Jumat, Februari 21, 2025

Di Balik Boikot: Menelisik Dugaan Adanya Hubungan Danone dengan Israel

Kecil Besar

Sikap Fink yang mudah ditebak itu, juga fakta perusahaannya menguasai sejumlah besar saham Danone, menjadikan Danone, dan unit-unit usahanya di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, ikut terseret karena dianggap sebagai bagian dari mesin-mesin kapitalis global yang aktif membandari Israel.

Bila uang yang menjadi timbangan, cerita lebih mudah dipahami. Danone, pada 2022, misalnya, tercatat membukukan penjualan global sekitar Rp550 triliun, atau setara seperenam APBN Indonesia pada 2023. Ini angka yang besar, tentunya. Dari angka yang jumbo itu, Rp27 triliun di antaranya adalah kontribusi penjualan Danone di Indonesia.

Mengingat fakta Blackrock adalah pemegang saham utama di Danone dan fakta bahwa Danone merupakan pengendali pada unit-unit bisnisnya di Indonesia, ini berarti dari setiap sen penjualan produk AQUA (baik kemasan gelas, botol maupun galon), VIT, Mizone, Nutricia dan SGM, ada sebagiannya—untuk tidak menyebut sebagian besar—yang lari ke headquarter Danone di Perancis, lalu dari situ meresap ke brankas Blackrock di New York dan, selanjutnya, Anda bisa menebak sendiri, kan?

Dengan cerita di atas, orang jadi lebih punya perspektif untuk menilai klaim Arif, juru bicara Danone Indonesia, bahwa Danone tidak memiliki pabrik dan tidak beroperasi di Israel.

Ada cerita lain, sebenarnya, yang juga bisa memperkaya perspektif.

Sedikit sejarah. Ceritanya, pada dekade 1970-an, Danone yang kala itu masih bernama Groupe Danone, menjalin kerjasama strategis dengan Strauss Dairies, produsen makanan dan minuman kemasan di Israel. Kerja sama kala itu termasuk mencakup bantuan permodalan, penjualan produk Danone dan kesepakatan alih-teknologi. Boleh dikata, Danone-lah yang membukakan jalan bagi Strauss Group kepada inovasi dan keilmuan first-class yang dihasilkan laboratorium-laboratorium riset Danone di berbagai negara, utamanya fasilitas riset utama Danone, Centre Daniel Carasso, di Perancis.

Pada 1974, Danone membukakan jalan bagi Strauss untuk bisa memproduksi Yogurt. Namun pada 1982, di tengah membesarnya gerakan boikot dunia Arab atas produk Israel, Danone memutuskan menarik diri. Danone pergi dengan memberi syarat bahwa tiga produk unggulannya, Dani, Danone, dan Daniela, bisa tetap diproduksi di Israel asalkan dengan tulisan dalam aksara Ibrani.

Pada 1996, setelah 14 tahun melipir untuk menghindari kemarahan dunia Arab, Danone kembali ke Israel. Per Desember pada tahun yang sama, Danone membeli 20% saham Strauss Health Ltd. (sebelumnya bernama Strauss Dairies Ltd.) dan Strauss Holdings (sebelumnya Strauss Nahariya Dairy Ltd.). Pembelian itu termasuk pemberian lisensi bagi perusahaan di tanah jajahan itu untuk menggunakan know-how Danone dalam produksi seluruh produk fresh dairy Danone. Kehadiran Danone inilah yang melapangkan jalan bagi Strauss untuk menjadi raksasa makanan dan minuman kemasan di Israel.

Dalam sebuah sirkular resmi belum lama ini, Danone menyebut bahwa per 31 Desember 2022, perusahaan tercatat punya saham pada sebuah entitas bisnis di Israel, yakni Strauss Health Ltd. dengan porsi kepemilikan saham 20%.

Jadi, benarlah bahwa Danone memang, secara kasat mata, tidak memiliki pabrik dan tidak beroperasi di Israel. Namun, seperti sebuah gelas separuh penuh, benar pula bahwa Danone mendapatkan keuntungan rutin dari operasi dan bisnis salah satu perusahaan makanan dan minuman kemasan terbesar di Israel, Strauss.

Belum selesai. Mengingat fakta bahwa pabrik Strauss berlokasi di atas tanah warga Palestina yang terjajah dan fakta bahwa hari demi hari dalam beberapa dekade terakhir Strauss bisa menghasilkan keuntungan yang fantastis di tengah pendudukan, opresi dan genosida Israel atas bangsa Palestina, ini berarti Danone, dan seluruh unit usahanya di seluruh dunia, termasuk Indonesia, ikut kecipratan darah orang-orang yang terzalimi di Palestina. Boikot? Sumber IA/Islam Indonesia/Foro : ScrenGrab Danone Indonesia

Must Read

Related Articles