Rabu, Februari 4, 2026

Saat Yellow Jackets dan Ganesha Disandingkan oleh Queen

Pada Jumat malam , 30 Januari silam, area Balai Sarbini di Lippo Mall Semanggi mendadak ramai. Penuh dengan dominan warna-warna kuning dan biru. Tapi yang jelas juga mendominasi adalah wajah-wajah yang ke-senioritas-annya tak usahlah diragukan lagi. Mereka datang dari mana-mana, siap sedia melepas “atribut” (baca : jabatan) mereka sehari-hari.

Kita mau Party malam ini! Yeah! Tergambarlah dari wajah mereka semua, apalagi menengok kostum “khusus” sebagian dari mereka malam itu. Rata-rata sungguh sudah menyediakan waktu spesial untuk berpesta bersama-sama.

UI vs ITB alias Yellow Jackets versus Ganesha! Tapi ini “pertarungan seru-seruan” yang lebih ke pesta-pora bersenang-senang bersama-sama. Kalau dianalogikan sebagai  pertandingan sepakbola tentu saja bukan kompetisi resmi atawa, pertandingan liga. Bukan, bukan itu.

UI vs ITB
UI vs ITB

Made in Heaven, 1995

Ini mah Friendly-Match a.k.a Pertandingan Persahabatan. Dengan ikatan persahabatan, saling lempar senyum dan tawa, menonton dan bernyanyi bersama. Konser spesial ini dibikin atas dasar itu. Memang yang diciptakan suasana penuh persahabatan itulah.

Tapi ya memang paling menarik adalah, kok ya lagu-lagu dan musiknya Queen? Kok pilihan jatuh pada kwartet rock asal Inggris yang dibentuk tahun 1970 ini, dengan Freddie Mercury, Brian May, John Deacon dan Roger Taylor?

Yang perlu disaampaikan, info sebagai pengingat aja sih ini, bahwa album perdana Queen  adalah selftitled debut album dirilis 1973. Disusul Queen II, 1974. Sementara album terakhir Made in Heaven, masih bersama mendiang Freddie Mercury, dirilis 1995.

Menariknya grup ini punya catatan penjualan album yang terbilang luar biasa. Beberapa albumnya laris manis tanjung kimpul, sampai masuk tanah air kita ini. Tetapi popularitas mereka, untuk di Indonesia, terutama di era 1970an hingga 1990-anlah, sejatinya ya bukanlah yang paling dikenal luas dimana-mana…. Mudah-mudahan pada setuju ya?

The Beatles dan The Rolling Stones

Begini deh, dalam khasanah musik di wilayah tongkrongan kawula muda. Terutama di era 1980an. Memang harus diakui, yg terpopuler ada 2 nama. The Beatles dan The Rolling Stones. Lagu2nya terdengar di pos-pos  siskamling. Di ujung gang-gang. Atau tongkrongan “dadakan” depan warung rokok. Lebih “merakyat” memang.

Berikutnya ada nama The Police, Genesis dan Queen. Termasuk Van Halen.  Nah untuk list yang ini, biasa diputar di dalam audio hifi di mobil-mobil. Dulu kan yg paling dikenal perangkat Blaupunkt dilengkapi dengan Cobra. Jadi lebih “menyasar” pada anak-anak “gedongan”. Yang jarang nongol di tongkrongan gang atau depan warung.

Sehingga karena itulah, cukup surprised pilihan jatuh pada “Tribute to Queen“, dalam konteks “Partai Pertandingan Persahabatan” kemarin itu. Bahwasanya, Queen yang dijadikan “alat” untuk mempersatukan dalam kedamaian musik nan hakiki. Taela!

Well, beraninya. Cakupan pencinta atau penyukanya sebenarnya terbatas. Lebih terbatas tentu dari John-Paul-George-Ringo ataupun Jagger-Richards dan kawan-kawan. Iya dong? Iya laaaah….

Terbukti nih, beberapa musisi ( dan penyanyi ) di kedua belah pihak, ada yang mengaku, “Gw kurang referensi lagu-lagu Queen sebenarnya” Lainnya bilang, “Gw hanya tahu lagu-lagu Queen sedikit euy…” .Ada yang sampai berucap,”Gw kemarin sampai googling cari-cari lagu Queen nih. Maklumlah jarang dengerin Queen dari dulu.”

Tapi toh, kejadian juga bray. Konser akhirnya tetap bisa berlangsung. Dan tiketnya, buseeettt dah udah sold-out beberapa hari sebelum konser! Sadis, sadis! Populer atau kureng popularitasnya, teteup toh pada berbondong-bondong. Antusiasmenya seru, sampai mencetak kaos sendiri mewakili almamater masing-masing. Kegairahan yang begituan tuh yang seru.

Ramai so pasti. Tapi tetap tertib. Yes! Puji Tuhan, tertib dan asyik lihatnya. Ingat ini bukan… Persib versus Persija, kata seorang musisi. Ga cewek, ga cowok, banyak yang “sangat siap” untuk nonton. Lengkap beneran atributnya… Terutama atribut almamaternya.

Penonton datang dengan maksud dan tujuan, cari hiburan! Bersenang-senang barengan. Tak penting lagi, ga begitu kenal dengan lagu-lagunya Queen…Ya kaleee, masak sih ga tau Freddie Mercury! Sob, kemane aja ente zaman moeda doeloe…

Panggung besar dilengkapi screen besar sebagai latar belakang diisi bergantian 2 kelompok musik. Ya tentu saja anak-anak UI dan anak-anak ITB lah. Sapa lagi?

Band of Ganesha and Band of Yellow Jackets

Rombongan musik dari ITB alias Ganesha, terdiri dari pimpinan rombongan, Bubi Sutomo (Metalurgi), kibor. Lalu dua orang gitaris Yoes JF (Metalurgi) dan Ikif (desain). Risyad (Kimia) bassist. Drummer adalah Ria Adianto (Farmasi). Serta Didiet FA (Arsitek) Synth & backing vocal

Ada juga dua musisi lain, terbilang senior yaitu Purwacaraka (Tehnik Industri) dan Erwin Badudu (Arsitek), keduanya mendukung sebagai kibordis. Lalu ada “very special guest”, Simon Mantiri  (Kelautan) pada drums.

Untuk sektor vokal mereka menampilkan Toni Sianipar (Arsitek), Henry Sinaga (Arsitek), Candil “Seurieus” (Desain) dan Paul Sidharta. Beserta lainnya, ada Angelia Lao (Sipil)/ sopran, Christine (Tehnik Lingkungan). Selain itu, mereka juga mengerahkan pasukan Choir alumni ITB.

Adapun team UI alias The Yellow Jackets selengkapnya adalah terdiri dari Kadri Mohamad (FH UI 82), sebagai kepala rombongan cum vokalis utama.  Ditemenin sama Tony Wenas (FH UI 80), kibor dan juga vokalis utama. Drummer ada 2 orang, Fajar Satritama (FH UI 89) dan Hayunaji (FEB 89).

Berikutnya ada Dave Lumenta (Fisip Antrop UI 92) bass. Dan dua gitaris yang terus main bareng, Budi Bucin Santoso (Fisip UI  90) dan Budi “Drive” Raharjo (FT UI 96). Ada juga ikut mendukung, Adi “KLa” Adrian (FH UI 84). Lalu ditambah Bowie Djati (Fisip UI) dan Dwiki Dharmawan (FH UI 86).

Persatuan Sepakbola eh team musik Universitas Indonesia masih ditambah lainnya, Candra Darusman (FEB UI 76) kibor/piano, Once Mekel (FH UI 89), Andien Aisyah (Fisip UI 2003), Ikang Fawzi (Fisip UI 79). Serta Bella Fawzi (Fisip UI 2009), sebagai MC. Plus rombongan Paduan Suara Universitas Indonesia sebanyak 16 orang.

 Ada juga tim orkestra dalam skala kecil, yang ikut mendukung penampilan kedua group band di atas itu. Overall, tampilannya memang serius be’eng. Niatnya jelas, menyuguhkan penampilan lagu dan lagu dan musik sebaik-baiknya. Ya iya dong.

Tie Your Mother Down to Don’t Stop Me Now

Konser dibuka oleh Bandnya “Jaket Kuning”. Dengan mengetengahkan Tony Wenas sebagai kibordis dan vokal utama. Tony sendiri notabene kayaknya yang “paling Queen” dalam acara konser ini. Lha kan dari tahun 80-an dengan grupnya, Solid 80, Tony dan Kawan-kawan adalah spesialis lagu-lagu Queen. Ada juga Fajar Satritama dan Dwiki Dharmawan yang paling menonjol, sdengan instrumennya, pada lagu pembuka ini.

Berturut-turut kemudian mereka menyuguhkan “Somebody to Love” masih dengan Tony. Dilanjutkan dengan “Under Pressure” yang menampilkan duet Kadri dan Ikang Fawzi. Lalu “Innuendo” oleh Kadri. Berlanjut duo Andien dan Candra Darusman membawakan, “Melancholy Blues”. Selanjutnya, “Too Much Love Will Kill You” oleh Tony Wenas. Dan Tony bersama Kadri dan Once Mekel membawakan, “You Take My Breathe Away”.

Selanjutnya giliran Band of Blue-Jacket. Dibuka dengan “Mustapha”, “Another One Bites the Dust” mengetengahkan Henry Sinaga. Lanjut dengan duo Toni Sianipar dan Paul Sudharta dengan “39” dan “Crazy Little Things Called Love”. Henry Sinaga naik panggung lagi dengan “Killer Queen”. Berikutnya Candil membawakan “Save Me” dan “I Want to Break Free”.

Ternyata kedua “kubu” mendapat giliran bermain 2 kali. Soalnya setelah itu UI naik panggung lagi. Mereka memainkan “Fat Bottom Girls”, “Spread Your Wings”. Lanjut dengan “Bicycle Race” dan “Play the Game”. Kemudian mereka memainkan, “Love of My Life”, “Jealousy” dan “Radio Ga Ga”, dinyanyikan bergantian oleh Tony, Kadri dan Once Mekel.

Candil dan Henry Sinaga berduet membawakan “We Will Rock You” dan “Keep Yourself Alive”, membuka penampilan sesi kedua dari ITB. Selanjutnya ada “Flash/Prince of the Universe”, “You’re My Best Friend”. Berlanjut dengan “The Millionaire Waltz” yang mengetengahkan permainan piano Purwacaraka. Disambung dengan “Barcelona” mengetengahkan penyanyi  dan Henry Sinaga dan Angelina Lao. Ditutup Don’t Stop Me Now” oleh Henry Sinaga, didukung choir.

Konser ini ditutup dengan kedua grup band Bersatu memainkan dua lagu terpopuler Queen, bisa jadi kedua lagu ini yang kayaknya familiar untuk semua penonton. “Bohemian Rhapsody” dan “We are the Champion”. Secara khusus penampilan grand-finale menampilkan drummer Istimewa, Simon Mantiri. Lagu paling ujung dari konser ini, anggap saja “encore”, “Teo Torriate”. Mungkin salah satu lagu paling tidak dikenal penonton….

Tontonanpun selesai. Alhasil sebuah konser lumayan panjang dan cukup melelahkan. Apa karena “kepanjangan” sampai beberapa penonton mulai meninggalkan Balai Sarbini, sebelum konser selesai? Kayaknya satu band memainkan “cukup” 9-10 lagu langsung di satu sesi saja, akan lebih pas. Sehingga peak-nya di ujung konsernya dapat dan….meledak.

Dan pilihan lagu kudu lebih cermat. Biasanya kalau konser model “nostalgia” begituan, Sebagian besar penonton pasti lebih bergembira dengerin lagu-lagu yang dikenal baik oleh mereka. Sehingga mereka bisa ikutan nyanyi bareng, menciptakan koor masal.

Ah tapi itu hanya pandangan sekilas saja. Toh biar gimanapun, konser berlangsung lancar dan sebagian besar penonton nampak sukacita. Sampai jumpa di konser sejenis, di lain waktu. Eh, mau ada lagi? XPOSEINDONESIA/dM

Must Read

Related Articles