Visi besar di balik berdirinya label musik Seventh Star akhirnya diungkap Haris The Brothers saat ditemui awak media di kawasan Gajah Mada Plaza, Jakarta, Minggu (11/1/2026). Dalam pertemuan tersebut, Haris memaparkan arah dan strategi label barunya yang memilih berjalan di luar jalur aman industri, sekaligus menjadikan Diva Ramaniya sebagai proyek utama dalam langkah awal Seventh Star di industri musik Indonesia.
Di balik debut Diva Ramaniya, Haris menegaskan bahwa kehadiran penyanyi muda tersebut bukanlah keputusan instan. Menurutnya, banyak musisi datang dengan lagu yang bagus, namun tidak semuanya memiliki keseriusan untuk melanjutkan perjalanan sebagai artis profesional. Hal inilah yang membuat Diva berbeda sejak awal pertemuan.
“Banyak orang bisa bikin lagu, tapi belum tentu mau berlanjut jadi artis. Diva datang dengan niat yang jelas dan fokus untuk menjadi penyanyi profesional,” ujar Haris saat diwawancarai.
Keseriusan tersebut membuat Seventh Star memilih menjadikan Diva sebagai proyek utama. Haris menyebut, daripada talenta dengan komitmen kuat itu jatuh ke tangan pihak lain, lebih baik dibina secara penuh sejak awal. Promo besar pun telah disiapkan, dengan fokus utama pada pengembangan karakter, kualitas vokal, dan positioning Diva sebagai artis baru.
Meski saat ini Diva masih berdomisili di Australia, Haris memastikan jarak bukanlah persoalan. Menurutnya, fokus dan komitmen jauh lebih penting dibanding lokasi fisik. Ia menargetkan dalam tiga bulan ke depan Diva akan tampil dalam sebuah showcase khusus dengan materi lima hingga enam lagu sebagai pengenalan karakter musikal sebelum melangkah ke tahap berikutnya.
“Untuk audisi Idol saja dia bisa datang. Jadi ini bukan masalah. Sekarang fokus kami Diva dulu. Kalau nanti ada Diva-Diva berikutnya, baru kami naikkan lagi,” jelasnya.
Nama Seventh Star sendiri bukan dipilih tanpa makna. Haris mengungkapkan, angka tujuh ia yakini sebagai simbol kesempurnaan, sementara kata “Star” merepresentasikan visinya untuk mencetak bintang-bintang dengan fondasi yang matang, bukan instan. Filosofi tersebut menjadi dasar pendekatan Seventh Star dalam membangun talenta.
Ke depan, Seventh Star tidak hanya berfokus pada solois. Haris juga menyiapkan tantangan baru berupa pembentukan grup perempuan dengan konsep yang berbeda dari tren pasar saat ini. Bahkan, sasaran Seventh Star tidak melulu generasi muda usia belasan tahun.
Untuk momentum Lebaran dan Idulfitri mendatang, Haris justru menyiapkan proyek unik yang dinilainya berpotensi memberi warna baru di industri. Ia telah menyiapkan tiga ibu-ibu berhijab asal Sumatera yang membawakan pop klasik dengan nuansa ala Ernie Djohan atau Titiek Sandhora. Proyek ini disebut bukan musik religi, melainkan pop ringan dengan karakter vokal kuat dan sentuhan humor.
“Semuanya dari Sumatera, berhijab, dan punya sisi humor. Ini lucu dan menarik. Industri musik kita sekarang terasa monoton karena terlalu didominasi oleh hal-hal yang itu-itu saja,” katanya.
Menurut Haris, kejenuhan tersebut justru membuka peluang bagi karya-karya yang tidak biasa. Ia memprediksi tahun 2026 akan menjadi ruang terbuka bagi genre-genre baru yang lahir dari kreativitas anak muda, bahkan dari generasi yang sangat muda.
“Anak saya saja umur 10 tahun sudah dengar lagu-lagu dengan lirik unik. Lagu-lagu seperti itu sekarang dikonsumsi anak SD. Jadi 2026 adalah tahunnya semua orang yang mau berkarya dengan genre baru,” ungkapnya.
Terkait maraknya musik bernuansa politik yang kerap muncul di tahun-tahun tertentu, Haris memilih menjaga jarak. Baginya, musik pesanan cenderung membatasi kebebasan berekspresi. Seventh Star, tegasnya, ingin tetap fokus pada karya yang jujur dan lahir dari kebutuhan berkarya, bukan agenda.
Sebagai produser, Haris menekankan bahwa seluruh talenta Seventh Star akan dibangun dari dasar yang kuat. Pelatihan vokal, teknik bernyanyi, hingga proses pematangan karakter menjadi kunci utama. Ia mencontohkan bagaimana kualitas seorang penyanyi berkembang seiring waktu dan proses panjang.
“Semua perlu proses. Tidak ada yang instan. Raisa saja di awal karier dengan beberapa tahun kemudian itu kualitasnya beda banget. Di Seventh Star, semuanya akan dimulai dari fundamental,” tutup Haris. XPOSEINDONESIA/IHSAN



