31.3 C
Jakarta
Thursday, August 11, 2022

16 Ormas Berkolaborasi dengan HaloPuan Melawan Stunting

- Advertisement -
- Advertisement -

Sejak Oktober 2021 hingga Maret 2022, lembaga sosial  milik Ketua DPR RI Puan Maharani, HaloPuan, bergerak di 23 desa dari 17 kabupaten dan kota di Jawa Barat untuk melawan stunting bersama warga.

Dan peringatan hari Kebangkitan Nasional 2022, HaloPuan mengajak 16 organisasi kemasyarakatan dan komunitas sosial untuk berkolaborasi dalam Gerakan Melawan Stunting di Jawa Barat.

Ajakan itu disampaikan HaloPuan dalam acara Silaturahmi dan Workshop Gerakan Melawan Stunting yang diadakan di Kota Bandung, Jawa Barat, pada Jumat, 20 Mei 2022.

“Pengalaman kami selama enam bulan berkeliling di Jawa Barat menunjukkan bahwa Gerakan Melawan Stunting sangat penting untuk dilanjutkan dan diperluas,” kata Koordinator HaloPuan, Poppy Astari.

- Advertisement -

“Untuk itu, kami berharap kita bisa membangun kolaborasi dan sinergi karena kami tak bisa bergerak sendiri,” ujar Poppy lagi

Ke-16 ormas dan komunitas sosial yang diundang hadir dalam acara itu antara lain Muslimat Nahdlatul Ulama Jawa Barat, Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Jawa Barat, Aisyiyah Jawa Barat, Pergerakan Sarinah Gerakan Mahasiswa Nasional (GMNI), Kohati, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Barat, Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Jawa Barat, Ikatan Penyuluh Keluarga Berencana (IpeKB) Jawa Barat, Paguyuban Sundawani, dan Forum Generasi Berencana (GenRe) Jawa Barat.

Selain membahas bentuk kolaborasi yang akan dilakukan dalam Gerakan Melawan Stunting, para pengurus ormas dan komunitas sosial itu juga menyimak paparan praktisi pertanian kelor Ai Dudi Krisnadi tentang kekayaan nutrisi daun kelor.

Gerakan Melawan Stunting yang diinisiasi Puan Maharani dan digerakkan HaloPuan bersama warga memang memiliki ciri khas, yaitu memanfaatkan bubuk daun kelor sebagai alternatif asupan tambahan bagi balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Di setiap kegiatan, HaloPuan menunjukkan cara terbaik mengolah daun kelor menjadi bubuk, yang kemudian bisa dijadikan berbagai variasi menu makanan.

Intervensi bubuk kelor di sejumlah desa yang dimonitor HaloPuan bersama kader-kader posyandu menunjukkan kenaikan tinggi dan berat badan anak masing-masing 1 hingga 2,5 sentimeter dan 0,5 kilogram selama satu bulan masa konsumsi bubuk kelor.

Dudi Krisnadi sendiri memiliki pengalaman memberi bubuk daun kelor kepada sejumlah balita di Blora, Jawa Tengah, dengan hasil kenaikan tinggi dan berat badan rata-rata 2 hingga 5 sentimeter dalam tiga bulan.

Dudi mengatakan, bukti ilmiah terkait nilai berlipat-lipat nutrisi kelor sudah sangat berlimpah, sehingga tak terbantahkan lagi. Sayangnya, di Indonesia, kelor masih menjadi tanaman kelas dua. “Orang akan dianggap miskin kalau sampai makan kelor,” katanya. Apalagi, di sejumlah wilayah di Nusantara, kelor kerap dikait-kaitkan dengan nuansa magis dan mistik.

Baca Juga :  Dalam Tiga Hari, Sentra Vaksinasi Covid-19 Traveloka di Tangerang Selatan Layani 4.844 Penerima Vaksin

Oleh karena itu, Dudi mengapresiasi HaloPuan yang menurutnya memiliki ‘beban’ ganda. Yakni, selain harus memberi penyuluhan soal bahaya stunting, HaloPuan juga harus menyosialisasikan manfaat daun kelor yang tidak dipahami banyak orang.

“Sangat jarang organisasi, apalagi individu, yang memiliki kepedulian kepada persoalan stunting, dan karenanya saya salut dengan HaloPuan,” kata Dudi yang juga pemimpin pertanian kelor di Blora, Moringa Organik Indonesia (MOI). “Ini karena hasil dari kepedulian itu akan diperoleh dalam jangka yang sangat panjang, bukan sekarang tapi mungkin 10 hingga 20 tahun ke depan.”

Kepada para pengurus ormas dan komunitas sosial, relawan HaloPuan, Mohamad Chotim, menjelaskan bahwa Gerakan Melawan Stunting tidak berhenti pada penyuluhan, tapi juga dilakukan monitoring selama satu hingga tiga bulan terhadap warga sasaran tertentu. Model gerakan seperti ini, dia bilang, menghasilkan efek “getok tular”. Di beberapa lokasi kegiatan, menurutnya, sejumlah kepala desa tertarik membudidayakan kelor di lahan-lahan warga untuk menurunkan angka prevalensi stunting.

Sejumlah pengurus ormas dan komunitas pun langsung menyambut ajakan kerja sama HaloPuan. Di tempat acara workshop, mereka langsung menandatangani nota kesepahaman dengan HaloPuan untuk berkolaborasi dalam Gerakan Melawan Stunting.

“Kami merasa senang mendapat teman dengan keberadaan HaloPuan,” kata dr. Dwiwahju Dian dari Majelis Kesehatan Aisyiyah Jawa Barat. “HaloPuan telah membuka peluang untuk bersama-sama melenyapkan stunting dari bumi Indonesia.”

Dwiwahju, yang juga dokter ahli kandungan ini, merasa terinspirasi dengan gagasan intervensi daun kelor. “Ini tampaknya sesuatu yang sederhana karena daun kelor ada di sekitar kita tapi langkah sederhana ini ternyata memberi dampak besar bagi masyarakat.” Lembaga Kesehatan NU (LKNU) Jawa Barat menilai apa yang dilakukan HaloPuan dalam melawan stunting dengan intervensi daun kelor merupakan terobosan, sesuatu yang belum pernah ada. LKNU Jawa Barat juga menyatakan ingin berkolaborasi dengan HaloPuan dalam memanfaatkan daun kelor untuk menurunkan prevalensi stunting. “Kami sangat siap bersinergi dengan HaloPuan di Jawa Barat,” ujar Ketua LKNU Jawa Barat, dr. Steven Saputro. XPOSEINDONESIA Foto : Dudut Suuhendra Putra

halopuan bergerak bersama ormas melawan stunting
halopuan bergerak bersama ormas melawan stunting
halopuan dalam acara silaturahmi dan workshop gerakan melawan stunting di bandung
halopuan dalam acara silaturahmi dan workshop gerakan melawan stunting di bandung
halopuan melawan stunting
halopuan melawan stunting
paparan praktisi pertanian kelor ai dudi krisnadi tentang kekayaan nutrisi daun kelor.
paparan praktisi pertanian kelor ai dudi krisnadi tentang kekayaan nutrisi daun kelor.
- Advertisement -

Latest news

- Advertisement -

Related news

- Advertisement -