25.3 C
Jakarta
Monday, June 21, 2021

Ian Antono & Kompiang Raka Kolaborasi Timur & Barat

I Gusti Kompiang Raka dan Ian Antono dipertemukan dalam acara Cakap Cakap Live Instagram @bensleo52, Kamis, 20 Mei 2021.  

Acara yang didukung Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kratif/Badan Ekonomi Kreatif ini boleh dicatat membuat sejarah. Karena mempertemukan kembali dua maestro musik dari dua genre berbeda.

“Kompiang adalah pemusik tradisi, dan maestro sebagai pemusik gamelan, sementara Ian Antono adalah  gitaris  dan tokoh musik rock yang  terkenal bersama Gong 2000 dan God Bless. Kedua musisi ini pernah bersepanggung dan membuat rekaman atas nama Gong 2000,” begitu ucap Bens Leo saat membuka  acara Cakap Cakap   yang mengambil tema Progresif Rock dan World Music.

Kelahiran Gong 2000 sendiri tidak terlepas dari peran istri Ian Antono, Titiek Saelan yang mendorong suaminya membentuk semacam komunitas musisi yang dinamakan Bengkel Musik Gong. Komunitas ini dimaksudkan untuk membenahi kondisi musik di Indonesia, khususnya rock, dan sekaligus mencari solusi bagi musisi muda berbakat di jalur rock.

Ian menyebut sejak awal rekaman pertama Gong 2000, ia terpikir untuk memasukkan unsur gamelan dalam rekaman pertama Gong 2000, bertajuk “Bara Timur”

“Konsep musik memadukan musik barat dan timur  itu sebetulnya tidak mudah.  Contohnya, bunyi gamelan itu tidak bisa digantikan elekton. Karena bunyi gamelan asli sangat khas. Dimensinya beda,” kata Ian yang bersama Gong 2000 yang didirikannya menghasilkan album “Bara Timur” (1991), “Gong Live” (1992), “Laskar” (1993), “Prahara” (1998)

Ian sendiri sejak lama sudah tertarik dengan musik tradisi Bali yang dinamis. “Sebetulnya antara Bli Kompiang dan Gong 2000 bisa cocok karena ada karakter suara Mas Iyek (Achmad Albar, Red),” ungkap Ian. Selain Iyek, Gong 2000 dihuni  pula oleh Donny Fattah (bas), Harry Anggoman (kibor), dan Yaya Muktio (dram).

Menurut Kompiang, untuk  menyatukan nada pentatonik dan diatonik, jelas tidak mudah “Hitungannya saja berbeda. Di musik barat hitungannnya dari do, re, mi, fa, sol la, si, do, tapi di gamelan  malah  bisa dari do tingi berjalan mundur!”

Di luar itu,  untuk menghasilkan musik tradisi yang tidak sekadar tempelan, “Kami mau nggak mau harus banyak ketemu, banyak melakukan latihan,  mengenali karakterstik masing masing alat, agar musik yang dihasilkan terdengar singkron,” kata  Kompiang.

Khusus untuk pertunjukan live, menurut Ian, “Jumlah penggunaan gamelan juga harus banyak. Agar terkesan megah. Dan ini akan memakan banyak biaya dan membuat budget show tidak murah,” jawab Ian.

Bli Kompiang sendiri ikut dalam show Gong 2000 pada tahun 1991 dan 1995, yang diselengarakan secara megah di Parkir Timur Senayan.

Khusus pentas tahun1991, Gong 2000 tampil dengan menggunakan sistem suara berkekuatan 120.000 watt dan lampu berkekuatan 300.000 watt. Show megah ini dicatat didatangi sekitar 100.000 penonton.

“Itu pengalaman show dahsyat dan tak terlupakan.  Tetapi khusus pagelaran di tahun 1995, saat gladi bersih, turun hujan sangat besar. Air hujan masuk ke dalam peralatan kami. Ketika malamnya kami menggelar show,  suara gamelan jadi tembem. Itu bahayanya membuat pertunjukan secara open air!”  kenang  Kompiang  terkekeh.

Album Gong 2000 yang bernuansa rock dan kental memperdengarkan instrumen gamelan itu  bagi pencintanya  dirasakan sebagai sebuah kemegahan  tiada tara. “Kenapa gak dibikin lagi?” tanya seorang penonton Cakap-Cakap?

Ian mengaku masih tertarik dan berniat untuk membuat musik yang menggabungkan musik pentatonis dan diatonis itu.  “Musik Gong 2000 seharusnya bisa diteruskan. Tapi butuh waktu. Butuh untuk sering ketemu, berdialog  juga  latihan secara bersama.”

Ian yang baru merilis   single  terbaru God Bless, berjudul  “Mulai Hari Ini”. Ide liriknya berisi ajakan untuk meninggalkan masa lalu, yang termasuk di dalamnya jika itu, penuh kekelaman, dan memasuki lembaran dan nilai baru yang lebih postif. Semacam metamorfosa dari hitam ke putih, Dalam bahasa lain merupakan proses hijrah yang sebenarnya. “Seperti di dalam industry musik, kita sudah tidak bisa lagi mengelolanya seperti masa lalu. Kita harus berubah!” kata Ian tentang lagu barunya.

Musik Eksotik dari Timur

Kompiang menyebut, musik Timur memang  terdengar eksotis dan selalu punya menjadi daya tarik,  terlebih bagi telinga  orang  luar negeri. 

Namun, di era 1977 dulu, musik  macam ini dianggap aneh  bahkan oleh orang Bali.   “Saat rilis rekaman bersama kelompok  Guruh Gipsy, teman teman di Bali mencaci maki. Mereka minta album eksperimen itu jangan dibawa ke Bali,” ungkap Kompiang yang mengaku  harus setahun menjalani  latihan bersama  Guruh Soekarnoputra Cs.

“Setiap malam  saya  harus tidur di bawah piano di studio Angkasa, tempat rekaman album itu!” Kompiang mengenang.

Sebagai seniman musik tradisi, Kompiang yang  juga berada dalam Lembaga Kesenian Saraswati menyebut, kondisi Pandemi Covid 19, membuat seniman terpaksa  tak ada pekerjaan di dunia kesenian. “Satu dan dua orang yang tinggal di Bali, ada yang  kembali kerja mengukir atau kerja di bangunan, agar bisa hidup,” ujar Kompiang. XPOSEINDONESIA/NS Foto : Muhamad Ihsan

Latest news

Related news