The Lantis Bikin Java Jazz 2026 Bergoyang, “Bunga Maaf” Ditagih Penonton

Musik indie pop retro ternyata punya tempat istimewa di panggung jazz. Hal itu dibuktikan The Lantis saat tampil dalam ajang myBCA International Java Jazz Festival 2026. Membawa aransemen yang lebih segar dan penuh eksplorasi musikal, penampilan The Lantis Java Jazz 2026 sukses menjadi salah satu sorotan pada hari pertama festival yang digelar di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, Tangerang, Jumat (29/5/2026).

Sejak sore hari, area Telkomsel Hall sudah dipadati para penggemar yang ingin menyaksikan aksi grup musik yang tengah naik daun tersebut. Bahkan sebelum penampilan dimulai, banyak penonton memilih duduk santai di area panggung sambil menunggu The Lantis naik ke atas panggung.

Atmosfer Java Jazz Festival tahun ini terasa berbeda. Perpindahan lokasi ke venue indoor di NICE PIK 2 menghadirkan suasana yang lebih intim dan nyaman. Nuansa tersebut semakin terasa ketika lampu panggung mulai meredup dan sorotan cahaya oranye menyelimuti panggung tempat The Lantis tampil.

Tepat sekitar pukul 17.25 WIB, lima personel The Lantis langsung disambut riuh tepuk tangan penonton. Grup yang digawangi Giri Virandi (bass dan vokal), Ravi Rinaldy (gitar dan vokal), Yudevio Mayabi (drum), Feisal Syarief (keyboard), serta Rifki Dzaky Fauzan (gitar) membuka penampilan dengan lagu “Pancarona”.

Lagu yang diambil dari album dengan judul sama tersebut langsung membangun suasana hangat di dalam hall. Tanpa memberi jeda panjang, mereka melanjutkan setlist dengan “Belahan Jiwa” yang membuat penonton ikut bernyanyi bersama.

Namun yang membuat penampilan The Lantis Java Jazz 2026 terasa spesial bukan hanya pemilihan lagu-lagunya. Band asal Jakarta itu secara khusus menyiapkan aransemen berbeda dibanding versi studio. Permainan keyboard terdengar lebih dominan, ritme bass lebih groovy, sementara improvisasi gitar di beberapa bagian lagu memberikan nuansa jazz yang kuat.

Sentuhan baru tersebut semakin terasa dengan kehadiran Institut Musik Jalanan yang mengisi bagian string section. Kehadiran elemen musik tambahan ini membuat lagu-lagu The Lantis terdengar lebih kaya, megah, dan memiliki warna yang berbeda dari biasanya.

Di sela penampilan, Giri menyapa para penggemar dan mengungkapkan rasa syukurnya bisa kembali tampil di Java Jazz Festival.

“Selamat sore semuanya. Kita enjoy dulu di sini ya,” ujar Giri yang langsung disambut sorakan penonton.

Momen menarik terjadi ketika Giri bertanya lagu apa yang paling ditunggu oleh para penggemar. Secara kompak, penonton langsung meneriakkan satu judul yang sama, yakni “Bunga Maaf”.

“Sabar dong, sabar dong. Kita baru saja mulai lagunya. Nikmati dulu semuanya ya,” jawab Giri sambil tertawa.

Antusiasme terhadap “Bunga Maaf” memang tidak berlebihan. Lagu tersebut menjadi salah satu karya paling populer The Lantis dan telah meraih lebih dari 100 juta pemutaran di berbagai platform streaming digital. Tak heran jika lagu itu menjadi yang paling ditunggu sepanjang penampilan mereka.

Sebelum memenuhi permintaan para penggemar, The Lantis terlebih dahulu membawakan sejumlah lagu lain seperti “Santai”, “Seperti Cemara”, “Gloria”, “Teruntuk Dirimu”, “Lampu Merah”, “Bila”, hingga “Ambang Rindu”.

Khusus untuk “Seperti Cemara”, lagu yang dikenal sebagai soundtrack Musikal Keluarga Cemara itu sukses menghadirkan suasana yang lebih emosional dan syahdu. Banyak penonton terlihat larut dalam lirik dan melodi yang dibawakan dengan sentuhan jazz yang lebih kental.

Puncak penampilan akhirnya tiba saat intro “Bunga Maaf” mulai dimainkan. Hall langsung dipenuhi suara penonton yang bernyanyi bersama dari awal hingga akhir lagu. Suasana berubah menjadi koor massal yang menunjukkan betapa kuatnya koneksi antara The Lantis dan para penggemarnya.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana perkembangan musik indie Indonesia dalam beberapa tahun terakhir semakin mendapat tempat di festival-festival besar. Jika sebelumnya Java Jazz identik dengan musisi jazz murni, kini festival tersebut juga menjadi ruang bagi musisi lintas genre yang mampu menghadirkan eksplorasi musikal berkualitas.

Penampilan The Lantis menjadi contoh bagaimana musik indie pop dapat beradaptasi dengan panggung jazz tanpa kehilangan identitas utamanya. Karakter retro-pop yang selama ini menjadi ciri khas mereka tetap terasa kuat, namun dibalut progresi chord yang lebih kaya, improvisasi yang lebih berani, dan dinamika yang sesuai dengan atmosfer Java Jazz Festival.

Selama hampir satu jam tampil, The Lantis berhasil membuktikan bahwa kreativitas dalam mengolah aransemen dapat membuka ruang baru bagi sebuah karya musik. Tidak hanya memuaskan penggemar lama, mereka juga berhasil menarik perhatian penonton yang mungkin baru pertama kali menyaksikan penampilan mereka secara langsung.

Penampilan di Java Jazz Festival 2026 sekaligus mempertegas posisi The Lantis sebagai salah satu grup musik muda Indonesia yang terus berkembang dan berani bereksperimen. Dengan basis penggemar yang terus bertambah serta deretan lagu yang semakin dikenal luas, perjalanan mereka tampaknya masih akan terus menarik untuk diikuti.

Java Jazz Festival 2026 sendiri berlangsung pada 29-31 Mei 2026 di NICE PIK 2, Tangerang, dengan menghadirkan lebih dari 100 penampil yang mengisi 10 panggung berbeda selama tiga hari penyelenggaraan. XPOSEINDONESIA/IHSAN

Must Read

Related Articles