GAIKINDO Apresiasi Komitmen Pemerintah Dukung Industri Otomotif, Dorong Insentif untuk Semua Jenis Kendaraan

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) memberikan apresiasi kepada Pemerintah Republik Indonesia, khususnya Kementerian Perindustrian, atas komitmen yang dinilai konsisten dalam menjaga pertumbuhan dan keberlangsungan industri otomotif nasional. Di tengah tantangan global yang terus berubah, mulai dari dampak pandemi Covid-19 hingga percepatan transformasi menuju kendaraan elektrifikasi, pemerintah dinilai terus menghadirkan berbagai kebijakan yang mampu menjaga iklim investasi sekaligus mendorong daya saing industri otomotif Indonesia.

GAIKINDO menilai dukungan pemerintah tidak hanya hadir dalam bentuk insentif, tetapi juga melalui komunikasi yang terbuka dengan pelaku industri. Berbagai kebijakan yang diterapkan selama beberapa tahun terakhir dinilai berhasil menjaga stabilitas sektor otomotif sekaligus memberikan kepastian bagi investor yang telah lama maupun yang baru berinvestasi di Indonesia.

Ketua Harian sekaligus Ketua Penyelenggara Pameran dan Konferensi GAIKINDO, Anton Kumonty, mengatakan pemerintah, khususnya Kementerian Perindustrian, telah menunjukkan komitmen yang berkesinambungan terhadap industri otomotif nasional.

“GAIKINDO melihat pemerintah, khususnya Kementerian Perindustrian, telah menunjukkan komitmen yang konsisten dalam mendukung industri otomotif nasional. Berbagai kebijakan yang diterapkan, mulai dari pemberian fasilitas investasi, insentif fiskal, hingga forum dialog yang rutin dengan pelaku industri, merupakan bentuk nyata upaya pemerintah dalam menjaga daya saing industri otomotif Indonesia sekaligus memberikan kepastian bagi seluruh investor,” ujar Anton.

Salah satu bentuk dukungan yang mendapat apresiasi dari GAIKINDO adalah penerapan User Specific Duty-Free Scheme (USDFS). Melalui fasilitas tersebut, pemerintah memberikan pembebasan bea masuk atas impor bahan baku dan komponen yang belum dapat diproduksi di dalam negeri sehingga membantu meningkatkan efisiensi biaya produksi.

GAIKINDO mencatat, selama periode Juli 2008 hingga Desember 2025, realisasi impor melalui skema USDFS mencapai sekitar 8,25 juta ton dengan nilai sekitar USD 800 miliar. Dari total 74 perusahaan yang memanfaatkan fasilitas tersebut, 57 di antaranya merupakan perusahaan otomotif.

Selain itu, kebijakan PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) juga dinilai menjadi salah satu stimulus paling efektif dalam menjaga industri otomotif saat menghadapi perlambatan ekonomi. Insentif tersebut dimanfaatkan oleh hampir seluruh produsen kendaraan yang berproduksi di Indonesia, seperti Toyota, Daihatsu, Honda, Mitsubishi, Suzuki, Nissan, hingga Isuzu, sesuai ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Menurut GAIKINDO, kebijakan tersebut berhasil menjaga permintaan kendaraan di pasar domestik, mempertahankan tingkat utilisasi pabrik, sekaligus melindungi keberlangsungan lapangan kerja di sektor otomotif.

Komitmen pemerintah juga terlihat melalui pelaksanaan Program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) yang diatur dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 36 Tahun 2021. Program tersebut membuka ruang bagi pengembangan kendaraan rendah emisi, mulai dari Low Cost Green Car (LCGC), Hybrid Electric Vehicle (HEV), hingga Battery Electric Vehicle (BEV).

Implementasi program tersebut dinilai berhasil mendorong investasi baru, mempercepat pengembangan kendaraan elektrifikasi, sekaligus meningkatkan penggunaan komponen lokal dalam industri otomotif nasional.

Tidak hanya melalui kebijakan dan insentif, pemerintah juga secara rutin membangun komunikasi dengan para pelaku industri melalui berbagai forum strategis, seperti Indonesia–Japan Automobile Dialogue dan Biofuel Co-Creation Task Force Meeting.

Anton menjelaskan, forum tersebut menjadi wadah penting bagi pemerintah dan industri untuk menyusun langkah bersama dalam menghadapi tantangan sekaligus mempersiapkan masa depan industri otomotif Indonesia.

“Keberhasilan industri otomotif nasional sangat bergantung pada kolaborasi yang erat antara pemerintah dan seluruh pelaku industri. Salah satu bentuk forum komunikasi yang secara rutin diselenggarakan adalah dialog bersama antara Indonesia dan Jepang yakni Indonesia–Japan Automobile Dialogue dan Biofuel Co-Creation Task Force Meeting,” ungkap Anton.

Ia menambahkan, pertemuan terakhir pada 2025 menghasilkan pembentukan Working Group on Biofuel Co-Creation Task Force, sebagai langkah konkret untuk mempercepat pengembangan serta implementasi biofuel di Indonesia.

GAIKINDO juga menilai dukungan pemerintah terhadap investor Jepang selama puluhan tahun telah memberikan dampak positif terhadap perkembangan industri otomotif nasional. Investasi Jepang tidak hanya hadir dalam bentuk pembangunan pabrik kendaraan dan komponen, tetapi juga memperkuat ekosistem industri melalui pembangunan Pelabuhan Patimban di Subang dan Balai Pengujian Laik Jalan dan Sertifikasi Kendaraan Bermotor (BPLJSKB) atau proving ground di Bekasi.

Kepercayaan tersebut kini mulai menarik minat produsen otomotif asal Tiongkok yang tengah memperluas investasinya di Indonesia.

Ketua Bidang Pengembangan Pasar GAIKINDO, Jongkie Sugiarto, mengatakan sejumlah perusahaan otomotif asal Tiongkok berharap memperoleh dukungan yang sama agar dapat merealisasikan rencana investasi jangka panjang di Indonesia.

“Melihat dukungan dari pemerintah terhadap industri otomotif Jepang di Indonesia, beberapa perusahaan otomotif dari Tiongkok yang saat ini sedang mulai berinvestasi di Indonesia menyatakan keinginannya untuk mendapatkan dukungan yang sama dari pemerintah agar dapat menjalankan rencana jangka panjangnya di Indonesia,” tutur Jongkie.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi salah satu tujuan investasi otomotif yang menarik di kawasan.

Sebagai asosiasi yang menaungi industri kendaraan bermotor nasional, GAIKINDO juga telah mengusulkan kepada Kementerian Perindustrian agar pemerintah mempertimbangkan pemberian stimulus bagi seluruh jenis kendaraan, sehingga tidak hanya kendaraan elektrifikasi yang memperoleh dukungan.

Usulan tersebut mencakup kendaraan berbasis Internal Combustion Engine (ICE), Hybrid Electric Vehicle (HEV), Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV), hingga Battery Electric Vehicle (BEV). GAIKINDO meyakini kebijakan yang inklusif akan membantu menjaga keseimbangan pertumbuhan pasar sekaligus memberikan kepastian bagi seluruh pelaku industri yang saat ini tengah berinvestasi di Indonesia.

Anton menegaskan, industri otomotif merupakan salah satu sektor strategis yang memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Oleh sebab itu, sinergi antara pemerintah dan pelaku industri perlu terus diperkuat agar Indonesia tetap menjadi tujuan investasi yang kompetitif sekaligus mampu menghadapi berbagai tantangan transformasi industri otomotif global.

“Sebagai asosiasi yang mewadahi industri kendaraan bermotor di Indonesia, GAIKINDO akan terus mendukung terciptanya ekosistem industri otomotif yang sehat, kompetitif, dan berkelanjutan melalui kolaborasi yang erat antara pemerintah, pelaku industri, serta seluruh pemangku kepentingan,” tutup Anton. XPOSEINDONESIA/IHSAN

spot_img

Must Read

Related Articles