Kanker Tak Boleh Memadamkan Mimpi, Pita Kuning Buka Jalan Baru untuk Anak Pejuang

Bagi banyak anak, pergi ke sekolah, bermain sepeda, bertemu teman, atau sekadar menikmati liburan mungkin menjadi bagian biasa dari masa kecil. Namun, bagi anak pejuang kanker, hal-hal sederhana tersebut bisa berubah menjadi mimpi yang harus diperjuangkan dengan perjalanan panjang.

Diagnosis kanker tidak hanya membawa perubahan pada kondisi fisik seorang anak. Proses pengobatan yang panjang, jadwal kontrol rutin, kemoterapi, hingga berbagai efek samping membuat banyak anak harus kehilangan waktu belajar, bermain, dan bersosialisasi seperti anak-anak seusianya.

Di tengah perjuangan tersebut, mereka sering kali lebih dikenal sebagai pasien. Padahal, di balik diagnosis dan proses pengobatan, mereka tetaplah anak-anak yang memiliki keinginan, cita-cita, dan masa depan yang ingin diraih.

Inilah yang selama hampir dua dekade menjadi perhatian Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia. Melalui campaign “New Paths to Dreams”, Pita Kuning ingin mengingatkan bahwa kanker seharusnya tidak menutup jalan seorang anak untuk tetap memiliki mimpi.

“Ketika seorang anak mendapatkan diagnosis kanker, statusnya seakan berubah menjadi seorang pasien. Padahal, mereka tetap memiliki hak yang sama sebagai anak-anak, termasuk hak untuk memiliki mimpi dan mencoba mencapainya,” ujar Pandji Pragiwaksono, Pembina Yayasan Pita Kuning.

Menurut Pandji, penyakit memang dapat mengubah jalan yang harus dilalui seorang anak. Namun, perubahan jalan tersebut tidak seharusnya membuat mimpi mereka ikut hilang.

“Mungkin jalurnya menjadi berbeda dan lebih sulit, tetapi mimpi mereka tetap valid. Karena itu, perjuangan kita bersama adalah membantu mereka menemukan jalan baru untuk mencapai mimpi tersebut,” katanya.

Pesan itulah yang menjadi inti dari campaign New Paths to Dreams. Bagi Pita Kuning, membuka jalan baru bukan berarti menentukan masa depan anak-anak tersebut, melainkan memastikan mereka tetap memiliki kesempatan untuk menentukan sendiri apa yang ingin mereka raih.

Banyak mimpi anak pejuang kanker sebenarnya sangat sederhana. Ada yang ingin kembali ke sekolah, bermain bersama teman, melihat pantai, berjalan-jalan, hingga kembali mengendarai sepeda.

Namun, mimpi sederhana itu bisa menjadi sesuatu yang sangat besar ketika seorang anak harus menjalani pengobatan kanker selama bertahun-tahun.

Ketua Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia, Tyas Amalia, mengatakan perjalanan anak dengan kanker menghadirkan tantangan yang mungkin sulit dibayangkan oleh masyarakat. Selain harus menghadapi penyakit, mereka juga harus menjalani berbagai prosedur medis dan kehilangan sebagian aktivitas yang menjadi bagian penting dari masa kanak-kanak.

“Anak-anak ini punya mimpi. Kadang bagi kita mimpi itu terlihat kecil atau sederhana, tetapi bagi mereka, untuk bisa kembali ke sekolah, naik sepeda, bermain, atau melihat pantai merupakan sesuatu yang harus diperjuangkan,” ujar Tyas.

Salah satu cerita datang dari Riani, atau yang akrab disapa Cimut. Ketika pertama kali bertemu dengan Pita Kuning, Riani masih berusia tiga tahun dan sedang menjalani pengobatan leukemia.

Perjalanan pengobatannya tidak singkat. Namun, Pita Kuning terus membersamai Riani dalam proses pertumbuhan dan perjuangannya selama bertahun-tahun.

Kini, kondisi Riani semakin membaik dan ia telah kembali menjalani pendidikan. Ia bahkan memiliki prestasi di sekolah dan bercita-cita menjadi seorang guru.

Bagi Tyas, perjalanan Riani menjadi salah satu gambaran bahwa seorang anak dengan kanker tetap memiliki masa depan yang layak diperjuangkan. Di tengah berbagai keterbatasan, mereka tetap memiliki potensi untuk belajar, berkembang, berprestasi, dan menentukan cita-citanya.

Ada pula Atta, seorang anak yang memiliki mimpi sederhana untuk kembali bermain sepeda di taman. Kondisi fisiknya membuat aktivitas tersebut tidak lagi mudah dilakukan.

Padahal, sebelum sakit, bermain sepeda menjadi salah satu aktivitas yang ia sukai. Ketika ditanya mengenai mimpinya, keinginannya pun sederhana, yakni bisa kembali mengendarai sepeda di taman.

Cerita seperti Atta dan Riani menjadi pengingat bahwa perjuangan melawan kanker bukan hanya berbicara mengenai pengobatan. Ada kehidupan seorang anak yang tetap berjalan dan ada masa kanak-kanak yang perlu tetap dijaga.

Kanker Anak Bukan Perjuangan Seorang Diri

Pita Kuning memandang kanker anak bukan hanya persoalan yang dihadapi oleh pasien. Ketika seorang anak didiagnosis kanker, seluruh keluarga juga ikut menghadapi perubahan besar dalam kehidupan mereka.

Orang tua harus membagi waktu antara pekerjaan dan pengobatan anak. Mereka juga menghadapi tekanan emosional, kebutuhan finansial, serta ketidakpastian mengenai perjalanan pengobatan yang akan dijalani.

Karena itu, Pita Kuning memberikan pendampingan yang tidak hanya berfokus kepada anak, tetapi juga kepada keluarga.

Indro Warkop, Pengawas Yayasan Pita Kuning, mengatakan pengalaman menghadapi kanker membuatnya memahami bahwa penyakit tersebut tidak hanya dirasakan oleh satu orang.

“Ketika seseorang dalam keluarga menderita kanker, sebetulnya keluarga itu ikut mengalami perjuangannya. Karena itu, kami tidak hanya mendampingi anak yang sakit, tetapi juga keluarganya,” ujar Indro.

Menurut Indro, keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam perjalanan pengobatan anak. Dukungan emosional yang diberikan kepada orang tua juga dapat membantu mereka tetap kuat dalam mendampingi anak-anaknya.

Pita Kuning pun mengembangkan pendekatan pendampingan yang lebih menyeluruh. Anak dan keluarga mendapatkan dukungan psikososial melalui pekerja sosial, pendampingan psikologis, bantuan nutrisi, serta berbagai kegiatan yang membantu meningkatkan kualitas hidup.

Berbeda dengan organisasi yang memiliki rumah singgah, Pita Kuning menerapkan pendekatan jemput bola. Tim pendamping dapat mendatangi rumah anak maupun rumah sakit untuk memberikan dukungan secara langsung.

Pendekatan tersebut lahir dari pengalaman Pita Kuning selama mendampingi anak-anak dengan kanker. Ketika berada di rumah sakit, keluarga mungkin bertemu dengan dokter, perawat, maupun relawan.

Namun, situasi bisa berubah ketika mereka kembali ke rumah. Banyak keluarga yang tidak mengetahui kepada siapa mereka harus berbicara atau mencari dukungan ketika menghadapi persoalan selama proses pengobatan.

“Tujuan kami bukan hanya berbicara mengenai kesembuhan. Kami ingin anak dan keluarganya tetap memiliki kualitas hidup yang baik selama menjalani perjalanan tersebut,” kata Tyas.

Pendekatan ini menjadi salah satu alasan Pita Kuning menghadirkan pekerja sosial dalam proses pendampingan. Peran tersebut membantu memahami kebutuhan anak dan keluarga dari sisi sosial maupun psikologis.

Selain pendampingan, Pita Kuning juga memberikan bantuan kebutuhan yang tidak selalu tercakup dalam layanan medis. Dukungan nutrisi diberikan secara berkala untuk membantu memastikan anak tetap mendapatkan asupan yang dibutuhkan selama menjalani pengobatan.

Anak-anak juga diajak mengikuti berbagai kegiatan edukatif dan rekreatif. Program tersebut menjadi ruang bagi mereka untuk bermain, belajar, bersosialisasi, dan bertemu dengan teman-teman yang memiliki pengalaman serupa.

Bagi Pita Kuning, kegiatan tersebut bukan sekadar hiburan. Anak-anak tetap membutuhkan pengalaman sebagai anak-anak, meskipun mereka sedang menjalani proses pengobatan.

Hampir Dua Dekade Menemani Anak Pejuang Kanker

Perjalanan Pita Kuning berawal dari kepedulian terhadap anak-anak dengan kanker sejak 2006. Saat itu, sejumlah individu melihat masih banyak keluarga pasien yang membutuhkan bantuan dan pendampingan.

Pandji Pragiwaksono menjadi salah satu pihak yang melihat langsung persoalan tersebut. Awalnya, ia bertemu dengan seorang mahasiswa psikologi yang menjadi relawan dan menceritakan tentang seorang anak dengan kanker yang ingin bertemu dengannya.

Pandji kemudian datang ke rumah sakit untuk bertemu anak tersebut. Pertemuan itu membawanya melihat lebih dekat kondisi keluarga anak-anak dengan kanker, termasuk persoalan biaya dan minimnya dukungan yang mereka terima.

Saat itu, bantuan bagi keluarga pasien banyak datang dari kelompok masyarakat yang secara sukarela mengumpulkan dana. Pandji pun mulai menyampaikan persoalan tersebut kepada masyarakat melalui program radio yang dibawakannya.

Respons masyarakat berkembang dan semakin banyak orang ingin membantu. Dari gerakan tersebut kemudian lahir komunitas yang berfokus pada kepedulian terhadap anak-anak dengan kanker.

Gerakan tersebut berkembang dan pada 2007 resmi menjadi yayasan. Hingga kini, semangat awalnya tetap sama, yaitu membantu anak-anak dengan kanker dan keluarganya menjalani perjalanan yang tidak mudah.

“Dari dulu sampai sekarang, yang kami perjuangkan adalah hak mereka sebagai anak-anak. Diagnosis kanker tidak boleh menghilangkan hak mereka untuk tetap menjadi anak dan memiliki mimpi,” ujar Pandji.

Pendampingan yang dilakukan Pita Kuning juga bukan bantuan sesaat. Beberapa anak didampingi selama bertahun-tahun karena perjalanan pengobatan kanker dapat berlangsung dalam waktu yang panjang.

Pandji menjelaskan bahwa Pita Kuning berupaya mendampingi anak selama mereka masih membutuhkan bantuan. Pendampingan dilakukan hingga anak sembuh, meninggal dunia, atau tidak lagi berada dalam kategori usia anak.

“Ini bukan sekadar datang, memberikan bantuan, lalu selesai. Ada anak-anak yang kami dampingi selama bertahun-tahun. Karena itu, komitmen untuk mendampingi mereka juga harus kuat,” katanya.

Pita Kuning juga terus menghadapi tantangan dalam memperluas jangkauan pendampingan. Salah satu tantangan adalah kebutuhan sumber daya, termasuk jumlah tenaga pendamping dibandingkan dengan anak-anak yang membutuhkan bantuan.

Semakin banyak anak yang didampingi, semakin besar pula kebutuhan untuk menghadirkan pekerja sosial, bantuan nutrisi, pendampingan psikologis, serta berbagai layanan lainnya.

Karena itu, kolaborasi menjadi bagian penting dari perjalanan Pita Kuning. Yayasan ini tidak hanya mengandalkan satu pihak, tetapi membangun kerja sama dengan individu, komunitas, perusahaan, organisasi, dan masyarakat.

Pandji menilai perhatian publik memiliki hubungan langsung dengan kemampuan organisasi untuk membantu lebih banyak anak.

“Perhatian akan membawa bantuan. Bantuan itu kemudian membuat kami memiliki kemampuan untuk mendampingi lebih banyak anak,” ujarnya.

Membuka Jalan Bersama untuk Masa Depan Anak

Campaign “New Paths to Dreams” yang diluncurkan dalam rangka Childhood Cancer Awareness Month pada September menjadi momentum untuk memperluas perhatian terhadap kanker anak di Indonesia.

Pita Kuning ingin masyarakat melihat anak pejuang kanker secara lebih utuh. Mereka bukan hanya pasien yang sedang menjalani pengobatan, tetapi anak-anak yang tetap memiliki kepribadian, kegemaran, harapan, dan cita-cita.

Untuk memperluas pemahaman tersebut, Pita Kuning menggelar Media Gathering pada 8 September 2026 di Rumah Pita Kuning, Jakarta. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk berbagi perjalanan yayasan sekaligus mengajak media mengambil peran dalam meningkatkan awareness mengenai kanker anak.

Media dinilai memiliki posisi penting dalam menghadirkan cerita-cerita yang dapat membuka pemahaman masyarakat. Informasi yang lebih luas dapat membantu meningkatkan kepedulian dan membuka peluang dukungan bagi anak-anak serta keluarga yang sedang menjalani perjuangan.

Indro Warkop menegaskan bahwa membuka jalan baru bagi anak pejuang kanker bukan pekerjaan yang dapat dilakukan oleh satu organisasi.

“Kami tidak bisa berjalan sendiri. Kami membutuhkan keluarga, tenaga kesehatan, masyarakat, komunitas, mitra, dan tentunya teman-teman media untuk bersama-sama membantu anak-anak ini,” ujar Indro.

Menurutnya, tujuan utama dari seluruh upaya tersebut bukan sekadar membesarkan nama Pita Kuning. Yang jauh lebih penting adalah menciptakan kesempatan bagi anak-anak untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

“Ini bukan untuk kepentingan Pita Kuning. Ini untuk kepentingan anak-anak kita, anak-anak yang nantinya akan meneruskan bangsa ini dan kita harapkan dapat membuat kehidupan menjadi lebih baik,” katanya.

Rangkaian campaign New Paths to Dreams juga akan dilanjutkan melalui talkshow online bertajuk “From Surviving to Thriving: Perjalanan Anak Tangguh Melawan Kanker” pada 19 September 2026.

Talkshow tersebut akan menghadirkan dr. Tito Gunantara, Sp.A(K) Onk, Hemato Onkologi Anak Primaya Rajawali Hospital Bandung, Raissa Hadiman, M.Psi., Psikolog, Psikolog Anak dan Remaja sekaligus Co-Founder Personale.id, serta caregiver dan anak-anak yang memiliki pengalaman dalam perjalanan menghadapi kanker.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Pita Kuning berharap masyarakat dapat memahami bahwa perjuangan anak dengan kanker tidak berhenti pada proses pengobatan.

Mereka membutuhkan dukungan untuk tetap belajar, bermain, bersosialisasi, dan menjalani kehidupan sebaik mungkin. Mereka membutuhkan lingkungan yang tidak hanya melihat keterbatasan, tetapi juga melihat potensi dan masa depan.

Bagi sebagian anak, mimpi mungkin terdengar sederhana. Kembali ke sekolah, bertemu teman, berjalan-jalan, atau bermain sepeda di taman.

Namun, bagi seorang anak pejuang kanker, mimpi sederhana tersebut bisa menjadi alasan untuk terus melangkah dan menjalani hari berikutnya.

Karena itu, pesan yang ingin disampaikan Pita Kuning melalui New Paths to Dreams sederhana, tetapi memiliki makna besar. Kanker mungkin mengubah jalan yang harus dilalui seorang anak, tetapi tidak seharusnya mengambil hak mereka untuk memiliki mimpi.

Dan ketika jalan lama tidak lagi bisa dilalui, mungkin yang dibutuhkan bukan hanya bantuan untuk bertahan. Mereka membutuhkan lebih banyak tangan untuk bersama-sama membuka jalan baru menuju masa depan.

Sebab, anak pejuang kanker bukan hanya sedang berjuang untuk sembuh. Mereka juga sedang berjuang untuk tetap menjadi anak-anak dan meraih mimpi yang masih menunggu di depan. XPOSEINDONESIA/IHSAN

spot_img

Must Read

Related Articles