Senin, Januari 19, 2026

Bagaimana Kesan Menjadi Moderator Festival Film Horor? Begini Ceritanya…

Adalah sebuah ajang “panel diskusi” yang suasananya santai, tapi diupayakan tetap lugas, berisi dan bermanfaat. Tentu saja mempunyai faedah bagi yang hadir siang kemarin di Pictum Coffee & Kitchen, Pasar Minggu. 

Peserta diskusi yang hadir sebagian besar adalah para wartawan, tentu utamanya jurnalis yang biasa meliput kegiatan dunia film. Tapi menyelip juga undangan para mahasiswa, dari kampus-kampus tertentu. Terlihat semua audience lumayan serius mengikuti diskusi. Alhamdulillah…

Tema yang dipilih adalah Trend Film Horor 2026. Dengan mengundang pembicara adalah Ivan Bandito (Sutradara), Arie Pramasaputra (Sarjana S2 IKJ, yang tesisnya mengenai Film Horor nasional), Niniek L. Karim (aktris senior, psikolog dan dosen) , Bayu Pamungkas (sutradara).

Dan juga menghadirkan tokoh dari pemerintahan, yaitu Syaifullah Agam Ph.D, yang adalah Direktur Musik, Film dan Seni Kementrian Kebudayaan RI. Lumayan lengkap para pembicara, atau narasumber diskusinya.

Syaifullah Agam kebetulan datang agak terlambat tapi pemaparannya mengenai situasi dan kondisi pasar dan perkembangan film horor Indonesia lantas menjadi sebuah “subtema” yang melengkapi Diskusi.

Sebelum lebih lanjut, saya sebenarnya mungkin rada “nyasar” bisa tetiba menjadi moderator di Diskusi Film begitu. Begini, saya lebih dikenal sebagai “orang musik”. Lantas eh ada di Diskusi Film. Apa kata dunia?

Saya dimintai tolong hanya 2 atau 3 hari sebelum acara. Memang minta tolong, karena ada beberapa kandidat moderator, kesemuanya urung hadir. Dengan beragam alasan. Saya pas ga ada acara memang. Tapi yakin nih, memilih saya sebagai moderator? Saya dulu sempat mengambil studi sinematografi. Tapi itu dulu. Dulu banget malah. Sebelum 1990.

Penyelenggara Festival Film Horor meyakinkan saya, mereka tidaklah salah pilih. Pasti saya bisa. Harusnya aman. Pergaulanmu juga ada kan di dunia film? Saya tersenyum. Teman baik saya Garin Nugroho, dulu dia yang menyarankan saya kuliah di sinematografi itu mengikuti jejaknya. Tapi batal. Dan itu di zaman saya remaja…

Ah sudahlah, akhirnya toh kejadian. Dan topik ini tentu membuat saya harus ada sedikit “effort”, melengkapi diri dengan catatan dan pengetahuan tentang keberadaan film horror di sinI kan? Ya masak sih… “pah poh” begitu saja.

Dan intinya beginilah. Pada akhirnya memang film horor, kalau Niniek L. Karim lebih memilih kata “Mistik”, secara umum tetap memperoleh jumlah penonton yang terlihat baik secara bisnis. Jadi, sampai awal 2026 ini, film horror tetap memiliki prospek bisnis yang relatif baik.

Lihat ya di tahun silam, 2025 saja ada 201 film yang diproduksi dan 90 di antaranya adalah film horor/mistik.

Dari catatan 7 Film terlaris 2025, terdapat 3 film horror/misteri. Ketiga film itu sukses meraih pencapaian jumlah penonton jutaan, artinya di atas sejutaan orang. Lihat saja Pabrik Gula, meraih jumlah penonton 4,7 juta orang. Di bawahnya ada Petaka Gunung Gede dengan 3,2 juta penonton. Lalu Jalan Pulang meraih angka 2,8 juta penonton.

Di bawah itu ada Kang Solah x Nenek Goyang (jenis komedi horor), dengan 2,4 juta penonton. Ada juga Qodrat 2, yang dibesut sutradara Charles Gozali, yang meraih 2 juta-an penonton.

Sementara kalau melihat catatan lain, yaitu daftar film Indonesia terlaris sepanjang masa. Ada KKN Di Desa Penari, yang mencapai angka hampir 10.100.000an penonton, menduduki posisi ketiga terlaris. Ada juga, Pengabdi Setan 2 (Communion) yang direlease 2022, mencapai 6.391.000an. Dan Sewu Dino (2023), karya sutradara Kimo Stamboel, yang meraih jumlah penonton hampir 5 juta.

Tetapi secara khusus kemarin Pak Dirjen Syaifullah Agam, secara khusus mengingatkan fenomena film religi. Bahwasanya jenis film religi pernah naik daun, menjadi jenis film terlaris. Dengan produksi yang lantas menjadi masif.

Pernah menjadi trendlah, begitu kira-kira. Tetapi lantas stagnan, dan kemudian “tenggelam”. Film religi perlahan meredup seperti dikalahkan oleh film mistik/horor. Belakangan juga hadir film komedi dan komedi horor, yang nampaknya sedang disukai penonton film kita.

Fenomena yang disodorkan oleh Syaifullah Agam, kemudian ditengarai bahwa ada kesan kreatifitas dalam penyajian cerita, ataupun penggambaran atas film terkesan “habis”. Kemudian penonton (baca : pasar) menjadi jenuh. Hasrat untuk menonton kian menipis. Dan lantas membuat trendpun berganti. Diganti horor. Tapi kini rasanya diambil genre komedi, dimana film suksesnya Agak Laen 2 : Menyala Pantiku menjadi film terlaris sepanjang masa. Catatan rekor jumlah penontonnya lumayan fantastis, tembus angka 10.700.000an penonton, dalam masa penayangan 50 hari pertama!

Maka dunia film horor atau mistik perlu mewaspadai hal tersebut. Bagaimana menggenjot kreatifitas, agar supaya animo penonton tidak menyurut drastis. Upaya melahirkan ide-ide pengembangan baru tentunya menjadi tuntutan. Agar film-film mistik atau misteri yang dihasilkan dan dilempar ke pasar, tetap mampu menjaring animo penonton.

Bagaimanakah memelihara hasrat menonton film Indonesia, yang horor atau mistik tersebut, tetap tinggi? Sehingga secara bisnis, tetap memiliki prospek yang terlihat baik. Kudu dicermati baik-baik oleh para sutradara dan produser.

Adapun mengenai FFH itu sendiri . Adalah festival yang digagas dan dimotori sejumlah wartawan, pemerhati film nasional. Belakangan didukung juga oleh beberapa sineas. Dan direncanakan diadakan setiap sebulan sekali, tiap tanggal 13. Dan pada kesempatan Januari 2026, adalah menjadi penyelenggaraan kedua kalinya.

Sebagai acara utama adalah pengumuman atas film horor terpilih, dengan kategori spesifik aktor, aktris, sutradara dan kamerawan.

Adapun Dewan Juri terdiri dari jurnalis pilihan. Yang melakukan pemilihan secara transparan dan wajib menjaga kredibilitasnya sebagai team pemilih yang juga terjaga pula soal independensinya.

Dalam kesempatan Festival Film Horor edisi Januari 2026 diumumkan bahwa Film Janur Ireng sebagai Film Terpilih. Lalu Tora Sudiro (film Janur Ireng) dan Wavi Zihan  (film Qorin 2). Kimo Stamboel, dari film Janur Ireng, sebagai Sutradara terpilih. Adapun Engfar Budiono, dari Film Dusun Mayit, sebagai kamerawan / DOP (Director of Photography) terpilih.

Sebagai salah satu titik awal pemikiran, Film horor Indonesia sejatinya memiliki prospek baik, sebagai salah satu produsen film-film horor atau mistik terbaik Internasional, paling tidak di Asia. Hal itu tentunya, bisa menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi film horor di dunia.

Pemikirannya kemudian kan, bukankah hantu-hantu di Indonesia, jenisnya banyak sekali? Berserakan di berbagai daerah di seluruh pelosok tanah air. Belum lagi dilengkapi cerita-cerita horor atau mistik, macem adanya folklore yang mistiklah kira-kira yang tentunya bermacam-macam dari seluruh penjuru Nusantara.

Tetapi memang upaya kreatif tetap harus dipelihara dengan baik . Mengikuti juga perkembangan jaman. Memanfatkaan kemajuan tehnologi misalnya.

Lebih meluaskan sub jenis film horor, dengan misalnya juga menghadirkan film-film thriller yang tak menghadirkan lagi sosok hantu-hantu tertentu. Tanpa adanya hantu yang memunculkan diri, tetap mencekam, menakutkan dan bikin bergidik ngeri…

Artinya memang begitulah, mengedepankan situasi dan kondisi yang sama ngerinya, sama menggelisahkan para penontonnya. Dan sama-sama mampu memancing penonton menjerit! Membuat penonton sungguh tak nyaman duduk menonton, sementara popcorn dan minuman bahkan keburu habis….

Bagaimana tetap kreatif dan mampu memancing penonton untuk datang dan membayar tiket, padahal akan “menikmati” ketakutan dan kengerian… Itulah, buat saya pribadi “keanehan”nya. Orang-orang mau saja membayar tiket, untuk ditakut-takuti? Itu dah romantikanya film horor. Alhasil menjadi moderator kali ini, ah sungguh pengalaman yang tak kalah menarik dari memimpin diskusi tentang musik….. Tabik! XPOSEINDONESIA/dM

Must Read

Related Articles