Di tengah perubahan gaya hidup global dan meningkatnya mobilitas masyarakat, industri hospitality tidak lagi sekadar berbicara soal hunian dan layanan menginap. Sektor ini telah berkembang menjadi ekosistem yang menyatukan pengalaman, kesehatan, teknologi, hingga personalisasi layanan yang semakin kompleks. Perubahan ini mendorong pelaku industri untuk terus berinovasi, namun di saat yang sama juga menghadirkan tekanan baru yang tidak bisa dihindari.
Indonesia sebagai salah satu destinasi unggulan di Asia Tenggara turut merasakan dinamika tersebut. Pertumbuhan hotel yang masif, berkembangnya tren wellness, hingga menjamurnya alternatif akomodasi seperti vila dan homestay menunjukkan bahwa pasar bergerak cepat. Namun, pertumbuhan ini belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan regulasi, inovasi layanan, serta sinergi antar pelaku industri.
Situasi tersebut menjadi sorotan dalam forum HAM Meet CEO yang mempertemukan berbagai stakeholder dari sektor hospitality, wellness, teknologi, dan investor. Forum ini menegaskan bahwa industri hospitality Indonesia saat ini berada di persimpangan penting antara peluang besar dan tekanan yang semakin kompleks.
Di sejumlah destinasi wisata seperti Yogyakarta, pertumbuhan pariwisata memang terlihat signifikan. Namun di balik itu, muncul ketimpangan antara jumlah hotel yang terus bertambah dengan pertumbuhan wisatawan yang tidak sebanding. Founder dan CEO Odilia Infinity Corporation, Yohana Gewang, melihat peluang besar dari perubahan tren wisata yang kini mengarah pada wellness.
Menurutnya, konsep wellness telah berevolusi dari sekadar layanan spa menjadi bagian dari gaya hidup modern yang mencakup kesehatan fisik dan mental. Bahkan, konsep ini kini berkembang menjadi destinasi wisata tersendiri yang memiliki daya tarik kuat bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Namun optimisme tersebut tidak sepenuhnya dirasakan oleh pelaku hotel. CEO Natta Hospitality Management, Thomas Matantu, menyoroti ketimpangan antara pertumbuhan jumlah hotel dan pasar. Ia menyebutkan bahwa peningkatan jumlah hotel tidak diiringi dengan pertumbuhan wisatawan yang memadai, sehingga menekan tingkat okupansi.
Ia juga mengungkapkan bahwa kontribusi kegiatan pemerintah yang sebelumnya menyumbang hingga 60 persen okupansi hotel kini turun drastis menjadi sekitar 10 persen akibat efisiensi anggaran. Dampaknya, tingkat hunian hotel terutama pada hari kerja mengalami penurunan signifikan.
Persaingan semakin ketat dengan hadirnya vila dan homestay yang menawarkan fleksibilitas serta harga lebih kompetitif. Dalam beberapa tahun terakhir, tren ini disebut telah menggerus okupansi hotel hingga 30–40 persen, terutama pada periode libur panjang seperti Idul Fitri serta Natal dan Tahun Baru.
Founder dan CEO MORA Group, Andhy Irawan, menilai bahwa meskipun tekanan meningkat, Indonesia tetap memiliki daya tarik kuat bagi investor asing. Namun ia mengkritik minimnya kebijakan konkret dari pemerintah dalam mendukung industri.
Menurutnya, pemerintah seharusnya berperan sebagai pengarah utama dalam ekosistem industri. Ia juga menyoroti adanya hotel dengan tingkat okupansi rendah hingga 20 persen serta fenomena penjualan aset akibat tekanan bisnis yang terus meningkat.
Lebih lanjut, lemahnya koordinasi antar asosiasi serta perubahan regulasi yang dinamis membuat pelaku industri harus beradaptasi secara mandiri. Padahal, potensi pasar domestik Indonesia yang besar seharusnya dapat menjadi kekuatan utama dalam menjaga stabilitas industri hospitality.
Dari sisi teknologi, CEO Power Pro, Harli Yanto, menegaskan bahwa digitalisasi menjadi kebutuhan mendesak bagi industri. Tanpa sistem yang terintegrasi, kualitas layanan sulit diukur secara objektif dan berisiko menurunkan kepuasan pelanggan.
Transformasi digital kini mengarah pada penggunaan sistem berbasis cloud seperti Amazon Web Services dan Google Cloud yang dinilai lebih efisien, aman, serta fleksibel dibandingkan sistem konvensional. Dengan teknologi ini, pelaku industri dapat memantau dan meningkatkan kualitas layanan secara real-time.
Di tengah tekanan dan peluang tersebut, industri hospitality Indonesia dituntut untuk melakukan transformasi menyeluruh. Tidak hanya dari sisi layanan, tetapi juga dalam membangun kolaborasi lintas sektor yang lebih kuat dan terarah. Forum HAM Meet CEO menjadi refleksi bahwa masa depan industri ini tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.
Ke depan, sinergi antara pelaku industri, investor, penyedia teknologi, serta dukungan kebijakan dari pemerintah akan menjadi faktor penentu keberhasilan. Tanpa koordinasi yang kuat, potensi besar yang dimiliki Indonesia berisiko tidak termanfaatkan secara optimal.
Lebih dari itu, kebutuhan akan regulasi yang jelas dan adaptif menjadi semakin mendesak. Industri tidak hanya membutuhkan kebijakan, tetapi juga arah pembangunan yang konsisten serta implementasi nyata di lapangan. Peran pemerintah sebagai pengarah utama menjadi krusial dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan keberlanjutan.
Pada akhirnya, keberlanjutan industri hospitality Indonesia tidak hanya ditentukan oleh besarnya pasar, tetapi oleh kemampuan seluruh stakeholder dalam beradaptasi terhadap perubahan. Integrasi antara tren wellness, inovasi teknologi, serta kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar industri ini tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh lebih kuat dan kompetitif di tingkat global. XPOSEINDONESIA/IHSAN

