Menikmati sajian jazz, dengan suasana relatif tenang. Secangkir kopi, dengan 1 atau 2 slice of marble cake. Bila telinga mendengar dengan jernih, bersih maka suara bagus langsung masuk ke dalam hati. Menentramkan dan menyamankan, Tak disadari, sort of sound healing? Bisa jadi.
Tapi ini dimana nih tkp (alias tempat kejadian perkara) nya? Ada satu tempat baru, nyaman dan tenang. Deheng House , di lounge di lantai tiga. Di Deheng itu ada 4 lantai, ada 4 venue. Seperti restaurant, coffee house dan termasuk sebuah auditorium atau “medium” representative concert-hall. Adanya di jalan Taman Kemang.
Kembali ke jazz. Saban Jumat atawa Sabtu malam minggu, ada jazz bagus digelar di lantai 3 nya itu. Malam itu, beruntung ada pasangan jazz tulen, Yance Manusama and Otti Jamalus. Mereka berdua ditemani drummer Cendi Luntungan. Ada gitaris Oele Pattiselanno. Dan ada pianis, Fanny Kuncoro.



Yes, rata-rata nama-nama jazz berjam terbang ektra tinggi. Teman-teman baik yang sudah populer bahkan sejak 1970-an. Saya berteman baik dengan mereka, ya sejak lama. Mulai 1980-an.
Mulai dari Yance Manusama misalnya. Legendary jazz funk bassist. Kelahiran Bandung, 18 Desember 1955. Bassis yang mengawali perjalanan musiknya sebagai gitaris, juga trombonist. Saat ia berkarir awal di Medan. Yance memang sempat melanglang. Baru di ibukota, ia lantas menjadi bassis. Dan mulai dikenal lewat album-album jazz(y) bersama almarhum Christ Kayhatu.
Misal album Nada dan Apresiasi atau, Nada dan Improvisasi. Dan Yance pun di tahun 1990-an sempat membangun kelompok funk, Funky Thumb. Yang lumayan juga fansnya, terutama di kalangan clubs atau café. Sayang grup ini hanya sebagai entertainer band di kalangan hiburan malam saja.
Sementara Otti Jamalus, sang istri. Kelahiran Jakarta 27 Oktober 1968. Ia menjadi kibordis/pianis cum singer. Ia lumayan populer juga di kalangan clubs atau café-café jazz ibukota. Otti lantas membangun sekolah musik, OJMH (Otti Jamalus Yance Manusama Music House) di Kawasan Radio Dalam.
Sekolah musiknya berkembang lumayan pesat, dengan banyak siswa. Bermacam-macam usia. Beberapa siswa lulusannya, telah menjadi musisi atau penyanyi yang populer.
Pasangan Yance dan Otti kerapkali juga mengajak serta putra mereka, Yan Alifadi Manusama. Alif adalah gitaris muda, kelahiran Jakarta, pada 25 Juni 2004. Yance, juga Otti, mendidik musik pada Alif dengan seringkali mengajaknya ber-jammin’ di rumah. Sesekali juga mengajaknya ikut tampil di clubs atau café.
Mereka berdua, seringkali mengajak serta juga gitaris senior, Oele Pattiselanno. Gitaris, yang mungkin saat ini paling senior di dunia musik (jazz) Indonesia ini, Bernama lengkap Julius Sjoerd Pattiselanno. Lahir di Malang, 20 Juni 1946. Artinya, bung Oele kini berusia 79 tahun. Tetap steady, penuh senyum, tetap bersemangat. Dan, ini terpenting, permainan gitarnya enak banget dinikmati.



Cendirandus Cornelius Luntungan atau Cendi Luntungan, adalah drummer yang telah muncul sejak usia muda banget. Kelahiran Jakarta, 14 Agustus 1962, Lihat saja, usia baru 5 tahun, ia sudah diajak main bareng grup musik ayahnya, Kawanua Hawaiian Band. Khusus menggantikan drummer grup band itu yang tetiba sakit, untuk tampil di Jakarta Fair 1968.
Cendi lantas di masa mudanya bermain bermacam musik, tak hanya jazz. Tapi memang kemudian di akhir 1970-an ia lebih intens bergaul dengan para jazzer, segala usia. Tak heran, iapun kemudian lebih banyak bermain dengan grup-grup jazz.
Satu pemain lain, Fanny Kuncoro. Fanny sendiri tercatat sebagai salah satu pianis jazz dari generasi muda, generasi 2000-an, yang muncul dan mulai sering tampil di berbagai acara jazz di Indonesia. Kabarnya, Fanny sesekali nyambi jadi DJ pula.
Dan itulah materi jazz yang terbilang “baik dan benar”. Maksudnya, sajian jazz nan sehat dan segar, dari Deheng House. Dan menonton Otti dan Yance dan kompatriotnya, seperti menerbangkan ingatan pada suasana jazz di era 1980-an.
Mudah mencari venue untuk menikmati jazz. Untuk menghabiskan malam, dengan menghibur diri menikmati music jazz. Baik itu di Green Pub, Captain’s Bar, Jaya Pub, Tavern Pub. Termasuk Swingin’ Pub, Federal Pub. Atau juga Palm Beach, Amigos. Ataupun Sunday Jazz Club di Music Room di Hotel Borobudur, berlanjut ke New York Café di Taman Ria Remaja Senayan. Dan tempat lainnya.
Terima kasih Deheng untuk venue nyamannya. Pertahankan. Sekaligus tingkatkan. Lalu muchas gracias untuk Yance dan Otti dan teman-teman jazznya, untuk jazznya yang penuh gizi untuk telinga dan hati.
Dan, cukup satu cangkir kopi dan 2 slice marble cake? Kalau mau tambah, kasih idea dong, sebaiknya order apalagi? Mumpung jazznya masih terus bunyi nih…. XPOSEINDONESIA/dM

