Senin, Februari 9, 2026

Let’s Swing! Mari Kembali Menengok ke Era 30-an sampai 40-an

Brings us back to the era of 30’s to around 40’s. The era that so-called, The Golden Age of Swing Jazz, also Swing Dance. Swingin’ with big-band, horn section and the specific dance. Also, ballroom.

Begitulah adanya, di seputaran 1930-1940an ditengarai merupakan zaman keemasannya musik swing (jazz). Jazz dikenal luas dan populer, dilengkapi dansa atau joged khas, suasana ballroom. Energetic, spiritful, fun! Pada era itu muncul nama-nama tokoh-tokoh jazz ternama seperti Duke Ellington, Cab Calloway. Also, Russ Morgan, Isham Jones. Dan tentu saja, The King of Swing, Benny Goodman.

Era tersebut juga memunculkan soloist-soloist yang populer dan dikenal luas macam Gene Kruppa, Sid Catlett, Jo Jones (drummer). Lalu ada Benny Carter, Johnny Hodges (alto-saxophonist). Coleman Hawkins, Lester Young (tenor-saxophonist). Kemudian ada, Fats Waller, Teddy Wilson (pianist). Lalu Roy Eldrige and the legendary, Louis Armstrong. Untuk menyebut Sebagian kecil diantaranya…

Yang menarik adalah Swing Jazz sebagai musik, diikuti perkembangan dari swing-dance. Dansa khas dan “khusus” untuk mengiringi permainan kelompok bigband Swing. Swing-dance sendiri kalau melihat dari catatan sejarah yang ada, “dilahirkan” sekitar tahun 1920-an.

Dan pada perkembangannya, swing jazz berkembang dengan ratusan styles goyangan tersendiri, sebagai turunannya. Antara lain bisa disebut, Charleston, Lindy Hop, Balboa, Collegiate Shag. Terus berkembang hingga era boogie-woogie, twist bahkan sampai hustle. Jadi pada era tersebut, setiap pergelaran swing bigband pasti juga ada swing dancenya. Ramai tentu saja.

Maka Galaxy Big Band, sebuah bigband jazz yang didirikan pada tahun 1992 oleh expatriat asal Jepang. Mereka sepakat membentuk sebuah bigband, yang sebenarnya juga membuka diri untuk musisi berkebangsaan di luar Jepang. Mereka inilah yang lantas mengisi program spesial bertajuk The Golden Age of Swing Jazz and Swing Dance, di @america hall, pada Sabtu 7 Februari 2026.

Penampilan meriah dari Galaxy Big Band Jazz Orchestra lantas ditingkahi penampilan para dancers, yang merupakan anggota dari komunitas penggemar swing dance, yaitu bernama, Indoswing. Tentu suasana tambah meriah. Dan area hall penuh. Pihak @america sendiri mengaku, program malam tersebut bisa dibilang acara paling sukses selama ini di tempat yang berlokasi di Pasific Place Mall tersebut.

Galaxy Big Band di malam itu didukung para musisi selengkapnya, Masanobu Segawa (alto-sax), Aya Sodeyama (alto-sax), Yuji Tagami (alto-sax), Kotoe Murakawa (baritone-sax), Mariko Suzuki (trumpet), Brian Hikari Janna (trumet), Hideto Takashi (trombone). Dengan Haerul Umam (saxophone). Dan dengan Shoichiro Shinoda, trombone yang juga adalah leader Galaxy Big Band saat ini.

Juga ada Junpei Hashimoto (trumpet), yang mengatakan penampilannya malam itu adalah teralkhir baginya, karena masa tugasnya di Indonesia telah selesai. Junpei san harus kembali ke Jepang, tentunya. Malam itu, Junpei bertindak sebagai Concert-Master

Mereka juga didukung rhythm section terdiri dari Kae Saito (keys), Koji Hachiya dan Kensuke Umemura (keduanya bassist yang bermain bergantian). Ditambah dengan musisi Indonesia, Filipus Cahyadi (drums), Nadhif Rizki Priambodo (keys).

Serta vokalis “tetap” dari Galaxy Big Band yang didatangkan dari Depok, Rachmawati “Neea Rachma” Kurnianingsih! Penyanyi “Depok-pride” ini tampil bersemangat dan lincah nian. Seru jadinya, so pasti!

Mereka juga mengundang Alonzo Brata, sebagai very special guest. Alonzo, penyanyi muda bersuara tebal rada bariton mirip Frank Sinatra, seperti menebalkan suasana swing-jazz era malam itu. Seperti biasa, Alonzo tampil terbilang prima dan…”mengejutkan” penonton. Timbre suaranya itu lho, khas dan unik! Ah, pas sudah!

Kelompok Galaxy itu menyuguhkan sekitar 15 lagu, antara lain, “Dinner with Friends”, “April in Paris”. Alonzo Brata tampil menyuguhkan “Fly Me to the Moon”, dan “In the Wee Small Hours of the Morning”. Lalu, “Time Stream”. Kemudian Neea Rahma menghidangkan,  “Cheek to Cheek” dan “It Don’t Mean a Thing If ain’t got that Swing”. Ditutup oleh  “Tain’t What You Do”, dibawakan oleh Junpei san.

Lagu lainnya mereka mainkan di sesi kedua, setelah interval 10 menit. Selanjutnya ada, “The the A Train”. Alonzo Brata tampil lagi dengan  “New York, New York”, “Feeling Good”.

Diteruskan Neea Rahma dengan “Geogia on My Mind”, “For Once in My Life”. Junpei Hashimoto tampil lagi, membawakan, “September in the Rain”. Berikutnya medley, “C Jam Blues dan Route 66” oleh Neea Rahma.

Sebagai encore, as requested by almost all audience, merekapun membawakan “Coffee Rhumba”, yang di sini lebih dikenal sebagai “Kopi Dangdut”, yang dibawakan sambil mengajak penonton berjoged oleh Neea Rahma.

Dan selesailah sudah. Sungguh malam yang menyenangkan. Sekali-sekali boleh dong menghabiskan malam mingguan dengan “old-time pieces” yang menyegarkan dan menyenangkan…? XPOSEINDONESIA/dM

Must Read

Related Articles