suaranya, biar jazz dan terlihat “sangat jazz”. Ga kalah dong dengan permainan piano Yongie. Kudu ya?

Tapi lewati intronya yang “relatif nyaman” bagi si penyanyi, pada phase berikutnya ni die cuy!  Berabe. Harus pandai-pandai ikut menyelaraskan rasa, hati, pancaindera, pendengaran ah pokoknya begitulah deh. Apa deh, maksudnya?

Bahwasanya, Yongkie lantas asyiknya! Aduh, duh, asyiknya. Dan….liarnya! Hahaha, emang liar. Dan si penyanyi kudu menajamkan rasa, Indera pendengaran. Kudu….apa ya, feels so good? Something like thatlah. Tapi Yongkie tak bermaksud “mencelakai” si penyanyi. Oh, tidak begitu….

Yongkie hanya mengajak si penyanyi untuk ekstra hati-hati. Kalau ditonton baik-baik, disimak. Seolah-olah seperti Yongkie melempar tanya pada sang penyanyi, “Hola, are you jazz singer? Are you jazz enough? Come on, let’s jazz…” Dan ia menatap si penyanyi, akdang cukup meliriknya lalu melihat para penonton di depannya. Begitu terus. Jari-jarinya terus menari-nanri di atas tuts. Alhasil, penyanyinya terjun bebas?

Ga lah. Tidak begitu. Tanyakan pada Restu Fortuna dan “ustadz” Hasyim Arsal Alhabsyi, yang memberanikan diri secara spontan ikut tampil ke atas panggung. Restu adalah jazz luar dalem, begitulah citranya bagi sebagian orang yang kebetulan mengenalnya. Sementara pada kenyataannya, Restu jauh lebih banyak mengenal orang-orang, ia terlihat dekat en familiar apalagi dengan “tokoh-tokoh masyarakat”. Ya kira-kira begitulah seorang Restu nan Fortuna.

Yang bersama Yongkie Vincent, Restu seperti “dituntun” seorang Yongkie yang jauh lebih muda usianya, mengamati dan menyimak sosok Al Jarreau pada sisi atau perspektif lebih luas dan lebar. Kebetulan Restu memang mengidolai betul Al Jarreau, dimana pada setiap candaannya acapkali diselipkannya, “Suara Al Jarreau sulit saya samai atau tiru, tapi warna kulitnya kan bisa saja…”.

Maka bagi yang mengenal Restu, malam itu kita akan merasakan penampilan “berbeda” dari Restu. Baguslah juga, so pasti! Demikianlah halnya juga dengan Habib Hasyim, yang tentunya mengalami semacam pengalaman “rohani” baru dan berbeda saat ia menyanyi diiringi Yongkie. Tidurnya bisa lebih nyenyak kan ya?

Well, ditangan Yongkie Vincent. Dengan cara khas dan uniknya memimpin bandnya, lagu-lagu populer tertentu ambil contoh, “Greatest Love of All” atau “Through the Fire” misal ya. Sampai pada lagu tradisional “Paris Berantai”. Atau lagu “Juwita Malam” deh misalnya. Bunyinya berbeda betul, dengan yang disajikan musisi lainnya.

Akhirnya, kita disuguhi memang canda-gurau, keusilan seorang Yongkie yang mengaku belajar piano sejak usia balita itu. Dan Yongkie memang extra-ordinary pianist. He is one on only player with those unique style. Segar euy nontonnya…. XPOSEINDONESIA/DM

Must Read

Related Articles