Baru 8 Tahun, Shelyn Adlyani Manggung Bareng Dua Band dalam Semalam Tanpa Latihan

Baru berusia delapan tahun, Shelyn Adlyani Hendroharto sudah berani duduk di balik drum dan bermain bersama para musisi dewasa. Drummer cilik asal Sorong, Papua Barat Daya, ini mencuri perhatian setelah tampil bersama dua band berbeda di dua kafe dalam satu malam, tanpa latihan bareng sebelumnya.

Bukan cuma soal usianya yang masih belia. Shelyn juga punya kemampuan menghafal lagu dengan cepat dan mengikuti permainan band yang baru ditemuinya di atas panggung. Berbekal kepekaan terhadap irama dan konsentrasi, ia bisa langsung masuk ke alur musik tanpa harus lebih dulu menjalani latihan bersama para personel band.

Momen itu terjadi pada 18 September 2026. Sekitar pukul 20.00 WIT, Shelyn lebih dulu tampil bersama Tosca Band di Wabi Sabi Cafe. Selama kurang lebih satu setengah jam, ia mengiringi sejumlah lagu bersama para personel yang semuanya berusia dewasa. Setelah penampilan pertama selesai, ia berpindah ke Selagi Dingin Cafe untuk kembali bermain drum bersama band Selagi Atmost.

Dua panggung dalam satu malam tentu menjadi pengalaman tersendiri bagi anak seusianya. Apalagi, Shelyn harus menyesuaikan permainan dengan band berbeda tanpa latihan bersama lebih dulu. Ia dituntut mendengarkan permainan musisi lain, menjaga tempo, dan memastikan ketukan drumnya tetap sejalan dengan lagu yang dibawakan.

Sang ayah, penyanyi Agus Dhukun, melihat kemampuan musikal Shelyn sebagai sesuatu yang menonjol. Menurut penyanyi yang dikenal lewat lagu “Warteg” dan “Hitam Putih” itu, putrinya terbiasa mendengarkan lagu satu atau dua kali, menghafalnya, lalu mencoba memainkannya.

“Shelyn anak yang berbakat luar biasa. Ia selalu tampil penuh percaya diri,” ujar Agus. Kebiasaan itulah yang membuat Shelyn berani menghadapi tantangan di atas panggung. Ia tidak harus menunggu lama untuk mengenali sebuah lagu, meski kemampuan tersebut tetap dibangun lewat proses belajar dan latihan yang rutin.

Lagu-lagu yang dimainkannya pun cukup beragam. Ada “Genit” dan “Sakit Hati” dari Type-X, “Jogja Istimewa”, “Pergi Pagi Pulang Pagi”, “Empat Mata”, “Puspa” dari ST12, hingga “Bring Me to Life” milik Evanescence dan “Ngapain Mo Repot”.

Dari lagu-lagu tersebut, Shelyn mendapat kesempatan memainkan karakter musik yang berbeda. Ia harus mengikuti perubahan tempo dan menjaga irama agar permainan drumnya tetap menyatu dengan musik yang dibawakan band.

Kemampuannya bukan hanya terlihat saat semuanya berjalan lancar. Dalam sebuah video penampilan ketika berusia tujuh tahun, stik drum Shelyn sempat terjatuh di tengah permainan. Alih-alih panik atau berhenti, ia mengambil stik cadangan dan kembali bermain. Pada kesempatan lain, ketika stiknya terlempar, ia terlihat berusaha mengambilnya kembali sebelum melanjutkan iringan.

Momen seperti itu memperlihatkan bagaimana Shelyn berusaha tetap tenang ketika menghadapi kejadian tak terduga. Bagi seorang drummer, menjaga konsentrasi dan tidak kehilangan tempo merupakan bagian penting dari permainan, terlebih ketika tampil bersama musisi lain.

Agus pun menilai kemampuan musikal putrinya terus berkembang. Namun, di balik penampilannya yang terlihat percaya diri, ada latihan yang tetap harus dijalani.

Shelyn rutin mengasah kemampuan bermain drum di Purwacaraka Music Sorong, di bawah bimbingan Yada Simamora. Di sana, ia mempelajari teknik dasar sekaligus melatih kepekaan terhadap ritme. Pengalaman manggung kemudian memberinya kesempatan untuk menerapkan kemampuan tersebut dalam situasi yang berbeda-beda.

Mengagumi Titi Radjo, Pernah Tampil Bersama Juan Reza

Di antara musisi yang dikaguminya, Shelyn menaruh perhatian pada komposer Titi Radjo Padmaja. Kecintaannya pada musik juga membawanya bertemu dan tampil bersama Juan Reza, penyanyi yang dikenal lewat lagu “Tabola Bale”.

Shelyn sendiri pernah menarik perhatian lewat permainan drum saat membawakan lagu “Tabola Bale”. Selain tampil bersama band, ia juga mendapat kesempatan menjadi bintang tamu di sejumlah podcast dan media untuk berbagi cerita sekaligus menunjukkan kemampuannya.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan Shelyn mengenal dunia musik lebih luas. Ia bisa belajar dari para musisi yang ditemuinya, sekaligus menguji kemampuannya di hadapan penonton yang berbeda.

Saat tampil di Selagi Dingin Cafe, kehadiran Shelyn juga menciptakan suasana yang berbeda bagi pengunjung. Seorang anak perempuan berusia delapan tahun yang bermain drum bersama musisi dewasa tentu menjadi pemandangan yang tak biasa. Penampilannya bahkan menarik perhatian pengunjung yang sudah sering datang ke kafe tersebut.

Meski mulai mendapat kesempatan tampil di berbagai tempat, Shelyn tetap menjalani kesehariannya sebagai pelajar. Aktivitas musiknya berlangsung di sela-sela sekolah dan waktu bermain, sementara latihan rutin menjadi bagian dari upayanya mengembangkan kemampuan.

Bagi Shelyn, perjalanan sebagai drummer masih panjang. Namun, keberaniannya naik panggung, kemampuannya mengikuti permainan band tanpa latihan bersama, dan kesediaannya terus belajar menjadi modal penting untuk melangkah lebih jauh.

Dari Sorong, Shelyn Adlyani mulai menunjukkan bahwa usia bukan penghalang untuk mengenal panggung. Yang membuatnya menarik bukan semata-mata karena ia masih anak-anak, melainkan bagaimana ia berusaha mendengarkan, mengikuti irama, dan tetap bermain ketika menghadapi situasi yang tak selalu berjalan sesuai rencana. XPOSEINDONESIA/IHSAN

spot_img

Must Read

Related Articles