Ada mungkin 2 atau 3 kali pernah saya utarakan ke abang satu ini. Broer James, kalau ngana ga jadi musisi atau penulis lagu, kayaknya ngana jadi pendeta ya. Broer James cuma terkekeh. Bisa aja, begitu selalu jawabannya atau begitulah ia menimpali candaan saya.
Lirik-lirik lagu yang ia tulis, mengandung unsur relijius yang tebal. Bersuasana “gospel”, tentu saja bagi teman-teman Kristiani. Walau begitu, lagu-lagu “relijius”nya tidak hanya untuk saudara-saudara Kristiani semata. Lebih universal.
Artinya, pesan-pesan dalam lagunya lebih ke bentuk penyampaian verbal kemanusiaan yang untuk semua kalangan. Tidak terbatas pada agama tertentu. Saya ambil contoh, “Jadilah Anak Anak Terang, yang selalu tegar di setiap cobaan dan godaan. Jadilah Anak Anak Terang, yang senantiasa berjalan dengan terang Tuhan”…
Itu lirik lagu “Anak Anak Terang”, dibawakan Suara Persaudaraan. Dalam album charity, Musik Untuk Kemanusiaan, dirilis tahun 1986. Album tersebut terinspirasi dari album We Are The World, yang dirilis setahun sebelumnya.
Atau lagu yang “sungguh relijius”, (saya pernah bilang, ini lagu relijiusnya tingkat tinggi broer…), “Tuhan Ada di Mana-Mana”. Dalam nikmatnya hidup di dunia. Yang hanya sementara saja. Seringkali kita menjadi lupa. Untuk mengingat Sang Pencipta. Bahkan untuk sebaris doa. Dan bila langkah terasa gontai. Kehilangan arah tujuan. Serta beban hidup bertambah sarat… Baru kita mulai bertanya, Baru kita mulai mencari….
Lagu ini dibawakan dengan pas, terasa lebih “deep” dengan suara alto yang “berat” khasnya, seorang January Christy. Masuk di album perdananya, yang dirilis tahun 1986 oleh Pro Sound. Sekembalinya Oeken, begitu panggilan manisnya, ke tanah air dari pengembaraannya di Jerman.
Masih ada lagu bernuansa relijius lainnya, karya broer James. “Terlalu banyak peristiwa yang telah kualami. Terlalu besar badai hidup yang harus kuhadapi…Kucoba untuk dapat, menerima semua kodrat ini. Sampai di batas waktu yang kusendiripun tak pernah tahu….kutak tahu.” Penggalan lirik dari lagu berjudul, “Ironi” dinyanyikan duet kakak-beradik, Lidya dan Imaniar.
Walau selain itu, James juga menghasilkan karya-karya lainnya, yang tak berbau ketuhanan. Seperti “Sakukurata” atau “September Ceria” misalnya. Termasuk karya bersamanya dengan almarhumah Titiek Puspa untuk kelompok rock Scorpion, “When You Came into My Life”.
James Freddy Sundah, lahir di Semarang pada 1 Desember 1955. Ia langsung dikenal luas, melejit namanya lewat karyanya, “Lilin Lilin Kecil”. Lagu terfavorit dari ajang Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors tahun 1977. Lagu itu juga memiliki tuah, ikut melejitkan nama Chrisye, sebagai penyanyi pria. Kelak menjadi penyanyi cowok terlaris sekitar 10-an tahun kemudian., terus hingga ia meninggal dunia pada 30 Maret 2007.
Sekedar tambahan catatan, sempat dikonfirmasi ulang pada Addie MS, sesame musisi lulusan SMAN 3 Jakarta. Memastikan tahun berapa sebenarnya James menamatkan studi SMA nya di sekolah di Kawasan Setiabudi, Jakarta tersebut. Addie mengatakan, ia sendiri lulus tahun 1979, paska perpanjangan waktu belajar setengah tahun. Ia bareng Ikang Fawzy dan Deddy Dhukun.
Sementara Fariz RM dan Raidy Noor lulus tahun 1977, Adjie Sutama di tahun 1976.. Nah kalau James Sundah, seingatnya tahun sebelumnya lagi. Kalau tak salah, 1974 atau 1973.
Ini saya kutip tulisan pengantar saat James Sundah dianugerahi Lifetime Achievement Awards di ajang AMI Awards, tahun 2025. Perjalanan saya bermula puluhan tahun lalu, ketika saya masih seorang remaja yang hanya memiliki satu hal: cinta yang tak tergantikan pada musik. Saat menciptakan “Lilin-Lilin Kecil” untuk lomba Prambors, saya tidak pernah membayangkan bahwa lagu itu akan hidup selama puluhan tahun, dinyanyikan kembali ribuan kali, dan menjadi bagian dari kisah pribadi jutaan orang.
Saya bersyukur kepada Tuhan atas anugerah itu. Dan saya bersyukur kepada semua pendengar yang menjadikan lagu itu milik mereka.
Tulisan itu dibacakan oleh Wendi Putranto, yang mewakili James yang tak bisa datang menghadiri AMI Awards. Saat itu, James sudah berjuang mengatasi kanker parunya. Ia tengah menjalani masa pengobatan, antara lain melalui serangkaian kemoterapi.
Sejak di penghujung 1990-an, James juga makin giat dan bersemangat mendukung Gerakan royalty atas karya musik. Bagaimana ia begitu peduli dengan kesejahteraan teman-teman musisi, penyanyi dan terutama para penulis lagu. Apalagi saat ia masuk kepengurusan PAPPRI, dimana ia mengepalai Departemen Tehnologi Informasi.
Saya pada sekitar tahun 2026, dihubungi lagi oleh James. Beserta istri tercintanya, Lia Sundah Suntoso. Saat itu James mengajak saya, juga teman baik saya, almahumah Nini Sunny. Kami berdua, dianggap James sudah dikenalnya dekat sejak lama dan, ini kata James, integritas dan idealismenya ga usah dipermasalahkan lagi…. Ada-ada saja. Sejujurnya James, ga segitunya juga sih.
Well, James dan Lia meminta kami berdua membantunya dalam release single terbarunya, Seribu Tahun Cahaya. Single yang dinyanyikan dalam 3 bahasa oleh Claudia Emmanuela Santoso dan juga Meilody Indreswari. Kami bertemu awalnya lewat zoom, dimana selain kami berempat juga diajak serta sahabat James dan Lia lainnya. Sekaligus tetangga mereka di New York, praktisi pertelevisian, Naratama Rukmananda. Selain kedua penyanyi di atas, tentunya.
Single tersebut sejatinya ditulis James pada tahun 2007. Saat itu, mendiang Djaduk Ferianto, yang sempat diperdengarkan sample lagu tersebut memberi pendapat, musiknya itu “futuristic” banget. Terasa jauh mendahului jaman. Perlu diketahui warna musiknya, EDM (electronic-dance-music).
Dan musik bersuasana dance tersebut tetap dipertahankan James, saat ia merelease secara resmi lagu tersebut. Menurut James, lagu itu sangat kontekstual saat dirilis sebagai single. Pas untuk menghargai betul peran serta penuh cinta kasih sang istri, terhadap dirinya yang tengah berjuang mengatasi kanker.
Ada momen-momen, via telp/zoom atau terutama messages yang saya ingat betul. Bagaimana dua pejuang kanker saling menguatkan. James, dibantu Lia. Dan dengan Nini Sunny. Saya terharu mendengar atau membaca messages mereka. Dan pada akhirnya, Nini Sunny berangkat ke keabadiannya di penghujung 2025 silam. Disusul James, pada 7 Mei 2026 di kediamannya di New York. Momen indah, yang tentu tak mungkin saya lupakan, Nini dan James…. 2 orang sahabat dekat.
James Sundah, sahabat begitu banyak orang. Penulis lagu yang supel dan rendah hati. Penuh senyum. Puluhan tahun dekat dengan mendiang James, selalu saja kita bisa habiskan berjam-jam waktu untuk mengobrol. Terutama memperbincangkan musik.
James bukan orang yang senang ngobrol via Whats App atau berkiriman messages. Pesan-pesannya terbilang pendek, straight to the point. Tapi kalau sudah bertemu, kita bisa obrolin seperti seolah-oleh seluruh isi dunia dan segala kehidupan di atasnya…. Segitu seriusnya? Serius amat sih sebenarnya ga ya. Kita ngobrol penuh canda.
Ada satu kisah yang selalu saya ingat. Ini cerita lucu. Broer James, kita ga pernah lupa cerita ini lho. Di satu waktu, kejadian di kota Bandung. James mendapat undangan ke Bandung untuk menjadi juri sebuah kompetisi musik. Sebenarnya bersama saya, tapi saya baru bisa menyusul ke Bandung belakangan. James dikabari bahwa ia akan dapat 1 kamar, berdua dengan saya.
Lewat tengah malam, James yang sudah dikamar bersiap-siap tidur. Ia lalu mendengar orang masuk kamarnya. Orang itu sempat batuk sebentar, dan sempat berucap pelan, permisi. James tak menjawab, karena kok suaranya asing? Dan tentu saja, itu bukan suara saya. Ya kan, James kenal betul suara saya. Lho, jadi ini siapa?
James “terlalu kawatir”, jadi ia teruskan tidur hingga terlelap beneran. Ia sempat mencuri melihat siapa yang datang, tapi kamar sudah gelap, jadi sosok tamu yang masuk kamar tersebut ga terlihat. Ia sebenarnya penasaran, so pasti. Siapa orang ini?
Esok paginya ia cepat-cepat keluar, menemui Bens Leo. Mas Bens memang yang mengundang kami berdua. Ia langsung bercerita, bahwa ia kawatir betul ada orang “asing” yang masuk kamarnya, bahkan tidur! Dan ia yakin betul, itu bukan Dion. Dion itu kok ga muncul-muncul.
Akhirnya ketahuan, sebenarnya yang datang masuk kamar James itu anggota timku, juga notabene timnya Mas Bens. Dia masuk tidur di situ menggantikanku, karena saya baru bisa datang keesokan hari. Tapi memang tidak sempat menginformasikan ke James, karena dikira James sudah tertidur.
Ketika saya datang, James menceritakan “kekhawatiran”nya itu dan kamipun tertawa terbahak-bahak. Dan teman yang masuk “diam-diam” di kamar James itu, sebenarnya James mengenalnya juga. Bayangin Dion, cerita James, sepanjang malam gw itu sebenarnya bisa tertidur tapi ya waswas…. Ga nyenyaklah.
Ada satu hal lain yang tak pernah kulupa juga. James acapkali mengajak ngobrol dengan “Bahasa Minahasa”. Selalu kami tertawa, bahwasanya dua orang bukan kelahiran Manado, ga pernah juga tinggal di Manado / Minahasa, tapi “berusaha keras” berbicara dengan bahawa “leluhur kita”.
Intinya, ini James sering mengingatkan, “torang jang sampai lupa bahwa torang dua ini punya darah Minahasa juga Dion. Ga boleh lupa.” Dan kami memang sering berbahasa “leluhur” kami walau sebenar-benarnyalah, terbatas… Kita sering tertawa juga “membahas” soal itu. Dasar Manado card. (Manado Card itu istilah untuk “Orang Manado” yang sebenarnya kenal atau tahu Manado dari kartu pos tentang Manado. Jadi “card” itu maksudnya “kartu pos bergambar”)
Well, pada akhirnya di satu kesempatan, kami berdua berkesempatan barengan ke kota Manado. “Mendampingi” sahabat kita, Syaharani. Untuk sebuah acara musik di kafe. Wah, kami betul-betul menikmati dengan sukacita kesempatan “pulang kampung bersama”
itu…. Itulah one in our lifetime torang pulang basamo. Hehehe….
Ada banyak lagi cerita-cerita lain. Tapi apapun itu, yang jelas kenangan demi kenangan dengan dirimu broer James, selalu kita kenang deng bae-bae. Selalu diingat sampai nanti, …nanti jo, waktu kesempatan torang berdua bakudapa di rumahNYA.
James Sundah, pulang ke rumah Bapa di surga pada Kamis, 7 Mei 2026. Dan telah dimakamkan di St. John Cemetery, 80-01 Metropolitan Avenue, Middle Village, New York pada Senin 11 Mei 2026.
Broer James, salam untuk Chrisye. Salam untuk Mas Bens Leo. Dan tentu, salam hormat penuh kasih juga untuk Nini Sunny. Broer James tentu sudah tenang saat ini, sudah tak lagi sakit. Karya-karya lagu indahmu adalah warisan sangat baik untuk dunia musik Indonesia.
Broer James, tak lupa, sebagai “Minahasan United”, salam…. Pakatuan wo Pakalawiren.
Engkau lilin-lilin kecil, Sanggupkah kau mengganti, Sanggupkah kau memberi…Seberkas Cahaya…. Sanggupkah kau berpijar, Sanggupkah kau menyengat seisi dunia… XPOSEINDONESIA/dM*




