Kamis, Februari 26, 2026

Banyak Kenangan Mengenai Seniman Besar, I Gusti Kompiang Raka…

Seorang seniman yang selalu mudah kerjasama. Pak Kompiang itu mendengarkan konsep kami, lalu menjalankannya. Ia bersedia saja. Begitu kenang Ian Antono, gitaris dan motor dari kelompok God Bless. Juga kelompok Gong 2000.

Pak Kompiang, orang yang begitu ramah. Dan tak pernah sangat mudah dan cepat untuk bekerjasama, kenang Dwiki Dharmawan.

Menurutku, Pak Kompianglah yang membawa gamelan Bali ke dunia musik pop tanah air, ucap Dewa Budjana.

Pak Kompiang itu sangat ramah. Dan siap membantu atau mendukung musik saya, apapun bentuk musik saya. Sepanjang beliau punya waktu, pasti tak akan menolak. Itu kenangan gitaris dan pendiri grup prog-rock, Discus, Iwan Hasan.

Teman bermusik dan bekerja yang sangat baik dan begitu ramah. Tidak mudah dilupakan, cerita Marusya Nainggolan.

Dan….perjalanan demikian panjang Jakarta – Los Angeles – New York – Jakarta, seolah tak terasa waktunya. Pak Kompiang berada di sebelahku, dan begitu banyak cerita bermusiknya.

Begitulah kenangan dari beberapa musisi yang pernah terlibat kerjasama dengan seniman besar Bali. Bisa disebut, salah satu seniman terbesar yang pernah lahir dari Bali. I Gusti Kompiang Raka, namanya.

Ia lahir di Banjar Kutri, Singapadu, Gianyar, Bali, pada 28 April 1947. Lahir dari orang tua, I Gusti Putu Mertha (ayah) dan I Gusti Putu Rengkug (ibu). Sebagai putra pertama, dengan 3 orang adiknya, I Gusti Made Diantha, I Gusti Nyoman Latra, Ni Gusti Made Sudiasih.

Dan dari keempat kakak-beradik itu, hanya Kompiang Raka yang lantas berkarir sebagai seniman sepanjang hayatnya. Dari selepas balita, Kompiang Raka muda sudah menunjukkan perhatian dan kesukaannya terhadap kesenian. Bali, terutama. Dari menabuh gamelan sampai menari. Ia juga belajar menembang Bali sampai juga menjadi dalang.

Pada tahun 1967, Kompiang Raka berpindah ke ibukota Jakarta. Dan setahun kemudian, pada 1968, ia mendirikan Yayasan Saraswati. Yang kemudian dikenal dengan nama Lembaga Kesenian Bali Saraswati. Yang menjadi tempat untuk belajar tari dan musik gamelan Bali, bagi masyarakat luas.

And then, the rest is history. Sejarah seorang Kompiang Raka, yang membuka pintu. Menyediakan waktu. Juga perhatiannya untuk segenap ajakan maupun tawaran bekerjasama, dengan berbagai rancangan program musik. Bersama bermacam-macam musisi, di seluruh penjuru tanah air.

Nama Kompiang Raka, pada awalnya selain dengan Saraswati. Tak bisa dilepaskan dari pergaulan dekatnya dengan Guruh Sukarnoputra. Guruh sempat belajar gamelan juga dengan Kompiang Raka. Yang lantas di sekitar 1975-1976, Guruh yang bersama Keenan Nasution dan Gypsi, mendirikan Guruh Gypsi.

Dan Kompiang Raka diajak serta. Yang menjadikan seorang Kompiang Raka, pada waktu kemudian adalah juga elemen penting dan vital dari musik keseluruhan Guruh Gypsi. Perlu diingat, nafas utama Guruh Gypsi sebagai kelompok progressive-rocknya, sangat kuat dan kental nuansa Balinese-Music nya. Guruh Gypsi adalah Bali juga adanya.

Hal tersebut diakui pula oleh Keenan Nasution. Dimana pada masa produksi rekaman, Kompiang Raka sudah dilibatkan sejak awal. Saat itu, kenang Keenan, Kompiang itu juga dimintai pendapatnya. Kami dengarkan, ya dia memang bagian dari diskusi dengan kami semua, jelas Keenan.

Dialog dan diskusi intens dengan Kompiang Raka di dalamnya, akhirnya menghasilkan album rekaman pertama dan satu-satunya dari Guruh Gypsi. Yang kemudian menjadi sebuah album monumental dan bersejarah. Guruh, memang sudah menggilai musik Bali, gamelan Bali. Ia memang menginginkan mengawinkannya dengan musik rock, bertemu dengan Kompiang Raka, tentu saja jadi pas. Begitu lanjut Keenan.

Kerja bareng Kompiang Raka dan Guruh Sukarnoputra kemudian diteruskan saat Guruh Sukarnoputra mendirikan Swara Maharddhika. Kemudian menggelar tontonan pagelaran kolosal musik dan tari di Balai Sidang Senayan. Lanjut ke beberapa kota lainnya.

Setelah itu, Kompiang Raka tercatat melakukan kolaborasi dengan berbagai musisi, grup band maupun penyanyi. Selain itu, Kompiang Raka juga menjadi pegawai di pemerintah daerah DKI Jaya. Antara lain ia pernah menjadi bagian dari tim yang mengelola Taman Ismail Marzuki. Selain berikutnya, menjadi direktur artistik di Gedung Kesenian Jakarta.

Perihal aneka kolaborasi yang dilakukan Kompiang Raka, Dewa Budjana menyebutnya bak Ravi Shankar-nya Indonesia. Seperti Ravi Shankar di India, terang Budjana, pak Kompiang membawa tradisi kesenian Bali masuk ke dunia musik populer di sini. “Nah, pak Kompiang membawa gamelan Bali ke dunia musik pop tanah air”.

Budjana mengingat-ingat, ia pernah berkerjasama dengan Kompiang Raka dan LKB Saraswati nya terutama acara Dharma Shanti (acara agama Hindu). Rekaman perdana dari Nyanyian Dharma yang diinisiasi Budjana, pak Kompiang juga ikut mendukung.

Sampai GIGI juga pernah berkolaborasi dengan gamelan Bali, yang dipimpin pak Kompiang. Lanjut Budjana, “Pernah mau bikin proyek bareng. Saya dengan Wayan Sadra, musisi kontemporer Bali yang terakhir bermukim di Solo dan Kompiang. Sudah ngobrol-ngobrol dan ketemu nama, Bali Connection. Sayang tidak terealisasi, malah keduanya kini sudah berangkat duluan….”

Iwan Hasan mengenang, saat pak Kompiang dihubungi untuk ikut mendukung Discus yang akan melakukan tur ke beberapa kota di USA, pak Kompiang itu langsung bersedia. Pak Kompiang berangkat bareng kami untuk tampil dengan Discus di San Fransisco, North Carolina dan New York. Bahkan kemudian sampai Mexicali, di Mexico.

“Saya pertama mengenal Pak Kompiang lewat penampilan saat pentas ensemble pimpinan ibu Trisuci Kamal, kalau ga salah tahun 1993. di sebuah hotel di Jakarta. Kami membawakan karya dari ibu Trisuci.  Saat itu saya main bass, pak Kompiang kendang Bali,”, kenang Iwan Hasan.

Setelah itu tampil di Pekan Komponis, tahun 1998. “Saya tampil sendiri dengan membawakan karya-karya sendiri saat itu. Pak Kompiang muncul dengan Wayan Sadra dan Pande Made Sukerta, memainkan karya-karya kolaborasi mereka bertiga.

Kolaborasi Discus dan Kompiang Raka, berlanjut di tahun 2009 saat Discus tampil di Zappanale Festival di Jerman. “Saya sebenarnya kepengen mengajak Pak Kompiang mendukung rekaman solo album saya lagi, akan segera diproduksi. Sayang, Pak Kompiang sudah tiada…”

Di jelang tahun 1991, Ian Antono bersama Achmad Albar membentuk kelompok Gong 2000. Dan terpikir untuk berkolaborasi dengan gamelan Bali. Ada nomer lagu yang kepengen ada unsur musik Bali-nya. Maka diajaklah Kompiang Raka. Langsung teringatnya ya Kompiang Raka, jelas Ian Antono.

Kerjasama kami berlangsung lancar. Kompiang Raka sangat kooperatif dan bersedia menjalankan konsep dari kami. Kerjasama kami berlangsung untuk album perdana  dan Laskar.

Untuk konser perdana Gong 2000, Pak Kompiang menurunkan gamelan Bali full-set. Ada 16 pemain kalau tak salah, terang Ian Antono. Berikutnya tampil dengan set-piece yang lebih kecil.

Kemudian, lanjut Ian Antono, kami mengajak lagi Kompiang Raka dan gamelan Balinya untuk tampil bersama God Bless. Waktu dengan God Bless, Kompiang tampil dengan ensemble beberapa musisi gamelannya, jelas Ian Antono.

Sementara itu musisi Dwiki Dharmawan juga memiliki kenangan tersendiri tentang Kompiang Raka. “Kami tampil sebagai undangan ke Jepang di suatu waktu. Saya, Sapto Rahardjo, Tony Prabowo dan Kompiang. Kami mempresentasikan musik kontemporer dengan nuansa musik tradisi Nusantara, dan memperoleh respon positif public musik Jepang.”

Setelah itu, Dwiki tampil dengan para pemain gamelan dan penari Saraswati di Java Jazz Festival, tahun 2012. Mereka berkolaborasi dan tampil selama 3 hari, dengan penyanyi Bobby Mc Ferrin. “Kenangan indah dan seru. Kami tampil dadakan sebenarnya, atas rikues Peter Gontha. Dan tanpa pernah latihan sebelumnya. Alhamdulillah lancar dan Bobby Mc Ferrin senang betul,”Dwiki mengenang momen tersebut.

Kemudian ada nama Marusya Nainggolan. Sekian waktu bekerjasama intens sehari-hari dengan Kompiang Raka. Mereka pernah bekerja satu atap di manajemen Gedung Kesenian Jakarta. Marusya Nainggolan sebagai direktur utama. Kompiang Raka sebagai Direktur Artisitk.

“Pak Kompiang partner bekerja yang sangat menyenangkan. Program-program di GKJ saat ada kami, dapat berlangsung relatif lancar, satu demi satu. Kerjasama dengan pihak luar juga terbilang lancar. Saya dan Kompiang saling mengerti dan saling mengisi.”

Marusya Nainggolan juga teringat, Pernah bermain bareng Kompiang Raka, dengan juga melibatkan nama Trisuci Kamal. Dengan juga koreografi oleh Farida Oetoyo. Acara konser itu digelar di beberapa negara, Jakarta, Italia, Korsel dan USA. Pada suatu ketika, mereka membuat kehebohan di konser tersebut. Pak Kompiang bermain gamelan Bali di atas piano yang dimainkan Marusya.

Ada begitu banyak kenangan manis, kenangan indah. Termasuk hal-hal seru, yang diingat banyak kamu musik tanah air, tentang seorang I Gusti Kompiang Raka. Dan khusus denganku, Pak Kompiang memang teman seperjalanan yang menyenangkan. Begitu banyak ceritanya, penuh cerita menarik. Sama penuhnya seperti isi paspornya, penuh cap berbagai negara.

Perjalanan belasan jam dari Jakarta menuju USA, Jakarta ke Los Angeles, lalu New York pulang ke Jakarta, jadi tak berasa bored. Saat Pak Kompiang berkisah tentang perjalanan bermusiknya. Semua tinggal kenangan. Nan indah dan tak terlupakan.

Suami dari IGAA Ratnawati dan ayah dari I Gusti Ayu Sri Mertawati Raka Putri dan I Gusti Ngurah Gde Dyaksa Raka Putra ini, wafat pada 19 Februari 2026 di RS Husada Jakarta, saat dalam perawatan intensif karena diabetesnya.

Selamat jalan, Pak Kompiang Raka. Kami kehilangan dirimu….. XPOSEINDONESIA/dM

Must Read

Related Articles