Reality Club Abadikan Sisi Raw Album Keempat Lewat Live Session di YouTube

Satu tahun setelah merilis album keempat, Reality Club kembali membuka ruang untuk mendengarkan Who Knows Where Life Will Take You? dalam bentuk yang lebih spontan. Melalui Who Knows Where Life Will Take You? | Live Session, kuartet asal Jakarta ini membawa 10 dari 13 lagu dalam album tersebut ke sebuah pertunjukan yang sengaja mempertahankan energi, ketidaksempurnaan, dan sisi mentah dari permainan musik secara langsung.

Live session tersebut dirilis pada 11 September 2026 melalui kanal YouTube Reality Club. Bagi band yang beranggotakan Fathia Izzati, Faiz Novascotia Saripudin, Era Patigo, dan Nugi Wicaksono ini, proyek tersebut bukan sekadar membuat versi live dari lagu-lagu yang sudah tersedia di platform digital, tetapi menjadi cara untuk memperlihatkan bagaimana materi album keempat mereka bekerja ketika dimainkan sebagai sebuah band.

Pilihan tersebut terasa relevan karena sejak awal Who Knows Where Life Will Take You? memang dibangun dengan pendekatan yang lebih dekat dengan karakter live band. Album yang dirilis pada Agustus 2025 itu berisi 13 lagu dan menjadi album keempat Reality Club setelah Never Get Better (2017), What Do You Really Know? (2019), dan Reality Club Presents… (2023).

“Kami ingin menunjukkan seluruh album ini, album keempat konsepnya memang sedikit lebih live band, bahkan rekamannya juga live. Jadi kita ingin menjaga format itu, tapi dalam presentasi yang dipersiapkan dengan baik,” jelas gitaris sekaligus vokalis Reality Club, Faiz Novascotia Saripudin.

Album tersebut lahir dari proses kreatif yang cukup berbeda dibandingkan karya-karya sebelumnya. Materinya dikembangkan melalui sesi penulisan di Ubud, Bali, kemudian direkam di Tree Recording Studio, Bangkok, dengan melibatkan produser Brad Oberhofer, Iga Massardi, dan Wisnu Ikhsantama. Proses rekaman yang dilakukan secara live bersama personel band dan musisi pendukung turut membantu menangkap dinamika permainan secara langsung.

Secara musikal, album keempat memperlihatkan Reality Club yang lebih terbuka terhadap berbagai warna. Mereka tetap membawa karakter indie pop dan rock yang selama ini menjadi identitasnya, tetapi materi di dalamnya bergerak dari romansa, humor, keresahan personal, spiritualitas hingga cerita keluarga dan kehidupan sehari-hari. Album tersebut juga menandai pertama kalinya Reality Club menghadirkan lagu berbahasa Indonesia secara penuh melalui “Close to You/Jauh”.

Karena itu, ketika materi tersebut dibawa ke format live session, Reality Club tidak merasa perlu mengubah banyak aransemen dari versi studio. Perbedaan justru muncul dari cara lagu dimainkan, interaksi antarpersonel, visual, gestur, serta ruang yang menjadi bagian dari pertunjukan.

Era Patigo melihat unsur visual dan performa langsung sebagai bagian penting untuk menyampaikan energi album keempat. Menurutnya, materi tersebut sudah memiliki kekuatan dari sisi audio, tetapi pengalaman live dapat membantu pendengar menangkap energi yang muncul ketika lagu-lagu tersebut dimainkan secara langsung.

“Kami merasa album ini perlu didukung juga dengan kehadiran visual dan live performance. Kami ingin menghadirkan energi membawakan lagu-lagu dalam album ini secara langsung dan pendengar dapat merasakan itu,” ujar Era.

Justru karena ingin mempertahankan spontanitas, Reality Club tidak berusaha menghilangkan semua kesalahan yang muncul selama proses pengambilan gambar. Salah satu momen yang kemudian dipertahankan adalah ketika gitar Faiz terjatuh.

“Ada juga scene di mana gue salah menaruh gitar terus jatuh. Awalnya kami kayak diskusi, ini di-keep atau kita pakai take yang lain, yang itu nggak jatuh. Kayaknya lucu deh kalau itu nunjukin the raw energy and the chaos sometimes in live performance,” kata Faiz.

Keputusan mempertahankan momen tersebut menjadi gambaran kecil mengenai pendekatan yang ingin dibawa Reality Club. Live session tidak dibuat untuk menghasilkan pertunjukan yang sepenuhnya steril dari kesalahan, melainkan menangkap energi yang memang muncul ketika empat personel bermain bersama dalam satu ruang.

Pendekatan serupa juga diterapkan pada bagian wawancara yang disisipkan di antara penampilan. Para personel tidak menerima daftar pertanyaan sebelumnya sehingga jawaban yang muncul lebih spontan dan memberi ruang bagi mereka untuk berbicara mengenai hubungan dengan album keempat serta perjalanan Reality Club selama satu dekade.

“I think from the live session and the interview, we just wanted to capture us in the most raw form,” ujar Faiz. Ia menyebut proyek tersebut sebagai salah satu pengalaman pertama Reality Club membuat live session sendiri, bukan sesi pertunjukan yang dibuat sebagai bagian dari acara media atau konser.

Hal tersebut menjadi bagian menarik dari perjalanan Reality Club. Band yang awalnya dibentuk sebagai proyek bermusik oleh Fathia Izzati, Faiz Novascotia Saripudin, Era Patigo, dan Nugi Wicaksono pada 2016 ini berkembang dari band yang bermula sebagai hobi menjadi grup yang tampil di berbagai panggung Indonesia dan internasional.

Perjalanan tersebut juga membawa Reality Club mendapatkan perhatian lebih luas lewat sejumlah lagu seperti “Anything You Want” dan “Alexandra”. Album Reality Club Presents… pada 2023 turut menghasilkan dua penghargaan AMI Awards dan membawa mereka menjadi pembuka dalam tur Asia NIKI.

Kini, satu dekade sejak awal perjalanan mereka, Reality Club memilih melihat kembali salah satu fase penting tersebut melalui album keempat. Who Knows Where Life Will Take You? | Live Session direkam dalam satu hari di sebuah ruang bergaya minimalis di kawasan Gading Serpong, dengan pengerjaan teknis melibatkan tim REALITY CHECK dan tiga sutradara, Nugie Rian, Abdul Defashah, serta Kariim Risyad.

Bagi Reality Club, proses tersebut pada akhirnya bukan hanya tentang menghasilkan konten video untuk album. Live session menjadi semacam dokumentasi tentang bagaimana mereka memainkan musik setelah melewati perjalanan panjang sebagai sebuah band, sekaligus cara untuk menemukan kembali hal-hal yang mungkin tidak terdengar ketika lagu hanya dinikmati melalui rekaman studio.

“Setiap kali kita live session, rekaman, segala macam, akan selalu ada sesuatu yang baru. Pengalaman dan pelajaran yang belum pernah kami rasakan,” tutup Era Patigo.

Dengan menghadirkan 10 lagu dari Who Knows Where Life Will Take You? dalam format live, Reality Club memberi kesempatan kepada pendengar untuk melihat album tersebut dari sisi yang berbeda. Bukan hanya sebagai kumpulan rekaman yang selesai diproduksi, tetapi sebagai musik yang masih bisa berubah ketika dimainkan, disentuh oleh energi empat personel, dan dibiarkan memiliki sedikit ruang untuk kesalahan. XPOSEINDONESIA/IHSAN

spot_img

Must Read

Related Articles