Warna abu-abu mungkin terdengar sederhana. Namun di tangan New Balance, grey justru berubah menjadi identitas yang melekat kuat dengan gaya hidup urban modern. Lewat Grey Days 2026, New Balance Indonesia menghadirkan pengalaman berbeda yang bukan cuma soal sepatu atau fashion, tetapi juga tentang bagaimana generasi urban bergerak, berolahraga, hingga mengekspresikan diri dalam keseharian.
Mengusung konsep “Find Your Grey”, New Balance tahun ini menghadirkan Grey House di ARTOTEL Casa Hangtuah, Jakarta Selatan, pada 18-31 Mei 2026. Bukan sekadar pop-up biasa, Grey House dirancang layaknya rumah yang menggabungkan unsur lifestyle, running culture, hingga pengalaman komunitas dalam satu ruang.
Senior General Manager Brand Marketing MAP Active, Martina Harianda Mutis atau yang akrab disapa Rinda, mengatakan warna grey bukan sekadar tren musiman bagi New Balance.
“Grey adalah bagian dari identitas New Balance yang tumbuh dari keseharian dan gaya hidup urban. Dulu terinspirasi dari warna jalan aspal yang dipakai urban runners, sekarang grey menjadi signature yang merepresentasikan desain timeless dan karakter yang tidak perlu berteriak untuk dikenali,” ujarnya di Jakarta, Senin (18/5/2026).
Berbeda dari tahun sebelumnya yang lebih fokus pada pengalaman di toko, Grey Days 2026 justru dibawa lebih personal lewat konsep rumah. Pengunjung yang datang ke Grey House bisa menikmati berbagai pengalaman khas New Balance, mulai dari kamar hotel bernuansa grey, Grey Breakfast, product showcase, hingga informasi terkait Grey 5K Community Run yang akan digelar pada 23 Mei 2026.
Menurut Rinda, konsep rumah dipilih karena dianggap paling dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat urban.
“Rumah itu tempat paling nyaman. Kami ingin Grey House terasa welcoming dan membuat semua orang bisa merasakan pengalaman New Balance secara emosional, bukan hanya melihat produknya,” katanya.
Konsep ini sekaligus menjadi strategi New Balance untuk lebih dekat dengan komunitas aktif yang kini tumbuh pesat di kota-kota besar Indonesia. Fenomena active lifestyle sendiri memang terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Running club, gym community, hingga olahraga hybrid seperti Hyrox kini mulai menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda urban.
Dalam acara Grey Days 2026, New Balance juga menggandeng presenter sekaligus marathon runner Daniel Mananta sebagai representasi sosok urban aktif yang identik dengan gaya effortless.
Menurut Daniel, banyak orang salah memahami effortless style. “Kelihatannya effortless, padahal sebenarnya butuh effort besar. Saya sangat memperhatikan detail, mulai dari rambut, outfit, sampai sepatu,” kata Daniel.
Bagi Daniel, berpakaian rapi adalah bentuk menghargai orang lain. Karena itu, ia selalu menyesuaikan outfit dengan aktivitas dan siapa yang akan ditemuinya.
Menariknya, Daniel mengaku punya kedekatan personal dengan warna grey bahkan sejak SMA. “Dulu teman-teman saya memanggil saya Grey Hair karena sudah ubanan. Jadi waktu diajak New Balance untuk Grey Days, rasanya cocok banget,” ujarnya sambil tertawa.
Grey Days 2026 juga menegaskan posisi New Balance yang kini kuat di dua segmen sekaligus: performance dan lifestyle. Brand Marketing Manager New Balance Indonesia Reggie Ramadana , menjelaskan koleksi terbaru tahun ini banyak mengusung konsep retro futuristic dengan teknologi yang fokus pada kenyamanan dan stabilitas.
Salah satu teknologi yang diperkenalkan adalah ABZORB, yang bukan hanya memberikan cushioning, tetapi juga stabilitas saat dipakai berdiri lama atau beraktivitas seharian.
“Comfort saja tidak cukup. Sekarang orang butuh sepatu yang tetap stabil dipakai seharian,” kata Ferry.
Selain kategori lifestyle, New Balance juga memperkuat lini running lewat pembaruan pada seri Fresh Foam X 1080 hingga FuelCell Rebel. Menurut Reggie, konsumen sekarang menginginkan sepatu dengan energy return tinggi tanpa mengorbankan kenyamanan.
Hal ini sejalan dengan tren olahraga lari yang terus meningkat di Indonesia. Dari sekadar aktivitas olahraga, running kini berkembang menjadi bagian dari kultur urban dan media sosial.
“Sekarang orang ingin dikenal punya active lifestyle. Running dan Hyrox bahkan sudah jadi bagian dari lifestyle,” tambah Rinda.
Sebagai pelari marathon yang rutin menempuh 75-90 kilometer per minggu, Daniel Mananta mengaku recovery menjadi hal paling penting di usia kepala empat.
“Strength training dan recovery itu wajib. Sebelum ke sini saja saya sempat sport massage dan ice bath,” katanya.
Daniel juga menekankan pentingnya memilih sepatu yang sesuai kebutuhan. Ia mengaku rutin menggunakan New Balance FuelCell Rebel untuk latihan harian dan jalan santai, sementara seri Elite dipakai saat long run atau speed training.
“Sepatu itu sangat mempengaruhi performa dan mencegah cedera,” jelasnya.
Menariknya, Daniel juga mengungkapkan ketertarikannya mencoba Hyrox setelah sebelumnya aktif di dunia marathon. Namun ia menegaskan tidak akan terlalu memaksakan diri.
“Marathon dan strength training itu saling melengkapi. Tapi saya tetap mau enjoy dan tidak overpush,” ujarnya.
New Balance juga menegaskan bahwa Grey Days bukan hanya untuk runner profesional. Lewat berbagai community activation dan product trial, brand asal Boston ini ingin membuka akses lebih luas bagi masyarakat yang baru mulai aktif berolahraga.
Komunitas yang dilibatkan pun dibuat beragam agar lebih inklusif. Selain itu, New Balance juga menghadirkan berbagai koleksi yang diklaim lebih ramah untuk berbagai bentuk kaki, termasuk pengguna flat feet, berkat desain toe box yang lebih lebar.
“Yang penting dicoba langsung karena setiap orang punya kebutuhan berbeda,” ujar Reggie.
Dengan kombinasi antara fashion, performance, komunitas, dan pengalaman urban, Grey Days 2026 menjadi bukti bahwa warna abu-abu ternyata bisa terasa sangat hidup.
Karena pada akhirnya, seperti pesan utama New Balance tahun ini, setiap orang punya versi “grey” mereka sendiri. XPOSEINDONESIA/IHSAN





