Musisi yang konsisten memadukan musik modern dengan warna tradisional Sunda, SUNDANIS, kembali menghadirkan karya terbaru bertajuk “Cape Deh”. Single ini menjadi cara SUNDANIS menyuarakan keresahan yang mungkin pernah dirasakan banyak orang: menghadapi sosok yang pandai berbicara, tetapi minim tindakan.
Menariknya, lagu “Cape Deh” langsung diperkenalkan untuk pertama kalinya di panggung internasional melalui Festival YUMEMURA DAYO di Jepang yang digelar pada 18 Juli 2026, sebelum resmi dinikmati di berbagai platform musik digital.
Lewat lagu ini, SUNDANIS mengangkat fenomena yang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari lingkungan pertemanan, dunia kerja, hingga media sosial, tak sedikit orang yang gemar mengumbar janji atau berbicara besar, tetapi gagal membuktikan ucapannya.
“Awalnya lagu ini muncul dari apa yang sering saya lihat dan rasakan sendiri. Banyak orang yang omongnya besar, tapi ketika waktunya membuktikan, kenyataannya justru jauh dari apa yang mereka ucapkan. Dari situ saya merasa, ‘cape deh’ sama orang-orang seperti itu,” ungkap SUNDANIS.
Judul “Cape Deh” dipilih karena dianggap mampu mewakili perasaan banyak orang ketika menghadapi karakter yang dalam pepatah Sunda dikenal dengan istilah “tong kosong nyaring bunyinya”—ramai berbicara, tetapi kosong pembuktian.
Meski mengangkat tema sindiran, lagu ini dikemas dengan nuansa ringan sehingga tetap mudah dinikmati. Bagi SUNDANIS, karya ini bukan sekadar kritik sosial, tetapi juga bentuk refleksi terhadap fenomena yang semakin sering ditemui dalam kehidupan modern.
Dari sisi musikalitas, SUNDANIS tetap mempertahankan identitas yang selama ini melekat pada setiap karyanya. Permainan kendang Sunda dipadukan dengan beat modern sehingga menghasilkan karakter musik yang khas, segar, sekaligus mudah diterima oleh pendengar lintas generasi.
Sentuhan musik tradisional tersebut menjadi ciri utama yang terus dijaga SUNDANIS dalam setiap rilisannya sebagai upaya memperkenalkan budaya Sunda melalui bahasa musik yang lebih universal.
“‘Cape Deh’ saya dedikasikan buat siapa pun yang pernah merasa lelah menghadapi orang yang banyak bicara tapi minim tindakan. Semoga lagu ini bisa mewakili suara hati kalian, sekaligus mengingatkan bahwa tindakan selalu lebih berarti daripada sekadar omongan,” katanya.
Peluncuran “Cape Deh” di Jepang bukan tanpa alasan. Selama beberapa tahun terakhir, SUNDANIS memang aktif membangun jejaring musik lintas negara, khususnya dengan musisi-musisi asal Negeri Sakura.
Sebelumnya, ia telah melahirkan sejumlah kolaborasi bersama musisi Jepang, di antaranya Stillichimiya melalui lagu “Sunrise”, “Mending Jomblo” bersama Yungyu dan 819, hingga “Hareudang” yang diproduseri Young-G dengan memadukan musik tradisional Sunda dan musik Minyo, salah satu genre musik rakyat khas Jepang.
Kolaborasi tersebut menjadi bukti bahwa unsur budaya lokal yang diangkat SUNDANIS mampu diterima oleh pendengar internasional, sekaligus membuka ruang baru bagi musik tradisional Indonesia di pasar global.
Perjalanan internasional SUNDANIS pun belum berhenti. Setelah perilisan “Cape Deh”, ia mengaku telah menyiapkan sejumlah karya baru, termasuk proyek kolaborasi dengan musisi dari Jepang, Taiwan, Korea Selatan, hingga Vietnam.
Melalui karya-karya tersebut, SUNDANIS berharap musik yang memadukan identitas budaya Nusantara dengan sentuhan modern dapat menjangkau pendengar yang lebih luas.
Single “Cape Deh” kini sudah dapat dinikmati melalui seluruh platform streaming musik digital di Indonesia. XPOSEINDONESIA/IHSAN



