
Merebaknya pandemi Covid 19, boleh saja memporakporandakan perekonomian dunia. Tapi tidak untuk pemilik usaha makanan ringan keripik bawang seperti yang dikelola Julian, di kawasan Palmerah, Jakarta Barat.
Saat www.xposeindonesia.com menyambangi Julian, pada Kamis (14/5/2020), terlihat ia super sibuk. Di bagian dapur yang memiliki hawa sangat panas, dua tungku batu besar menyala, dengan di atasnya terdapat kuali berisi minyak panas dan adonan keripik bawang yang sedang digoreng.
Sekitar 10 orang karyawan terlihat di dalam dapur itu, bekerja dengan tugas masing-masing. Ada yang mengaduk tepung terigu dengan daun bawah, seledri, gula, garam, telor, air dan lain lain menjadi adonan kue. Ada yang memotong adonan sesuai ukuran, ada yang mengemas keripik yang sudah digoreng untuk dimasukan ke dalam dus khusus.
“Di masa Corona begini, omset kami malah naik seratus persen,” kata Julian membagi cerita. “Mungkin karena masyarakat harus di rumah saja, maka perlu banyak cemilan untuk ngilangin jenuh,” ungkap Julian lagi.
Selain itu, adanya larangan masyarakat untuk tidak mudik tahun ini, memungkinkan pula penjualan kue bawang miliknya menjadi makin meningkat. Masyarakat lebih banyak berlebaran di Jakarta.
“Kebanyakan pembelinya cuma dari wilayah Jabodetabek. Tapi kewalahan juga memenuhi pesanan. Karena saking laris, ada pembeli yang rela transfer dulu untuk bisa membeli.” ujar Juli sambil menyebut selain membuat Keripik Bawang Original, ia juga memproduksi Biji Ketapang, Keripik Bawang Jeruk dan Keripik Bawang Balado.
Semua cemilan yang diproduksinya, sengaja tidak diberi merk. “Agar orang yang membeli, bisa menjualnya lagi,” kata Julian yang mewarisi bisnis ini dari Ayah juga kakeknya. “Usaha ini sudah berjalan 3 generasi, dari Kakek saya, Cembi di kawasan Parung Panjang, dilanjutkan ayah saya, Iwan kemudian buka di daerah Kemanggisan dan sekarang saya yang lanjutin!”
Setiap hari, karyawan yang bekerja di dapur Julian mampu menghabiskan 8 bal tepung terigu, di mana satu bal, sama dengan 25 kilogram.
Dan ketika tepung sudah diubah menjadi keripik bawang, Juli menjualnya dalam beberapa paket. Ada dalam kemasan kardus seharga Rp 20 ribu/8 ons. Sementara untuk ukuran 3.5 kilogram dipatok dengan harga Rp 60 ribu.
Untuk memperluas pasar dan mememenuhi kebutuhan konsumen yang terus meningkat cepat, Julian mengaku, “Baru buka dua toko di kawasan Bekasi. Anak saya yang jagaiin di sana!”
Menurut Juli, kunci suksesnya hari ini, didapat selain dengan kerja keras, juga mempertahankan kualitas mutu, harga yang tetap terjangkau masyarakat dan rasanya yang enak dan gurih!” pungkas Julian. XPOSEINDONESIA/ Teks & Foto : Dudut Suhendra Putra
More Pictures