32.1 C
Jakarta
Friday, September 30, 2022

Ciri Overthinking : Otak Sering Terdistraksi Social Media

- Advertisement -
- Advertisement -

Kebiasaan overthinking (terus menerus berpikir secara berlebihan) bisa menimbulkan stress, cemas, takut hingga berakibat kepada kesehatan fisik.

Beberapa penelitian mengatakan, setiap hari  manusia berpikir kurang lebih 70.000 kali. Bahkan pada saat ada masalah, otak akan terus ‘loncat-loncat’ like jumping monkey.

Iis Anthea, seorang life transformation coach mengatakan hal ini pada sharing session gerakan #akuberdaya yang digagas Desainer Nina Nugroho bekerjasama dengan Asosiasi Trainers Guild (TTG) pada Minggu, 19 Desember 2021.

Dijelaskan Iis, asal kata  overthinking adalah over (berlebih)  dan thinking (berpikir).  Overthinking sendiri  adalah sebuah gejala, jadi bukan penyakit yang sesungguhnya.

- Advertisement -

“Overthinking  berpikir terlalu berlebihan. Memikirkan masa lalu yang sudah berlalu, masa depan yang belum terjadi. Hal tersebut berulang-ulang terjadi. Sehingga waktu kita habis hanya untuk memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak dipikirkan. Capek nggak sih? Pastilah,” ungkap Iis.

Menurut Iis, bisa dibayangkan orang yang setiap saat terus berpikir, dimana dalam kehidupan luar saja sudah berisik, ditambah lagi di dalam otaknya juga tak kalah berisik. Akibatnya otaknya  terdistraksi oleh berbagai macam masalah.

Distraksi ini kini didominasi oleh keterikatan kita dengan social media, seperti WhatsApp, Instagram, Facebook bercampur dengan deadline kerja, ekspektasi, masalah hidup dan belum bisa move on dari mantan.

“Jika tidak mampu memilah-milah masalah yang harus dipikirkan, akibatnya hidup terasa penuh tekanan. Dengan kondisi ini, tidak menutup kemungkinan berdampak pada kesehatan mental dan kestabilan jiwa,” urai Iis.

Overthinking dapat dialami oleh siapapun, namun yang paling sering terjebak pada kondisi ini adalah  para kaum wanita. Hal ini dipicu oleh tingginya tingkat kekhawatiran wanita dibanding pria.

Dari sebuah penelitian, diketahui orang-orang overthinking melihat  kebiasaan  ini tidak lebih   sebuah  sikap kehati-hatian.

Namun jika kelewat berlebihan, overthinking seseorang justru membawa beberapa dampak negative, diantaranya:

Baca Juga :  Professional Women’s Week Hari ke 4 : Perpaduan Skin Care & Psychological Statement

1.Performa Kerja Menurun

Orang overthinking  menjadi sulit untuk berkonsentrasi, tidak fokus dalam memecahkan masalah, bahkan kesulitan berkomunikasi dengan orang lain.

Pada seorang atlet kebiasaan overthinking seringkali menjadi boomerang. Pada sebuah penelitian diketahui adanya penurunan performa terhadap atlet yang overthinking.

2. Aktivitas terhambat

Salah satu dampak overthinking adalah menurunnya kemampuan mengatur waktu. Sehingga banyak waktu terbuang percuma karena kerap memikirkan sesuatu terus menerus.

Akibatnya  energi jadi turut terkuras, tubuh terasa lelah dan mengidap   insomnia. Bahkan orang-orang overthinking juga mengalami anxiety dreams atau sering terbangun di malam hari  yang dipicu oleh kekhawatiran  berlebihan yang dirasakan.

3. Emosi tidak terkontrol

Overthinking mendorong seseorang tidak mampu mengendalikan emosi, sering meledak-ledak, panikan, dan insecure.

Hasil sebuah  penelitian disebutkan overthinking  menyebabkan tekanan emosi yang berlebihan hingga mendorong seseorang untuk melampiaskan emosi dengan cara yang tidak sehat. Seperti konsumsi makanan tidak sehat dan minuman beralkohol.

4. Gangguan kesehatan

Overthinking ternyata tidak hanya menyerang secara mental, tapi juga fisik. Sakit kepala, demam, nyeri dada, jantung berdebar, sesak napas, hingga tekanan darah tinggi, biasa menyerang orang yang overthinking.

Pada beberapa kasus berat, overthinking berisiko seseorang terserang stroke, jantung, diabetes dan depresi.

Menurut IIs, berilah batasan waktu kapan harus berhenti memikirkan sesuatu dan segeralah mengambil keputusan.

Menulis menjadi salah satu solusi, supaya beban yang ada dipikiran bisa terasa lebih ringan. Lakukan aktivitas yang menyenangkan , seperti nonton film, dengerin music, olahraga atau membaca, juga bisa menjadi pilihan.

Apabila masih mengalami kesulitan untuk menghilangkan kebiasaan overthinking, jangan ragu berkonsultasi dengan pakar. Bersama coaching, kata Iis seseorang akan dibantu mencari solusi yang sesuai dengan kondisinya. XPOSEINDONESIA/ Foto : Dokumentasi

untitled 1 2
untitled 1 2
untitled 11
untitled 11
- Advertisement -

Latest news

- Advertisement -

Related news

- Advertisement -